Lintaskriminal.co.id -, SURABAYA –Posko Identifikasi Korban Bencana (DVI) untuk mengenali jenazah para korban yang tewas akibat runtuhnya musala Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, mulai berada di RS Bhayangkara Surabaya, pada malam Kamis (2/10/2025).
Sebelumnya, tiga posko DVI yang disediakan oleh anggota tim Biddokkes Polda Jatim didirikan di berbagai area umum dan fasilitas kesehatan yang dipilih khusus untuk menangani keadaan darurat akibat kejadian tersebut.
Awalnya, Posko Ante-Mortem berada di kampus putri area ponpes, sementara Posko Post-Mortem berada di RSUD Sidoarjo dan RSI Siti Hajar Sidoarjo.
Kabiddokkes Polda Jatim Kombes Pol dr M Khusnan Marzuki menyampaikan bahwa pengumpulan lokasi Posko DVI di RS Bhayangkara Surabaya bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kerja forensik yang akan dilakukan oleh tim medis.
Mengingat beberapa korban masih belum berhasil dievakuasi lebih dari tiga hari, sehingga menyebabkan proses fisiologis tubuh yang mengalami peruraian.
Menghadapi perubahan tersebut, Posko DVI RS Bhayangkara Surabaya telah menyiapkan alat terbaru yang mampu menyimpan jenazah korban dengan lebih efisien dan memiliki kapasitas besar.
Perangkat ini merupakan mesin berbentuk ruangan pendingin cold storage. Bentuknya mirip dengan petikemas yang dilengkapi sistem pendingin udara super. Fungsinya serupa dengan kulkas berukuran besar.
Lokasinya berada di ujung sisi belakang Gedung Kompartemen Ruang Mayat Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya.
Ukuran yang diperkirakan memiliki kapasitas 20 ton dengan dimensi ruangan sepanjang empat meter, lebar empat meter, dan tinggi ruangan 2,5 meter.
“Kapasitasnya cukup besar, bisa mencapai lebih dari 100. Dan sudah diuji kemarin, suhunya sesuai dengan yang diharapkan,” katanya sambil meninjau Area Posko DVI di RS Bhayangkara Surabaya, pada Kamis (2/10/2025) malam.
Kusnan memprediksi ruangan cold storage tersebut mampu menyimpan seluruh jumlah jenazah korban yang berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan nantinya.
Data DNA yang berhasil dikumpulkan oleh Posko Ante-Mortem hingga pukul 21.00 WIB, Kamis (2/10/2025), mencakup 56 data keluarga yang mengaku kehilangan anggota keluarga dalam kejadian tersebut.
Nah, selanjutnya Kusnan, data yang dikumpulkan oleh Posko Ante-Mortem akan digunakan sebagai bahan perbandingan dengan kondisi jenazah korban yang ditemukan nanti.
“Karena kemarin 63, tapi ternyata ada yang ditemukan dan sudah diidentifikasi mengalami penurunan menjadi 61. Lalu menjadi 56 tadi siang (Kamis),” katanya.
Oleh karena itu, agar proses identifikasi dapat lebih cepat sehingga jenazah korban yang ditemukan nantinya dapat diketahui identitasnya, Kusnan mengajak para anggota keluarga untuk bersikap kooperatif.
Salah satu bentuk sikap dan tindakan kerja sama yang bisa dilakukan adalah menyediakan seluruh data yang diminta oleh Tim Forensik di Posko Ante-Mortem.
Mulai dengan menyertakan berbagai jenis informasi mengenai kondisi tubuh korban yang hilang, secara lengkap. Seperti ciri-ciri fisik beserta penampilan yang terakhir kali dikenakan.
Bisa juga ditambahkan foto terbaru korban saat masih hidup. Bisa juga disertakan foto cap jari tiga dari ijazah pendidikan korban.
Bahkan, jika selama hidupnya pernah mengabadikan foto bentuk gigi. Atau masih menyimpan dokumen medis terkait pengobatan penyakit yang pernah dialami sebelumnya.
“Jika ditemukan seseorang pernah memiliki foto panoramik gigi, letakkan saja karena akan segera diproses. atau data-data yang dapat mendukung dua hal paling tidak untuk pendukung sekunder bisa langsung diproses,” ujarnya.
Semua dokumen pendukung harus dilampirkan, sehingga dapat menjadi informasi berharga yang mempermudah Tim Forensik dalam mengidentifikasi jenazah korban.
Jika jumlah data pembanding yang tersedia tergolong sedikit, Tim Forensik akan menggunakan metode lain untuk membandingkan data anggota keluarga dengan temuan jenazah korban. Misalnya, dengan melakukan pengujian Tes DNA.
“Tapi jika benar-benar tidak ditemukan sama sekali, kami membutuhkan waktu. Kami terus mengumpulkan data. Jika memang benar-benar tidak ada sama sekali, baru itu DNA. Dan DNA membutuhkan waktu yang agak lama. Begitu,” jelasnya.
Kemudian, terkait ketersediaan tenaga medis dari Tim Forensik yang diturunkan untuk melakukan identifikasi selama proses pencarian yang dilakukan oleh Tim SAR gabungan dalam beberapa waktu ke depan.
Kusnan menekankan, pihaknya mengirimkan banyak anggota medis spesialis Forensik.
Sehingga, diharapkan, proses pengenalan terhadap jenazah korban yang ditemukan kelak dapat berjalan cepat.
“Banyak yang tersedia. Untuk Biddokkes Polda Jatim saja kami menyediakan hal tersebut. Terdapat 16 tim, dan satu tim minimal terdiri dari 4 orang (tenaga medis). Tapi kami menyediakan banyak tim agar tidak kelelahan,” jelasnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dr Erwin Astha Triyono menyatakan, pihaknya berharap dengan pengumpulan Posko DVI Ante-Mortem dan Post-Mortem di RS Bhayangkara Surabaya dapat mempercepat proses identifikasi jenazah korban yang nantinya ditemukan.
“Pada dasarnya kami berusaha menyediakan salah satu lokasi terbaik dalam melakukan identifikasi pasca-kematian,” kata dr Erwin Astha, yang ikut mengunjungi tempat tersebut.
Baca berita Lintaskriminal.co.id – Lainnya di Google News
