Ibu yang sedang mengandung biasanya akan melalui proses persalinan pada usia kehamilan 38 hingga 40 minggu, baik melalui jalan lahir alami maupun operasi caesar. Namun, bagaimana jika usia kehamilan melebihi 42 minggu? Keadaan ini disebut dengan kehamilan terlambat. Apakah berbahaya? Simak penjelasannya ya, Bunda.
Kehamilan yang terlalu lama terjadi ketika seorang wanita mengalami kehamilan setelah masa waktunya. Dalam kondisi ini, kehamilan berlangsung lebih dari 42 minggu. Padahal, risiko dari kehamilan yang melebihi waktu normal meningkat.
Melansir BirthInjuryGuide,sebagian besar wanita melahirkan bayinya antara minggu ke-37 hingga ke-40, kondisi ini dianggap aman dan wajar. Kehamilan yang melebihi bulan atau post-term pregnancyterkait dengan masalah kesehatan janin dan ibu yang mengandung.
Apa itu kehamilan serotinus?
Kehamilan yang terlalu lama merupakan kondisi kehamilan yang berlangsung lebih dari 42 minggu (294 hari) sejak hari pertama siklus haid terakhir (HPHT), namun bayi belum juga lahir. Kehamilan ini sering disebut juga sebagai kehamilan yang terlambat, ataupost-term pregnancy.
Ibu yang mengalami kehamilan terlambat mungkin merasa lelah dan mulai merasa cemas. Ketika tanggal perkiraan kelahiran tiba namun berlalu tanpa tanda-tanda apa pun. Ibu masih tetap dalam kondisi hamil.
Apa penyebab kehamilan serotinus?
Ahli kesehatan masih belum sepenuhnya memahami penyebab kehamilan yang terlambat. Kimberly Langdon M.D., seorang dokter spesialis kandungan dan ginekologi yang telah pensiun serta memiliki sertifikasi, menjelaskan bahwa selain kesalahan dalam perhitungan tanggal, para ahli menganggap ada beberapa faktor risiko yang bisa memengaruhi terjadinya kehamilan yang terlambat, antara lain:
- Kehamilan lewat waktu sebelumnya
- Ibu obesitas
- Defisiensi sulfatase pada plasenta
- Kelainan sistem saraf pusat
- Anensefali
Risiko kehamilan serotinus
Kehamilan yang terlambat atau kehamilan yang melebihi waktu normal dikaitkan dengan berbagai komplikasi pada janin, bayi baru lahir, dan ibu. Risiko tersebut meningkat setelah kehamilan melebihi waktu yang ditentukan dan secara signifikan meningkat setelah 41 minggu kehamilan.
Kehamilan yang terlambat dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian janin dan bayi baru lahir, serta meningkatnya risiko kematian dalam tahun pertama kehidupan. Peningkatan angka kematian ini diduga disebabkan oleh faktor-faktor seperti gangguan aliran darah plasenta, aspirasi mekonium, dan infeksi intrauterin.
MenurutAkademi Keluarga Dokter Amerika(AAFP), terdapat berbagai ancaman kesehatan serius yang berkaitan dengan kehamilan yang terlalu lama, yaitu:
1. Makrosomia janin
Janin dengan makrosomia adalah bayi yang beratnya melebihi 8 pon 13 ons saat lahir. Artinya, bayi tersebut memiliki ukuran yang sangat besar dibandingkan dengan usia kehamilannya. Bayi yang terlalu besar dapat menimbulkan kesulitan selama proses persalinan. Selain itu, kondisi ini juga berisiko menyebabkan diabetes, obesitas, dan gangguan metabolik pada anak.
Ibu juga menghadapi risiko saat melahirkan bayi yang berukuran besar, seperti terjadinya robekan rahim, luka pada area genital, serta pendarahan berlebihan setelah persalinan.
2. Insufisiensi plasenta
Kekurangan plasenta, yang juga disebut sebagai gangguan sirkulasi plasenta-rahim, terjadi ketika plasenta tidak mampu menyediakan oksigen dan nutrisi yang cukup untuk bayi. Keadaan ini bisa terjadi karena plasenta yang berukuran kecil atau karena plasenta tidak bekerja secara optimal.
