Ibrahim Gugur Usai Dievakuasi dari Reruntuhan Ponpes Al Khoziny

by -106 Views

jatim.Lintaskriminal.co.id –, SURABAYA – Kejadian runtuhnya struktur bangunanPonpes Al KhozinyBuduran, Sidoarjo, menyimpan berbagai kisah pilu dari keluarga korban.

Salah satu kisah menyentuh datang dari Maulana Alfan Ibrahimavic (13), warga Jalan Kalianyar Kulon, Kelurahan Bongkaran, Kecamatan Pabean Cantian, Surabaya.

Bibi Korban, Juliana mengungkapkan bahwa selama hidupnya, Ibrahim dikenal sebagai anak yang baik, diam, dan tidak suka bersikap aneh-aneh.

Menurutnya, korban mulai menimba ilmu sebagai santri sekitar tiga bulan lalu, setelah tamat dari bangku sekolah dasar.

“Sejak kecil saya sudah ingin mondok di sini. Paman saya adalah santri di sini. Saya juga lulusan, bahkan ibu kandung saya hingga adik saya juga lulusan,” kata Juliana, Senin (6/10).

Ia menyampaikan, Ibrahim ingin mengikuti pendidikan di pondok pesantren itu karena ingin berada dekat dengan kerabatnya, Kevin.

“Ditanya, katanya ingin menginap di sini agar ikut bersama Kevin, anak saya sendiri, yang juga menjadi korban kejadian. Ikut shalat juga terkena tumpukan,” katanya.

Sayangnya, saat kejadian, nyawa Ibrahim tidak dapat diselamatkan, sementara Kevin berhasil keluar dengan selamat.

“Kevin merangkak mencari jalan, lalu keluar dari lubang. Ia dipanggil temannya untuk mengangkat Baim agar membantu adiknya, langsung ia berlari masuk kembali untuk menyelamatkan adik itu,” katanya.

Saat kejadian, kata Juliana, Kevin mendengar suara benda yang jatuh. Namun, ia mengabaikannya karena sedang beribadah.

Di sisi lain, Juliana juga kehilangan sepupu suaminya, Muhammad Reza Syifa Akbar, yang hingga kini masih belum ditemukan.

“Kevin sempat mencari Reza, tetapi tidak menemukannya. Akhirnya dia hanya memangku adiknya, saat itu Baim masih sadar meskipun luka-luka. Dia sempat berkata ‘mas’ dengan suara pelan. Setelah dibawa ke rumah sakit, Baim tidak tertolong,” jelasnya.

Meskipun mengalami rasa sedih yang sangat dalam, Juliana mengatakan ia menerima takdir dengan ikhlas. Ia percaya bahwa korban yang meninggal berada dalam keadaan Husnul Khatimah.

“Kematiannya saat berwudu, shalat, saat sujud,” katanya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan, mulai dari pemerintah setempat, petugas kelurahan, hingga pihak pondok pesantren.

“Banyak orang yang membantu, seperti Pak Eri dari Pemkot Surabaya, Pak Lurah, dan Pak Camat, alhamdulillah mendapatkan banyak perhatian,” ujar Juliana.(mcr23/jpnn)