Cemari Nama Baik, Beberapa Media Online Jaringan Jurnalis Jembrana, Langgar Kode Etik Jurnalis

oleh -403 views

Jakarta, ( LK ) – Munculnya pemberitaan yang dirilis oleh beberapa media online di Jembrana Bali, sempat mengejutkan seluruh keanggotaan Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia yang saat ini tengah berbenah diri untuk mempersiapkan proses Registrasi di Dewan Pers.

Setelah sekian lama tertidur, organisasi AWDI yang menjadi salah satu organisasi profesi yang turut menandatangani Lahirnya Undang Undang No.40 Th.1999 tentang Pers.

AWDI juga tercatat sebagai salah satu Organisasi yang turut memberikan penguatan terbentuknya Dewan Pers dan juga Perumusan Kode Etik Jurnalistik ; (lihat Buku Mengenal Dewan Pers Th.2006).

Pemberitaan yang menyebutkan bahwa salah satu Anggota AWDI disebut sebagai ” Oknum mengaku Wartawan…”, Itu sudah melanggar Kode Etik dan HARUS dilakukan Ralat.

Salah satu Penasehat dan Pakar DPP AWDI yang kebetulan beliau juga Organik Dewan Pers mengatakan, ” Saya menerima konfirmasi dari seorang penyidik di Polres Jembrana, terkait apakah AWDI terdaftar di Dewan Pers ? dan secara jelas beliau menyampaikan bahwa memang AWDI adalah bagian tidak terpisahkan dari lahirnya Dewan Pers.”

Saya yang juga mendapat konfirmasi yang sama menjelaskan eksistensi mengenai AWDI. Tutur Ali Nasrullah selaku Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia.

Dari aspek legalitas, AWDI sesuai dengan amanat AD/ART, tahapan awal organisasi yakni menggelar kongres. Kemudian hasil kongres akan digunakan untuk memproses seluruh pembaharuan pengesahan Kemenkumham dan Kemendagri, lalu kita registrasikan di Dewan Pers, Terang Ali.

Dan mengenai keberadaan Dewa Ernanda, adalah memang benar turut hadir dalam kongres dan kita tetapkan sebagai Ketua DPW AWDI Provinsi Bali.
Dewa Ernanda juga tercatat dalam box redaksi di Koran Wisnu, media-istana.com, jurnalwicaksana.com, beritahukumnasional.net dan Lintas Kriminal.co.id

Jelas, tulisan dalam pemberitaan yang ada dan beredar pada group Jaringan Jurnalis Jembrana (JJJ) mencemarkan nama baik Dewa Ernanda beserta rekannya, tidak dilakukan konfirmasi terlebih dahulu sebelum dinaikkan menjadi berita pada media mereka.

Di tempat berbeda, Eman Melayu begitu ia akrab di sapa Pimpinan Redaksi media LintasKriminal.co.id ini menyatakan hal yang sama, menyayangkan perbuatan kawan kawan media Jaringan Jurnalis Jembrana (JJJ) yang sudah menulis bahwa saudara Dewa Ernanda dan rekannya adalah ” Oknum Mengaku Wartawan “, sedangkan jelas saudara Dewa Ernanda terdaftar di Box Redaksi kami.

Kami sudah menginstruksikan Ketua Bidang OKK (Organisasi, Keanggotaan dan Kaderisasi), untuk menindaklanjuti permasalahan ini. Dan salah satu Tim Kesekjenan juga sudah saya arahkan untuk melakukan konfirmasi dan klarifikasi, agar permasalahan ini segera selesai, Lanjut Ali.

Saya hanya menyayangkan, kenapa Sdr. Dewa sampai ditahan lebih dari 24 jam di Mapolres Jembrana, dan dimana kebijakan Kapolres Jembrana dalam hal menyikapi perihal ini. Karena menurut kami, substansi masalahnya adalah KEJANGGALAN ANGGARAN yang tercantum di Proposal.

Dan secara organisasi, kami Tidak Memanfaatkan Issue Covid 19 untuk aksi tersebut, namun AWDI secara kelembagaan sudah menghadap beberapa Pimpinan Kelembagaan di Pusat untuk Program POSKO SOLIDARITAS AWDI MELAWAN PANDEMI VIRUS CORONA, yang sampai saat ini masih dalam tahap pendataan Posko yang dibentuk oleh seluruh Jaringan AWDI di Indonesia.

Proposal yang beredar di Bali, itu memang sepenuhnya secara otonom di buat oleh DPW AWDI Bali. Dan menurut hemat saya, kalau memang Proposal itu keliru, maka saya sudah meminta kepada jajaran AWDI Bali untuk segera menarik seluruh Proposal dan melakukan perubahan serta menggalang kerjasama dengan kawan kawan Jurnalis lainnya di Bali untuk bersama sama Melawan Pandemi Virus Corona sesuai dengan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.

Pihak Dandim 1617 Jembrana juga sudah kami konfirmasi. Dan pak Dandim menyerahkan kebijakan kepada Kapolres Jembrana. Yang ingin dipertanyakan, kenapa Sdr. Dewa tidak di ijinkan pulang ke rumah, bahkan diminta menginap di Mapolres dengan alasan menunggu persetujuan Kasatreskrim dan Kapolres.

Dan menurut pengakuan, Sdr. Dewa baru di ijikan pulang sekitar Pkl. 15.20 WIT.
Ini akan menjadi catatan penting bagi kami sebagai Insan Pers, terkait perlakuan penyidik Polres Jembrana yang tidak mengedepankan prinsip praduga tak bersalah.

Kami secara kelembagaan, memiliki stakeholder pembina dan penasehat yang terdiri dari unsur TNI dan POLRI, artinya kami memiliki kedekatan kemitraan dengan dua institusi ini.

Dan catatan kejadian di Jembrana akan menjadi satu hal yang perlu dijadikan pembelajaran bagi seluruh jajaran AWDI di daerah se Indonesia.

Dan kami juga akan melayangkan Surat kepada Dewan Pers terkait eksistensi JJJ (Jaringan Jurnalis Jembrana), apakah JJJ itu organisasi yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers. Pungkas Ali selaku Sekjen DPP-AWDI.

 

Mya

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *