Ini Fakta Pungli di SMPN 1, Orangtua Terpaksa Tanda Tangan

oleh -452 views

RIAU (LK) – Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Pangkalan Kerinci dan Komite diduga manipulasi data tentang rapat komite terkait pungutan liar (Pungli) baju seragam yang ditetapkan untuk siswa yang lulus di sekolah favorit di Pangkalan Kerinci itu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Lintaskriminal.co.id di lapangan, penetapan harga pungli seragam sekolah di SMPN 1 Pangkalan Kerinci ditetapkan berdasarkan kesepakatan sepihak oleh komite dan pihak sekolah, sedangkan mengenai rapat yang disebut-sebut oleh kepala sekolah adalah ‘Hoax’.

Salah seorang wali murid yang ingin namanya dirahasiakan kepada Lintaskriminal.co.id mengatakan tidak mengetahui perihal rapat yang diselenggarakan pihak sekolah dan komite, begitu juga dengan besaran pungutan baju sekolah yang ditetapkan tidak pernah diambil kesepakatan.

Dikatakannya, sebagai wali murid ia hanya datang ke sekolah untuk membayar pungutan tersebut, begitu juga dengan tanda tangan yang dibubuhi dalam absensi dan kesepakatan yang belakangan dijadikan SPJ bahwa itu adalah absensi kehadiran rapat.

“Saya tidak pernah ikut rapat, kita datang ke sekolah, bayar uang seragam pada bendahara, lalu kita diminta untuk menandatangani kesepakatan, absen juga, kalau rapat itu tidak ada,” pungkasnya.

Hal senada juga diungkapkan salah satu orangtua di Pangkalan Kerinci mengaku terpaksa dengan keputusan sekolah dan komite terkait harga seragam sekolah itu, hanya saja, saat mereka tidak setuju dengan keputusan sekolah itu, kemungkinan untuk tidak diterima atau diskriminasi ada.

“Siapa yang tidak terpaksa, kalau dibandingkan dengan beli seragam sekolah diluar, harganya setengah dari yang ditetapkan oleh komite dan pihak sekolah. Tapi kita takut kalau tidak menandatangani surat itu, nanti ada masalah di kemudian hari,” tandasnya.

Tidak sampai disitu saja, pembuktian bahwa data Pungli seragam berdasarkan kesepakatan sekolah adalah ketika salah seorang guru mengaku bahwa yang menentukan siapa yang akan menjahit baju tergantung keputusan kepala sekolah.

“Kalau untuk siapa yang menjahit, yang menentukannya kepala sekolah, yang lain-lain saya tidak tahu,” pungkas Asril, salah seorang guru.

Sementara itu, ketika Lintaskriminal.co.id melakukan konfirmasi kepada kepala sekolah, hingga berita ini diturunkan belum memberikan tanggapan.

Penulis : Yusman

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *