Rencana penerapan Rancangan Peraturan Daerah Kawasan Tanpa Rokok (Raperda KTR) yang lebih ketat di DKI Jakarta diperkirakan akan memberikan pengaruh besar terhadap sektor pariwisata, khususnya bisnis hotel. Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jakarta memprediksi bahwa 50 persen dari hotel akan mengalami dampak jika aturan tersebut dijalankan.
“Menurut survei internal, setengah dari pelaku usaha menganggap aturan ini dapat memberatkan bisnis hotel dan restoran,” kata Anggota BPD PHRI Jakarta, Arini Yulianti, Minggu (7/9) sebagaimana dilaporkan dariAntara.
Berdasarkan pendapat PHRI, aturan yang terlalu ketat berisiko mengurangi minat wisatawan dalam memilih Jakarta sebagai tujuan perjalanan. Tamu hotel, khususnya wisatawan asing maupun lokal yang datang untuk liburan atau keperluan bisnis, dikhawatirkan akan beralih ke kota lain di Indonesia yang memiliki aturan lebih fleksibel.
Survei yang dilakukan PHRI DKI Jakarta pada April 2025 menunjukkan bahwa 96,7 persen hotel mengalami penurunan tingkat okupansi. Keadaan ini semakin memburuk akibat tindakan efisiensi yang memaksa pemilik usaha untuk memangkas jumlah karyawan. Padahal, sektor hotel dan restoran di Jakarta menyediakan lebih dari 603 ribu pekerja dan berkontribusi sekitar 13 persen terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) DKI.
“Yang diperlukan adalah kebijakan KTR yang seimbang. Jangan sampai aturan ini hanya berupaya meraih label kota global tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap pariwisata dan perekonomian lokal,” tambah Arini.
Senada, Wakil Sekretaris Umum Apindo, Anggana Bunawan, menganggap bahwa yang paling diperlukan oleh pelaku usaha dalam situasi ekonomi saat ini adalah kejelasan dan keselarasan kebijakan.
“Industri pariwisata masih berusaha menyesuaikan diri setelah pandemi. Pemerintah sebaiknya memberikan kejelasan dan kebijakan yang selaras, bukan menambah beban baru,” katanya.
Industri pariwisata Jakarta saat ini sedang bersaing sengit dengan kota-kota besar lain di Asia Tenggara. Jika aturan KTR yang lebih ketat diberlakukan tanpa penyesuaian, tidak menutup kemungkinan Jakarta akan kehilangan daya tariknya bagi para wisatawan.
