Aktivisme atau Drama? Ketika Konflik Internal Menggerus Kredibilitas Gerakan

by -48 Views

LintasKriminal.co.id | Banyuwangi
Oleh: Aktivis Muda
Di tengah berbagai persoalan sosial yang membutuhkan perhatian serius, publik justru disuguhkan pemandangan yang kurang elok dari sebagian kalangan aktivis sendiri: konflik terbuka yang berulang, saling sindir di ruang publik, hingga upaya menjatuhkan satu sama lain. Fenomena ini bukan lagi sekali dua kali terjadi, melainkan sudah menjadi pola yang terus terulang.

Perbedaan pendapat tentu merupakan hal yang wajar dalam dunia aktivisme. Bahkan, dialektika adalah bagian penting dari proses menemukan solusi terbaik. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan tersebut berubah menjadi konflik personal yang dipertontonkan secara terbuka, seolah lebih mementingkan ego dibandingkan substansi perjuangan.

Alih-alih memperkuat gerakan, kondisi ini justru melemahkan kepercayaan publik. Aktivis yang seharusnya menjadi representasi suara kritis masyarakat, malah terkesan terjebak dalam dinamika internal yang tidak produktif. Publik pun mulai mempertanyakan: apakah ini benar perbedaan prinsip, atau sekadar persaingan personal yang dibungkus dengan narasi perjuangan?
Lebih jauh lagi, pola konflik yang berulang ini memberi kesan bahwa sebagian aktivis belum mampu mengelola perbedaan secara dewasa.

Kritik yang seharusnya membangun berubah menjadi serangan personal, sementara ruang diskusi yang sehat semakin menyempit. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin gerakan yang ada akan kehilangan arah dan legitimasi di mata masyarakat.
Momentum ini seharusnya menjadi bahan refleksi bersama.

Aktivisme bukan sekadar soal lantang bersuara, tetapi juga tentang bagaimana menjaga integritas, etika, dan fokus pada tujuan utama: memperjuangkan kepentingan publik. Kedewasaan dalam menyikapi perbedaan adalah kunci agar gerakan tetap solid dan tidak mudah terpecah.

Pada akhirnya, publik tidak membutuhkan tontonan konflik internal yang berulang. Yang dibutuhkan adalah kerja nyata, gagasan yang solutif, dan sikap yang mencerminkan kedewasaan dalam berjuang. Jika tidak, maka kekhawatiran bahwa aktivisme hanya menjadi “panggung drama” bukan lagi sekadar kritik, melainkan kenyataan yang sulit dibantah.