Lintaskriminal.co.id -,MEDAN-Mengenakan baju gamis berwarna abu-abu dan jilbab berwarna putih, Lanniari Hasibuan (53) terlihat tiba di kantor Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Utara (Sumut) yang berada di Jalan Pendidikan, Marindal Satu, Deli Tua, Deli Serdang, pada hari Kamis (21/8/2025).
Kehadirannya dalam mengelola dokumen administrasi pemulangan jenazah putrinya, Nazwa Aliya (19).
Pengamatan Tribun Medan, Lanniari tiba bersama tim pendamping korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Kamboja.
Kedatangan mereka disambut langsung oleh petugas BP3MI, Sumarni Sinambela, yang menjabat sebagai Pengantar Kerja Ahli Muda.
Pada pertemuan itu, Sumarni menyarankan Lanniari untuk mengisi formulir keluhan.
Dengan wajah yang tampak lelah, Lanniari menggenggam pulpen berisi tinta biru dan mulai menulis rangkaian peristiwa perjalanan anaknya di halaman kosong yang terdapat formulir pengaduan.
“Pada 29 Mei 2025, putri saya Nazwa Aliya meminta izin untuk wawancara di sebuah bank Medan. Namun, pada hari yang sama sekitar pukul 18.30 WIB, ia telah tiba di Bandara Bangkok, Thailand,” tulisnya.
Pada 30 Mei 2025, anak saya telah tiba di Kamboja, dan komunikasi dengan keluarga mulai mengalami hambatan.
Kemudian pada 8 Agustus 2025, saudara perempuanku menerima informasi bahwa Nazwa sedang dirawat di Rumah Sakit Siem Reap, Kamboja.
Akhirnya pada 12 Agustus 2025, anak saya dinyatakan meninggal. KBRI menghubungi saya terkait proses pengembalian jenazah.
Namun pihak rumah sakit meminta biaya sebesar 8.500 dolar AS atau kira-kira Rp135 juta,” tambahnya.
“Harapan saya, pemerintah bisa segera membantu pemulangan jenazah anak saya,” tutupnya di formulir tersebut.
Berkas tersebut selanjutnya dikembalikan kepada petugas.
Sumarni menyampaikan bahwa Nazwa tidak terdaftar sebagai pekerja migran yang sah.
“Meskipun korban merupakan pekerja migran ilegal, pemerintah Indonesia tidak akan membiayai pemulangannya,” katanya kepada Lanniari, Kamis (21/8/2025).
Menurutnya, perwakilan Indonesia di Kamboja yang akan menangani pengembalian jenazah. Sementara KP2MI hanya akan melakukan koordinasi.
“Untuk pengiriman jenazah dari Bandara Kualanamu hingga ke rumah duka, kami akan memberikan bantuan,” ujarnya.
Lanniari menerima penjelasan tersebut dengan berat hati. Ia menyadari bahwa keberangkatan anaknya tidak tercatat dalam sistem ketenagakerjaan, sehingga biaya pemulangan menjadi tanggungan keluarga.
“Harapan saya jenazah segera kembali agar dapat dikuburkan. Karena tidak ditanggung pemerintah, alhamdulillah ada hamba Allah yang membantu segala biaya pemulangan Nazwa hingga proses otopsi, yang ditanggung oleh ormas,” ujarnya.
Lanniari Hasibuan (53) memegang ponsel miliknya dan menunjukkan gambar seorang pria kulit putih yang diduga sebagai pelaku yang membawa anaknya, Nazwa Aliya (19) ke Kamboja.
Diketahui bahwa pria kulit putih berkebangsaan asing (WNA) berasal dari Inggris bernama Cristopher.
Pada gambar yang ditunjukkan Lanniari kepada Tribun Medan, terlihat seorang pria kulit putih menggunakan kacamata hitam, memiliki rambut cokelat keabuan, dan berjenggot.
Laki-laki ini diduga terlibat dalam kematian putranya sendiri.
Setelah dua bulan Nazwa Aliya tinggal bersama Cristopher di Kamboja, laki-laki tersebut mulai sulit dihubungi oleh ibu korban.
Pada saat itu, Cristopher hanya berbicara dengan saudara kandung Lanniari untuk memberitahukan keadaan Nazwa.
“Setelah dua bulan bersama, Cristopher sulit dihubungi. Ia mengatakan Nazwa marah jika saya menghubunginya, sehingga dia hanya berkomunikasi dengan adik saya,” kata Lanniari, Kamis (21/8/2025).
Lanniari memastikan bahwa hubungannya dengan putranya selama ini berjalan dengan baik.
