Lintaskriminal.co.id –Berikut adalah daftar kabupaten dan kota di Jawa Barat yang terdapat kasus keracunan MBG, jumlah korban paling banyak terjadi di empat kecamatan.
Baru-baru ini, kasus keracunan makanan yang disediakan secara gratis (MBG) semakin sering terjadi di Jawa Barat.
Ratusan siswa dari berbagai tingkat pendidikan di beberapa kabupaten dan kota menjadi korban keracunan MBG tersebut.
Di antara daerah yang terkena dampak dan paling mencolok sebagai wilayah dengan jumlah korban terbesar, di mana angkanya melebihi seribu jiwa, terdapat dua kecamatan.
Diketahui bahwa MBG adalah program andalan yang diperkenalkan oleh Prabowo – Gibran sejak menjabat dalam pemerintahan.
Peristiwa keracunan MBG ini berawal dari uji coba penerapan program MBG di beberapa daerah di Indonesia.
Bahkan kejadian keracunan MBG tidak hanya terjadi di Jawa Barat.
Dikutip dari 10drama.com, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menyebutkan bahwa total kasus keracunan MBG di tingkat nasional mencapai 4.711 kasus yang tersebar di tiga wilayah utama di Indonesia.
Namun, daerah yang memiliki jumlah korban keracunan MBG terbanyak adalah Jawa Barat dengan 2.606 kasus.
Sementara itu, lebih dari 2.000 kasus keracunan MBG tersebut telah diakumulasikan sejak Januari 2025.
Berikut ini Lintaskriminal.co.id -kumpulkan daftar kabupaten dan kota di Jawa Barat yang tercatat memiliki kasus keracunan MBG.
1.Kabupaten Indramayu
15 Januari 2025 di Sindang Kenanga: 6 korban.
22 Agustus 2025 di Indramayu, Gabuswetan: dua orang korban.
2. Kabupaten Karawang
82 orang menjadi korban pada 14 Agustus 2025 di SPPG Karawang, Malajaya.
3. Kabupaten Cianjur
21 April 2025 di Limbangansari, Cianjur: 254 orang korban
Enam puluh siswa MAN 1 Cianjur mengalami gejala muntah, mual, dan pusing serta harus dirawat di RSUD Sayang Cianjur, Senin (21/4/2025).
Sekitar 19 siswa SMP PGRI 1 Cianjur mengalami gejala muntah, mual, dan pusing setelah mengonsumsi MBG pada Senin (21/4/2025).
Sebanyak 12 santriwati dari Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Qur’an Assaten, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur menunjukkan gejala keracunan setelah mengonsumsi MBG pada Rabu (20/8/2025).
Sembilan siswa MTs Islamiyah Cianjur, di Jalan Prof. Moch Yamin, Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur harus dirawat di RSUD Sayang Cianjur setelah mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi MBG, pada Rabu (3/9/2025).
Ada 17 siswa SMP Budi Luhur yang berada di Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur mengalami tanda-tanda keracunan setelah meminum MBG.
Tujuh belas siswa SMP Budi Luhur di Desa Sarampad, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur menunjukkan tanda-tanda keracunan setelah mengonsumsi MBG.
Terbaru pada 25 September 2025, puluhan siswa SDN Taruna Bakti Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, diduga mengalami keracunan MBG.
Kepala Sektor Cugenang, Kompol Usep Nurdin menyebutkan, terdapat 30 siswa SDN Taruna Bakti yang menunjukkan tanda-tanda keracunan setelah mengonsumsi MBG tersebut.
4. Kota Bandung
30 April 2025 di Coblong, Kota Bandung: 320 orang terluka.
5. Kabupaten Tasikmalaya
Pada awal bulan Mei 2025, diberitakan sekitar 400 siswa dari jenjang TK hingga SMP di Tasikmalaya diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG.
Seperti pada 1 Mei 2025 di Manggungjaya, Tasikmalaya: 38 korban.
Laporan terbaru bulan September mengungkapkan bahwa puluhan siswa lainnya juga menjadi korban.
Jumlah siswa yang menjadi korban keracunan MBG terjadi di Kecamatan Cikalong dan Karangnunggal sebanyak 52 orang.
Angka tersebut terdiri dari 13 siswa yang berasal dari PAUD dan SD di Kecamatan Cikalong serta 39 siswa TK dan SD di Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya.
6. Kabupaten Sukabumi
15 korban pada 6 Agustus 2025 di Sukabumi, Cilodong.
Terbaru pada 24 September 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi melaporkan jumlah korban keracunan MBG mencapai 32 orang.
7. Kabupaten Garut
Dinas Kesehatan Garut mengidentifikasi jumlah korban keracunan MBG pada 18 September 2025 di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut: 569 hingga 657 korban.
BGN memastikan jumlah korban tersebut berasal dari 150 kasus keracunan MBG di Kabupaten Garut.
