
Tim media yang turun langsung ke lokasi mengambil foto kondisi paket makanan MBG yang disajikan. Dalam paket tersebut terlihat nasi, tempe, gorengan, sambal dan lalapan.
Yang cukup miris, berdasarkan temuan dan keterangan di lapangan, nasi tersebut tidak dikonsumsi dan disebut diberikan untuk pakan ayam. Sementara tempe yang disajikan disebut dalam kondisi basi.
Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan besar. Bagaimana mungkin makanan yang diperuntukkan bagi anak-anak sekolah justru berakhir menjadi pakan ayam?
Program MBG seharusnya tidak berhenti pada persoalan makanan sampai di sekolah. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni memastikan makanan tersebut bergizi, bersih, aman, segar dan layak dikonsumsi.
Temuan lapangan ini patut menjadi perhatian serius bagi pengelola MBG maupun instansi terkait. Sebab, apabila makanan yang dibagikan benar-benar tidak layak konsumsi, maka persoalannya bukan lagi sekadar soal selera anak terhadap menu, melainkan menyangkut kualitas dan pengawasan terhadap makanan yang diberikan kepada peserta didik.
Masyarakat tentu berhak mengetahui bagaimana mekanisme pengawasan MBG berjalan. Siapa yang melakukan pemeriksaan makanan sebelum didistribusikan? Apakah kualitas lauk diperiksa? Dan bagaimana memastikan makanan yang sampai kepada siswa benar-benar aman untuk dikonsumsi?
Tim media berharap pihak sekolah, pengelola MBG dan instansi terkait dapat memberikan klarifikasi secara terbuka dan bertanggung jawab atas temuan tersebut.
Sangat miris apabila makanan yang semestinya menjadi asupan bergizi bagi anak-anak justru tidak layak dimakan. Program MBG harus menghadirkan manfaat, bukan meninggalkan pertanyaan dan keprihatinan.