Meteor Jatuh di Cirebon? Fenomena Api dan Dentuman, Ini Penjelasan BMKG dan BRIN

by -180 Views

Lintaskriminal.co.id – – Peristiwa langka diduga adanya benda dari langit atau meteor membuat geger warga Majalengka dan Cirebon.

Warga dikejutkan oleh munculnya fenomena langit berupa cahaya aneh berwarna hijau ke merahan yang melintas cepat di langit, serta terdengarnya suara dentuman keras pada hari Minggu (5/10/2025) malam sekitar pukul 18.45 WIB.

Kejadian langka ini diperkirakan kuat berasal dari benda langit atau meteor yang memasuki lapisan atmosfer.

Laporan pertama datang dari Desa Padaherang, Kecamatan Sindangwangi, Majalengka.

Warga melihat cahaya terang berbentuk bola api besar yang bergerak cepat dari barat ke timur.

Tidak lama kemudian, suara keras terdengar dan mengakibatkan guncangan yang kuat.

“Cahayanya sangat cepat, seperti bola api yang besar. Setelah itu langsung terdengar suara keras. Kaca rumah bergetar, warga mengira ada gempa. Banyak penduduk keluar dari rumah,” ujar warga setempat, Aceng Kurniawan, Senin 6 Oktober 2025, dilaporkan dari TribunJabar.id. “Cahaya itu muncul dengan cepat, mirip dengan bola api besar. Selanjutnya terdengar suara keras. Kaca rumah bergetar, orang-orang mengira ada gempa. Banyak warga keluar dari rumah,” kata Aceng Kurniawan, warga setempat, Senin 6 Oktober 2025, dikutip dari TribunJabar.id. “Cahaya yang muncul sangat cepat, seperti bola api raksasa. Setelah itu terdengar dentuman kuat. Kaca rumah bergetar, banyak warga mengira itu gempa. Mereka langsung keluar dari rumah,” ujar Aceng Kurniawan, warga setempat, Senin 6 Oktober 2025, dilansir dari TribunJabar.id.

Peristiwa serupa juga dilaporkan oleh penduduk di beberapa kecamatan yang berada di wilayah timur Cirebon, misalnya Lemahabang.

Dentuman tersebut mengundang keheranan karena terjadi saat langit tampak cerah dan tidak ada hujan.

BMKG Memastikan Bukan Kegiatan Meteorologis

Menanggapi laporan yang meresahkan masyarakat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kertajati segera melakukan pengumpulan data awal.

Kepala Tim Kerja Prakiraan, Data, dan Informasi BMKG Kertajati, Muhammad Syifaul Fuad, memastikan bahwa suara dentuman tersebut tidak diakibatkan oleh kejadian cuaca ekstrem seperti halilintar atau badai.

“Menurut data citra satelit, tidak ditemukan tanda-tanda awan konvektif di sekitar wilayah Cirebon saat kejadian,” kata Fuad.

Ia menambahkan, BMKG belum melaporkan adanya kegiatan meteorologis atau gempa yang signifikan.

Fuad menyampaikan bahwa fenomena yang diduga berasal dari meteor atau benda langit bukan termasuk kewenangan BMKG, melainkan lembaga seperti BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), karena BMKG tidak dilengkapi alat khusus untuk mengamati pergerakan benda langit.

BMKG Kertajati saat ini terus mengawasi informasi dan laporan masyarakat guna memperoleh kejelasan lebih lanjut tentang sumber pasti dari cahaya dan suara keras yang menghebohkan dua daerah tersebut.

Penjelasan BRIN

BRIN merupakan kependekan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, sebuah institusi pemerintah Indonesia yang berperan dalam mengkoordinasikan, mengintegrasikan, serta memperkuat aktivitas penelitian dan inovasi di tingkat nasional.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki pusat penelitian luar angkasa yang sebelumnya merupakan bagian dari LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional).

Mereka mengamati peristiwa astronomi seperti hujan meteor, gerhana, serta pergerakan objek langit lainnya.

BRIN juga bertanggung jawab mengelola beberapa observatorium, termasuk Observatorium Bosscha di Lembang dan Observatorium Nasional Timau di NTT.

Ahli Utama Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaludin, memberikan penjelasan ilmiah mengenai peristiwa tersebut.

Berdasarkan beberapa keterangan dari warga dan rekaman kamera pengawas, Thomas mengira bahwa sumber cahaya dan suara itu berasal dari meteor yang cukup besar.

“Saya mengira itu meteor yang melewati dari arah barat daya, memasuki kawasan Kuningan–Kabupaten Cirebon sekitar pukul 18.35–18.39 WIB,” ujar Thomas.

Ia menjelaskan bahwa suara dentuman terjadi karena gelombang kejut (sonic boom) yang dihasilkan ketika meteor memasuki lapisan atmosfer yang lebih rendah dan mengalami gesekan dengan udara.

“Ketika gesekan semakin kuat, meteor menghasilkan tekanan besar yang menyebabkan suara ledakan,” katanya.

Kesimpulan ini didukung oleh tiga bukti utama:

  • Kerasnya suara ledakan yang terdengar di kawasan Kuningan dan Cirebon.
  • Gempa kecil yang sempat terdeteksi oleh sensor BMKG Cirebon pada pukul 18.39.12 WIB.
  • Rekaman kamera pengawas yang menampilkan bola api melesat cepat di langit sekitar pukul 18.35 WIB.

Sampai saat ini, belum ada laporan mengenai kerusakan atau penemuan benda asing di wilayah yang disebut sebagai lokasi jatuhnya meteor.

“Membutuhkan waktu untuk memverifikasi apakah masih ada sisa meteor yang jatuh ke permukaan. Jika hanya meledak di udara, biasanya tidak menyebabkan dampak fisik di daratan,” kata Thomas.

BMKG memastikan bahwa peristiwa semacam ini termasuk jarang, tetapi tidak menimbulkan bahaya jika meteor meledak di lapisan atmosfer atas.

Apa Kata Jasa Marga?

Tidak lama setelah video tersebut beredar, pihak Jasa Marga yang mengelola jalan tol bersama aparat TNI Kodim 0620/Kabupaten Cirebon langsung melakukan penelusuran terhadap lokasi yang disebut-sebut sebagai titik jatuhnya meteor, yaitu di sekitar Gerbang Tol Mertapada KM 219.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan langsung di lapangan, informasi tersebut telah dikonfirmasi tidak benar.

“Hasil pemeriksaan di lapangan tidak menemukan bukti adanya meteor yang jatuh maupun kebakaran di sekitar area,” kata petugas Jasa Marga yang didampingi anggota Kodim0620/Kabupaten Cirebon, seperti dilaporkan dari grup resmi Pusdalops PB BPBD Kabupaten Cirebon, Senin (6/10/2025) pagi.

“Maka bisa dipastikan informasi tersebut tidak benar,” tambahnya.

(Lintaskriminal.co.id -)

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id/Tribunnews.com