8. Kabupaten Sumedang
Pada tanggal 25 September 2025, puluhan siswa di Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang dilaporkan mengalami keracunan setelah memakan makanan dari program MBG.
Dugaan kasus keracunan terjadi di tiga institusi pendidikan, yakni SMK Win Ujungjaya, SMK Rimba Bahari Situraja, dan SMA 1 Tomo.
Berdasarkan data yang dikumpulkan Tribun Jabar.id, Jumat (26/9/2025) sore, sebanyak 159 siswa telah diizinkan pulang, sedangkan 5 orang pasien masih dalam perawatan.
Sampai pukul 15.30, tersisa 5 orang yang masih dalam perawatan, dengan 3 di antaranya dirawat di RS Cimalaka dan 2 lainnya di Puskesmas Ujungjaya,” ujar Kabag Humas Pemkab Sumedang, Wudan Lukmanul Hakim kepada Tribun Jabar.id, Jumat sore.
Total 164 siswa di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG).
9. Kabupaten Bandung Barat
Kasus keracunan MBG yang paling banyak menimbulkan korban terjadi di Kabupaten Bandung Barat.
Kepala Staf Presiden (KSP), M Qodari menyampaikan data jumlah korban keracunan massal MBG di Bandung Barat, yaitu sebanyak 1.315 siswa.
Total korban keracunan massal MBG tersebut mencakup semua kasus yang terjadi sejak Senin (22/9/2025) hingga Kamis (25/9/2025).
Pertama pada Senin (22/9/2025) jumlah korban keracunan tercatat sebanyak 475 siswa di Kecamatan Cipongkor. Kemudian pada Rabu (24/9/2025) kejadian serupa kembali terjadi di dua kecamatan, yaitu Cipongkor dan Cihampelas. Berdasarkan data sementara, terdapat 500 korban di Kecamatan Cipongkor dan 60 korban di Kecamatan Cihampelas.
Dengan demikian, jika dijumlahkan, jumlah korban keracunan MBG di Bandung Barat mencapai 1035 siswa dari dua kecamatan, yaitu Cipongkor dan Cihampelas.
Dengan jumlah korban yang mencapai ribuan, Jawa Barat menghadapi krisis kesehatan masyarakat yang serius setelah beberapa kejadian luar biasa (KLB) keracunan massal yang diduga kuat berasal dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kabupaten Bandung Barat menjadi perhatian utama setelah dua kejadian keracunan massal terjadi secara berurutan pada bulan September 2025 di dua kecamatan, yaitu Cipongkor dan Cihampelas, dengan jumlah korban mencapai lebih dari 1.333 orang.
Sementara itu, satu wilayah Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut mencatatkan jumlah korban terbanyak sebanyak 657 orang.
Selain itu, berdasarkan data dari BGN, jumlah penduduk di Kecamatan Cianjur di Limbangansari mencapai 254 orang dan Kecamatan Coblong di Kota Bandung sebanyak 320 korban.
Komentar Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada siswa yang meninggal dunia akibat MBG di Jawa Barat meskipun beberapa kejadian diduga keracunan terjadi di berbagai wilayah.
Dedi Mulyadi merasa prihatin karena kejadian tersebut menimbulkan trauma pada anak-anak sekolah yang mengonsumsinya.
“Sampai saat ini tidak ada korban jiwa, tetapi meskipun tidak meninggal, hal itu tetap menimbulkan trauma. Trauma tersebut terjadi pada anak-anak yang seharusnya mendapatkan asupan gizi, namun malah mengalami keracunan, sehingga menjadi pengalaman traumatis,” kata Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Kota Bogor, Rabu (24/9/2025), dilansir dari TribunnewsBogor.com.
“Traumanya nanti mereka tidak lagi ingin mengonsumsi makanan yang disajikan, padahal makanan tersebut disediakan setiap hari. Inilah yang menjadi dasar perlunya dilakukannya evaluasi terhadap penyelenggara kegiatan,” kata pria yang akrab disapa KDM (Kang Dedi Mulyadi) itu.
Oleh karena itu, katanya, sekarang perlu dievaluasi dan dipastikan apakah vendor yang membantu menyediakan MBG mampu atau tidak dalam menyediakan makanan dengan baik.
Termasuk pula pertanyaan mengenai kelayakan menu MBG yang bernutrisi yang disajikan.
“Pertama, penyelenggara kegiatan tersebut mampu atau tidak. Yang kedua, hidangan yang disajikan sesuai dengan harganya atau tidak. Dua hal ini akan menjadi objek penyelidikan saya,” katanya.
“Artinya, saya akan melakukan evaluasi terhadap dua hal tersebut. Pertama, apakah benar jumlahnya Rp10.000. Yang kedua, apakah mampu atau tidak. Jika ternyata tidak mampu, dan jumlah Rp10.000 tersebut berubah, mengalami penurunan, maka harus dievaluasi juga. Orang yang menjalankan amanah tersebut sebagai vendor pelaksana, berarti tidak sesuai dengan harapan,” ujar Dedi Mulyadi.
