Ini Kata MUI Sumbar Soal Warga Minang jadi Korban Kerusuhan di Wamena

by -603 views

PAPUA, Lintaskriminal.co.id – Sembilan dari 10 orang warga asal Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) yang menjadi korban kerusuhan di Wamena Senin (23/9) kemarin dinyatakan meninggal dunia, sedangkan satu orang lainnya hingga kini masih menjalani perawatan di RS Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua.

Informasi yang dihimpun Lintaskriminal.co.id dari berbagai sumber, delapan dari sembilan jenazah tersebut telah dipulangkan ke kampung halamannya dan mendarat hari Kamis (26/9) di Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Sebagaimana diketahui, kerusuhan di Wamena banyak memakan korban, hal ini tentu menarik simpati dari berbagai pihak, tidak hanya dari pemerintah dan organisasi lainnya, namun ada juga dari kalangan alim ulama di Minangkabau yang turut menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya.

Rasa duka dan keprihatinan yang bercampur dengan kekecewaan ulama itu disampaikan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar Gusrizal Gazahar. Buya Gusrial melalui akun buya_dt pada media sosial (Medsos) Instagram telah mengunggah sebuah photo pada Kamis (26/9). Berikut untaian kata Buya tersebut.

“Kami Merantau Bukan Mencari Lawan”

Nyawa anak bangsa melayang, putera-puteri minangkabau menjadi korban di dalam lingkaran wilayah NKRI yang diperjuangkan oleh para tokoh kita dengan tumpahan darah dan air mata.

Sebagai seorang muslim, istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan lantunan doa serta menjadikan kesabaran pakaian adalah suatu sikap keimanan.

Namun sebagai warga negara dan rakyat bangsa ini, apakah tak perlu dan terlarang kami bertanya, “dimana kehadiran penguasa dan mereka yang menikmati tetesan keringat rakyat selama ini”?

Kalau dalam kondisi seperti ini, penguasa tetap absen dan hanya sama-sama bisa meratapi mayat yg telah berjatuhan, akankah kami mengambil kesatuan langkah dengan menggelar rapat akbar “RANAH MINANG MANGISA KARIH” sebagai isyarat bahwa tidak begitu saja darah tertumpah sia-sia dan tak semurah itu nyawa melayang didalam negara kesatuan yg selama ini kami cintai ???!!!

Dibunuhnya putra-putri minangkabau di papua tak cukup hanya mengundang ucapan duka !!!

Kalau memang kita hidup bernegara, kami patut bertanya, dimana tuan-tuan yang mengaku menjadi penguasa ???!!!

Sementara itu sebelumnya, pemerintah telah mengungkapkan keprihatinan atas jatuhnya korban jiwa dalam unjuk rasa yang berujung ricuh di Wamena, Jayawijaya, Papua, Senin (23/9).

Sampai saat ini terdata sebanyak 22 warga sipil yang tewas dalam peristiwa besar tersebut.

“Pemerintah dan pasti masyarakat sangat prihatin atas peristiwa ini. Sungguh kita tidak ingin ada prajurit, masyarakat sipil yang cukup banyak jumlahnya meninggal, ada polisi yang luka,” kata Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko.

Ini disampaikan Moeldoko didampingi Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, usai menerima para ketua DPRD kabupaten/kota se Papua dan Papua Barat di KSP, Selasa (24/9).

“Kami sangat berharap bahwa semua persoalan ini nantinya bisa diselesaikan, tetapi kami juga paham penyelesaian Papua menyeluruh, holistik, tidak bisa hanya pendekatan keamanan,” jelas mantan Panglima TNI itu.

Moeldoko menyebutkan, pendekatan untuk menyelesaikan persoalan di Papua juga harus menyentuh sisi kebudayaan, ekonomi, kesejahteraan dan pendekatan lain yang lebih manusiawi dan bermartabat.

Disinggung tentang penarikan pasukan dari Bumi Cenderawasih sebagaimana permintaan dari sejumlah tokoh masyarakat Papua dan Papua Barat, Moeldoko menyatakan tuntutan itu perlu dikaji lebih dalam.

“Kami perlu pengkajian lebih dalam karena tugas negara melindungi segenap bangsa dan warganya. Di Papua itu yang ada di sana berbagai etnis, masyarakat pendatang, dan seterusnya. Semua itu membutuhkan kepastian keselamatan pengamanan,” tegas Moeldoko.

Sumber: Internet

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *