Polrestabes Medan Buka Tabir Kematian Ade Silvia: Cemburu Hubungan Sejenis, Tusuk Diri dengan Gunting

by -53 Views

Lintaskriminal.co.id -, DELI SERDANG-Kematian Ade Silvia br Nasution (36) di sebuah rumah sewa di Jalan Pendidikan II, Desa Sei Rotan, Percut Sei Tuan sempat menjadi perbincangan di media sosial.

Video, berita separuh jadi, hingga tuduhan penganiayaan menyebar dengan cepat. Namun, di balik hebohnya tagar dan dugaan-dugaan, penyelidikan ilmiah dari pihak kepolisian justru mengungkap kisah yang berbeda mengenai tragedi yang bermula dari cinta, rasa iri, dan putus asa.

Konferensi pers diadakan pada siang hari Rabu (12/11/2025) di lokasi kejadian, yaitu sebuah rumah sederhana dengan lantai semen, yang berada di antara kebun pisang dan gang sempit.

Di hadapan para jurnalis, Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak menyampaikan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh tim Satreskrim Polrestabes Medan bekerja sama dengan Polsek Medan Tembung.

“Kami menemukan sembilan adegan penting dari rekaman CCTV di dalam rumah kontrakan tersebut. Semua menampilkan urutan kejadian yang sangat jelas dan ilmiah,” kata Calvijn.

Berdasarkan hasil penyelidikan, Ade Silvia tinggal bersama Ade Kartika (35) selama tiga tahun.

Keduanya memiliki hubungan cinta sesama jenis yang mulai rusak akibat rasa iri.

Kartika sering melakukan perjalanan ke luar negeri karena urusan keluarga tanpa membawa Silvia. Pacarnya merasa diabaikan, stres, dan iri.

Jumat pagi, 7 November 2025, sekitar pukul delapan, suasana di dalam rumah menjadi kaku.

Silvia bangun, mengambil gunting dari lemari di dekat kamar mandi.

Berdasarkan rekaman kamera pengawasan, terlihat dia mendekati Kartika yang sedang duduk di samping tempat tidur, kemudian menyerang.

“Korban lebih dulu menyerang AK dengan menutupi bantal, kemudian menusuk bagian punggung, lengan, dan perut berulang kali,” ujar Kapolrestabes.

Pertandingan singkat berlangsung sekitar sepuluh menit. Anak Kartika yang berusia dua tahun menangis keras, menyebabkan Silvia menghentikan sementara.

Di tengah keheningan sejenak, Kartika bertanya pelan, “Mengapa ini terjadi?” Silvia menjawab, “Maaf.” Selanjutnya Kartika berlari keluar untuk mencari bantuan.

Sebelas menit setelahnya, bersama dengan kepala dusun dan tetangga, Kartika kembali ke kamar.

Silvia telah meninggal. Di lantai, darahnya sudah mengering. CCTV merekam bagaimana setelah menyerang, Silvia menyimpan perhiasan ke dalam lemari, kemudian menusuk tubuhnya sendiri berulang kali di bagian leher, dada, dan perut.

“Kesimpulan ilmiah, pemeriksaan lokasi kejadian dan forensik tidak menemukan bukti adanya kekerasan dari pihak lain,” kata Calvijn.

“Ini bukan penganiayaan. Ini tindakan bunuh diri yang terjadi setelah adanya konflik emosional,” tambahnya.

Benda-benda yang berhasil disita antara lain gunting berlumur darah, DVR CCTV, kain yang dipakai, serta perangkat komunikasi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan rekonstruksi digital, polisi memverifikasi bahwa luka-luka pada tubuh Silvia sesuai dengan arah tusukan yang dilakukan oleh dirinya sendiri.

Sebelumnya, saudara korban, Enny Puspa Nasution, melaporkan ke polisi terkait dugaan penganiayaan yang dilakukan oleh Ade Kartika. Peristiwa ini segera menyebar luas, memicu berbagai perdebatan di media online dan situs jejaring sosial.

Kepolisian Resort Kota Besar Medan menekankan bahwa penyelidikan dilakukan dengan cara yang terbuka dan berdasarkan ilmu pengetahuan, tanpa campur tangan pihak luar.

“Kami bekerja berdasarkan bukti, bukan prasangka,” ujar Calvijn. Setiap detik kejadian di lokasi kejadian kami ulas dari data empiris. Kami berharap masyarakat tenang dan percaya pada proses hukum yang jelas,” katanya lagi.

Kini, setelah semua fakta yang lengkap terungkap, kisah menyedihkan di rumah kos itu tidak lagi menjadi teka-teki.

Ia menggambarkan kekecewaan dalam hubungan yang gagal, perasaan yang meledak-ledak, dan cinta yang berakhir dengan darah.(Jun-Lintaskriminal.co.id -).