“Sampai saat ini, saya tidak pernah mengalami masalah dengan adik bungsanya. Jadi ketika Cristopher mengatakan bahwa Nazwa membenci saya, saya merasa bingung mengapa bisa seperti itu,” katanya.
Ia juga berusaha mencari cara membawa anaknya kembali ke Indonesia. Namun, tiba-tiba Cristopher justru menghubunginya.
Berdasarkan pengakuan Cristopher, ia tidak mampu lagi menahan Nazwa yang ia sebut sering pergi keluar rumah tanpa izin.
“Kaget saya menerima panggilan dari Cristopher. Ia mengatakan ingin membawa Nazwa kembali ke Indonesia karena sering pergi dari rumah tanpa memberi tahu. Saya menjawab, ya, bawalah dia pulang, tolong sampaikan tiket pesawatnya,” ujar Lanniari.
Lanniari yang pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang polisi di Malaysia.
Ia selanjutnya menghubungi mantan bosnya guna meminta bantuan.
“Saya pernah menelepon mantan atasan saya yang merupakan seorang polisi di Malaysia. Saya meminta dia untuk menghubungi Nazwa agar bisa dibawa terlebih dahulu ke Malaysia sebelum menuju Indonesia,” katanya.
Mantan tuannya berhasil menghubungi Nazwa melalui WhatsApp. Namun, Nazwa justru meminta agar uang sebesar 200 dolar AS ditransfer ke rekening Cristopher guna membeli tiket pesawat.
Keraguan muncul setelah mantan atasan Lanniari menganggap pesan balasan yang diterima menggunakan bahasa Inggris terlalu lancar dan rapi, tidak sesuai dengan gaya bahasa Nazwa sebelumnya.
“Bos saya bertanya, apakah bahasa Inggris Nazwa bagus? Saya menjawab biasa saja. Kemudian dia berkata, sepertinya yang menjawab pesan ini bukan Nazwa karena bahasanya sangat baik dan rapi,” kata Lanniari.
Sejak saat itu, Lanniari mulai meragukan kondisi putrinya. Akhirnya ia menerima informasi bahwa Nazwa dirawat di sebuah rumah sakit di Kamboja karena mengalami masalah asam lambung.
Namun pada 12 Agustus 2025, Cristopher kembali memberi tahu Lanniari bahwa putri termudanya telah meninggal.
“Saya diberitahu kemarin tanggal 12, katanya anak saya telah meninggal,” ujarnya.
Pada saat yang hampir bersamaan, perwakilan KBRI di Phnom Penh juga memberikan informasi serupa.
Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh KBRI, Nazwa meninggal akibat overdosis obat yang termasuk dalam jenis parasetamol atau obat penurun demam.
Namun, perbedaan keterangan serta ketidaksesuaian kondisi terakhir Nazwa memicu kecurigaan dari keluarga.
Mereka menganggap kematian itu tidak wajar.
Saat ini keluarga berharap pemerintah Indonesia membantu proses pengembalian jenazah Nazwa dari Kamboja serta menyelidiki penyebab kematian tersebut.
Sial yang buruk menimpa Nazwa Aliya (19) warga Jalan Bejo, Gang Sejahtera, Dusun XVl, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara (Sumut)
Lulusan SMK Telkom 2 Medan ini meninggal secara tragis di Kamboja.
Nama dari dulu memiliki impian untuk bekerja di luar negeri setelah menyelesaikan pendidikannya.
Salah satu negara yang menjadi impian Nazwa untuk dikunjungi adalah Kamboja.
Namun, keinginannya itu ditolak oleh ibunya, Lanniari Hasibuan (53), karena dianggap Kamboja termasuk daerah berisiko tinggi atau berbahaya untuk dikunjungi.
“Pertama-tama anak saya meminta izin untuk ikut study tour, tetapi saya menolak. Kemudian, ia meminta izin untuk wawancara di sebuah bank, dan saya memberikannya,” kata Lanniari saat diwawancarai Tribun Medan, Jumat (15/8/2025).
Nama pun mengikuti wawancara di salah satu kantor cabang bank di Kota Medan selama dua hari.
Pada hari Selasa (27 Mei 2025), Lanniari masih sempat berbicara dengan putrinya.
Malam hari, Nazwa kembali memohon izin untuk mengikuti sesi wawancara yang kedua.
Tanpa diketahui oleh ibunya, ia sebenarnya sedang merencanakan perjalanan ke Kamboja.