Plasenta memberikan darah, oksigen, dan nutrisi kepada janin melalui tali pusat. Setelah kehamilan mencapai 37 minggu, plasenta mencapai ukuran terbesarnya dan kemampuannya mulai menurun. Pada usia 41 minggu, fungsinya sudah sangat berkurang. Semakin lama janin tidak menerima cukup nutrisi dan oksigen, semakin tinggi risiko mengalami berbagai gangguan kesehatan.
3. Risiko pada ibu
Ibu juga berisiko menghadapi masalah kesehatan yang serius jika kehamilan mereka berlangsung melebihi 40 minggu. Ibu berpotensi mengalami gangguan selama proses persalinan dan kelahiran, serta komplikasi yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan setelah melahirkan.
Risiko yang sering terjadi meliputi pendarahan setelah persalinan, infeksi bakteri, serta infeksi di area perineum, dan bisa saja memerlukan tindakan operasi caesar.
Pada kehamilan yang terlambat, risiko komplikasinya juga lebih besar. Perempuan yang mengalami kehamilan terlambat memiliki kemungkinan lebih tinggi menghadapi:
- Persalinan yang lebih lama
- Robeknya vagina
- Pisau bedah atau pengangkatan vakum saat persalinan
- Persalinan caesar
- Infeksi
- Komplikasi luka
- Masalah plasenta
- Kadar cairan ketuban rendah
Terdapat pula risiko yang mengancam bayi yang masih dalam kandungan dan bayi yang baru lahir, antara lain:
- Sindrom aspirasi mekonium (menghirup cairan ketuban dan kotoran janin)
- Berat lahir rendah berdasarkan usia kehamilan
- Gula darah rendah (hipoglikemia)
- Kelahiran mati
5 Cara Menghindari Kehamilan yang Tidak Direncanakan
Tidak semua kehamilan ektopik bisa dihindari. Namun, Ibu dapat melakukan beberapa langkah untuk mengurangi kemungkinannya, seperti:
- Kunjungi secara teratur dokter kandungan untuk memantau perkembangan janin dan plasenta.
- Melakukan pemeriksaan USG pada trimester pertama untuk memperoleh perhitungan usia kehamilan yang lebih tepat sejak awal.
- Mengelola siklus haid secara tepat guna mengurangi kemungkinan kesalahan dalam perhitungan usia kehamilan.
- Mempertahankan berat badan yang sehat sebelum dan selama masa kehamilan.
- Membicarakan dengan dokter jika Ibu pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pemantauan tambahan.
5 Cara Mengatasi Kehamilan Terlambat 5 Metode untuk Mengatasi Kehamilan yang Tidak Sesuai Waktu 5 Pendekatan untuk Menangani Kehamilan yang Terlambat 5 Teknik untuk Menghadapi Kehamilan yang Tidak Sesuai Jadwal 5 Solusi untuk Mengatasi Kehamilan yang Datang Terlambat
Dokter umumnya melakukan berbagai metode untuk mengatasi kehamilan yang telah mencapai usia 42 minggu.
- Pemantauan intensif janin menggunakan USG, NST(non-stress test), atau CTG (cardiotocography).
- Melakukan pemicuan persalinan menggunakan obat atau tindakan tertentu agar terjadi kontraksi.
- Pemecahan kantung ketuban secara buatan untuk mempercepat proses kelahiran.
- Pembedahan caesar dilakukan jika bayi terlalu besar atau kondisi janin/ibu tidak memungkinkan proses persalinan alami.
- Perawatan intensif setelah kelahiran, terutama bila bayi mengalami kesulitan bernapas atau lahir dengan berat badan yang berlebihan.
|
Pilihan Redaksi
|
Untuk para ibu yang ingin berbagi pengalaman tentang parenting dan mendapatkan banyak hadiah, ayo bergabung dengan komunitas Lintaskriminal.co.id -Squad. Daftar dengan klik di SINI. Gratis!
