Pembantai Keluarga di Paoman Ternyata Sempat Buat Susu untuk Anak yang Dibunuhnya

by -57 Views

Lintaskriminal.co.id -, INDRAMAYU –Kehangatan yang bercampur dengan ketegangan mengisi lapangan futsal berumput hijau di Indramayu, Jawa Barat, pada hari Rabu (12/11/2025) siang.

Di lokasi tersebut, pihak kepolisian melakukan rekonstruksi terkait kasus pembunuhan satu keluarga yang menimpa Haji Sahroni.

Pembunuhan terhadap Haji Sahroni beserta anak, menantu, dan cucunya sempat menggegerkan warga Kelurahan Paoman.

Setiap adegan ditampilkan dengan kejelasan yang tinggi.

90 Adegan

Secara keseluruhan, 90 adegan dilakukan oleh dua tersangka dengan inisial P dan R.

Dari perencanaan, pelaksanaan, hingga proses pemakaman lima korban dalam satu lubang, semuanya dijelaskan tanpa ada yang terlewat.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Indramayu, AKP Muchammad Arwin Bachar menyampaikan bahwa rekonstruksi dilakukan guna memperjelas alur kejadian dan memastikan tidak ada fakta yang terlewat dalam proses penyidikan.

Pada proses rekonstruksi ini, kedua tersangka, yaitu P dan R, telah memperagakan sebanyak 90 adegan.

“Tujuannya adalah untuk memahami secara rinci peristiwa pembunuhan tersebut,” kata Arwin dalam keterangan resmi yang diterima Tribun Jabar, Rabu (12/11/2025) malam.

Momen Haru

Namun, dari seluruh rangkaian adegan, satu momen membuat banyak orang sulit menahan napas, yaitu ketika anak berusia 7 tahun, Ratu Khairunnisa, sempat menangis sebelum dibunuh oleh pelaku.

Di dalam proses rekonstruksi, terungkap adegan yang menyedihkan, di mana korban anak sempat menangis.

“Tersangka P sempat memberikan susu untuk menenangkan dirinya, lalu membunuhnya di kamar mandi,” katanya.

Polisi memastikan, kedua tersangka akan dikenakan Pasal 340 KUHP mengenai pembunuhan yang direncanakan, dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

“Kami memastikan seluruh tahap penyelidikan dilakukan dengan profesional dan terbuka agar perkara ini segera diproses di pengadilan,” ujarnya.

5 Orang Tewas Dibuang di Bawah Pohon Nangka

Pada kejadian ini, lima korban yang ditemukan terbaring berurutan di belakang rumah merupakan anggota satu keluarga, yaitu Sachroni (76), Budi Awaludin (40), Euis Juwita Sari (37), Ratu Khairunnisa (7) dan Bela (10 bulan).

Mereka dimakamkan di bawah pohon mangga.

Salah satu kaki korban terlihat keluar, sehingga para penyelamat dapat segera mengenali para korban.

Polisi juga mengundang pihak Kejaksaan Negeri Indramayu dalam proses rekonstruksi tersebut guna menyelaraskan pandangan dan memastikan keselarasan berkas perkara.

Tak Ditemukan Fakta Baru

“Untuk fakta, sampai saat ini masih sejalan dengan hasil pemeriksaan sebelumnya. Belum ada temuan fakta terbaru,” katanya.

Rekonstruksi yang dilakukan kali ini merupakan kelanjutan dari pengungkapan rahasia gelap pembunuhan keluarga Sahroni yang sempat menghebohkan masyarakat Indramayu pada awal September lalu.

Sebelumnya, penduduk Kelurahan Paoman, Indramayu, sempat kaget dengan penemuan lima jenazah dalam satu lubang di halaman rumah Haji Sahroni pada malam Senin (1/9/2025).

Bau menyengat yang tidak sedap menjadi awal munculnya tragedi berdarah tersebut.

Polisi akhirnya menangkap dua tersangka, P dan R, di kawasan Kedokan Bunder pada hari Senin (8/9/2025) dini hari.

Keduanya dikenal memiliki hubungan yang dekat dengan korban.

Kasat Reskrim Polres Indramayu, AKP Mochammad Arwin Bachar, saat itu menyampaikan bahwa motif pembunuhan diduga muncul dari rasa sakit hati akibat perselisihan sewa mobil antara pelaku dan korban.

Kami menangkap dua orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan terhadap Sahroni dan empat anggota keluarganya.

“Saat ini sedang kami selidiki motif dan cara pelakunya,” kata Arwin saat diwawancarai media, Senin (8/9/2025).

Peristiwa ini juga mendapat perhatian masyarakat setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan apresiasi kepada pihak kepolisian melalui media sosial terkait keberhasilan mengungkap kasus tersebut.

Saya mengucapkan terima kasih kepada pihak kepolisian atas pengungkapan kasus pembunuhan keluarga Sahroni.

“Harapan kami pelaku menerima hukuman yang sebanding,” tulisnya.

Kelima korban selanjutnya dikebumikan di TPU Nyairesik, Desa Sindang, pada hari Rabu (3/9/2025).

Keluarga menangis histeris saat peti-peti jenazah diturunkan ke dalam liang lahat.

Ini adalah keluarga yang baik dan sekarang kami kehilangan satu anggota keluarga secara bersamaan.

“Kami hanya menginginkan keadilan,” kata Agus Suhendi (51), kerabat korban.

Kini, setelah dilakukannya rekonstruksi, harapan dari keluarga korban dan masyarakat Indramayu agar kasus ini segera selesai semakin meningkat.

Polisi berjanji akan menyelesaikan berkas perkara secara cepat agar keadilan segera dapat diwujudkan.(*)

Jurnalis Tribuncirebon.com, Eki Yulianto