Pada 28 Mei sekitar pukul 05.00 WIB, Nazwa telah meninggalkan rumah. Saya sempat terbangun, namun karena merasa lelah dan mengantuk, saya tidak terlalu memperhatikannya,” ujar Lanniari.
Keesokan harinya, Lanniari mendapatkan pesan WhatsApp dari Nazwa yang menyatakan bahwa ia telah meninggalkan kunci rumah di jendela.
Sampai siang hari, tidak ada kabar lagi dari putrinya, menyebabkan Lanniari menjadi cemas dan berusaha menghubunginya.
“Pukul satu siang saya menelepon, tetapi dia mengatakan agar tidak menelepon, cukup kirim pesan singkat saja,” kata Lanniari.
Pada tanggal 29 Agustus 2025 sekitar pukul 18.00 WIB, Lanniari akhirnya menerima informasi bahwa Nazwa telah tiba di Bangkok, Thailand.
“Saya sempat pingsan ketika mendengar berita itu. Saat saya bertanya kepada siapa ia pergi ke Bangkok, Nazwa mengatakan bersama teman PKL-nya. Namun setelah saya tuntut, ia mengakui bahwa ia pergi sendirian,” katanya.
Nazwa menginap di Hotel Pusat Kota, Bangkok.
Saat Lanniari menghubungi, Nazwa enggan menjawab.
Anehnya, dia mengambil telepon dari saudaranya, tetapi hanya berbicara singkat.
“Sepertinya ada yang mengawasinya,” kata Lanniari, sambil mengusap wajahnya.
Kekhawatiran melanda Lanniari yang ingin melaporkan kehilangan anaknya ke Polsek Medan Tembung. Namun, laporan tersebut ditolak karena keluarga sudah mengetahui tempat tinggal Nazwa dan ia tidak lagi dianggap sebagai anak di bawah umur.
“Pada malam itu saya tetap pergi ke Polsek, namun laporan saya ditolak karena anak saya diketahui sedang berada di Thailand,” katanya.
Berita mengejutkan muncul pada Kamis (7/8/2025).
Lanniari menerima informasi dari pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh bahwa putranya sedang sakit dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Negara, Provinsi Siem Reap.
“Saya menerima kabar dari KBRI bahwa anak saya sakit dan sedang dirawat di rumah sakit,” katanya.
Namun, ia mengakui dilarang oleh KBRI untuk langsung pergi ke Kamboja.
KBRI menyarankan agar keberangkatan dilakukan oleh anggota keluarga lainnya.
“KBRI melarang saya pergi ke Kamboja karena mereka mengatakan anak saya tidak suka melihat saya. Mereka menyarankan adik saya atau anggota keluarga lain yang pergi,” kata Lanniari.
Setelah adiknya tiba di Kamboja, Lanniari bertanya apakah ada perwakilan KBRI di rumah sakit.
Ternyata, tidak ada seorang petugas KBRI pun yang hadir.
Setelah empat hari menjalani perawatan, pada 12 Agustus 2025, Nazwa dikabarkan telah meninggal dunia.
“Saya menerima kabar pada tanggal 7 Agustus bahwa anak saya dirawat di rumah sakit, dan kemarin, 12 Agustus, saya kembali diberitahu bahwa anak saya telah meninggal,” kata Lanniari dengan suara yang gemetar.
Sampai saat ini, jenazah Nazwa masih berada di Rumah Sakit Negara, Provinsi Siem Reap, Kamboja, sejak dinyatakan meninggal pada 12 Agustus 2025.
Lanniari Hasibuan hanya mampu menangis dan menerima dengan ikhlas setelah mendengar berita kematian putrinya, Nazwa Aliya di Kamboja.
Niatnya mengembalikan jenazah anaknya terkendala biaya yang tidak mampu ia bayarkan.
Ekspresi wajahnya terlihat kaku, matanya redup dan basah.
Terkadang ia berhenti lama, seolah kehilangan tujuan, hingga akhirnya air mata mengalir di wajahnya.
Keluarga masih menghadapi kendala terkait biaya pengiriman jenazah yang mencapai USD 8.500 atau sekitar Rp138 juta.
Seorang ibu dengan dua anak berharap pemerintah Indonesia, khususnya Pemprov Sumatera Utara dan Pemkab Deli Serdang, bisa membantu mengembalikan jenazah putrinya.
“Saya tidak memiliki dana sebanyak itu. Saya sangat berharap pemerintah dapat membantu mengirimkan jenazah anak saya kembali,” katanya dengan suara lemah.
(Cr9/Lintaskriminal.co.id -)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti pula informasi lainnya diFacebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
