Putra, Korban Penggelapan Iuran BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Tutup Mata

oleh -241 views
Ilustrasi BPJS Ketenagakerjaan
Ilustrasi BPJS Ketenagakerjaan

RIAU (LK) – Seorang mantan karyawan yang bekerja pada sub kontraktor di PT Riau Andalan Pulp Paper (RAPP) menjadi korban dari penggelapan iuran BPJS Ketenagakerjaan.

Adalah Putra Riyanto, kepada media ini mengaku sudah bekerja pada 3 perusahaan dalam selang waktu hampir 4 tahun, dimana ketiga perusahaan hampir setiap tahunnya berganti nama, sedangkan pemilik perusahaan tetap satu orang.

Putra sendiri mengawali kerjanya bulan November 2017, yang saat itu dirinya melamar di perusahaan Anisa Persada (ANP), berselang beberapa bulan bekerja di PT.ANP, pemilik perusahaan mengalihkan seluruh karyawannya ke perusahaan baru yaitu PT Tursania Nisa Bersaudara (TNB) dimana direktur utama dikenal dengan nama Iwan.

Tidak sampai 2 tahun bekerja dengan PT TNB, Putra bersama dengan rekan-rekan kerjanya kembali dipindahkan ke perusahaan baru yakni PT Andira Maju Bersaudara (AMB), terdaftar sebagai karyawan baru PT.AMB sejak bulan maret 2020.

“Pada dasarnya pekerjaan selama tiga tahun lebih itu sama saja, hanya saja perusahaannya yang berganti-ganti nama, namun pemilik perusahaannya sama,” terang Putra.

Lebih lanjut Putra mengatakan, selama bekerja di tiga perusahaan tersebut ia bersama rekan-rekannya mendapat potongan iuran BPJS Ketenagakerjaan, namun sayangnya saat Putra Resign, ia malah tidak dapat mencairkan BPJS Ketenagakerjaan miliknya.

Alasan pertama, Putra menjelaskan saat pertama kali masuk bekerja pada PT ANP ia belum didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan sedangkan gaji sudah dipotong untuk membayar iuran. Putra pertama kali didaftarkan saat perusahaan sudah beralih ke PT TNB.

“Awalnya pihak perusahaan mengaku mendaftarkan BPJS Ketenagakerjaan saat kami terdaftar di PT TNB dan berlaku mundur sejak pertama kali kami mendaftar di PT ANP,” tandasnya.

Lebih parahnya lagi, Putra menceritakan iuran BPJS Ketenagakerjaan yang dipotong selama ini terancam tidak bisa dicairkan sebab beberapa hal diantaranya karena perusahaan masih aktif dan satu lagi karena tidak ada surat rekomendasi dari perusahaan.

“Saya merasa iuran yang dipungut selama ini sia-sia saja, karena tidak bisa dicairkan, saya hanya membayar iuran dan hanya pegang kartu, sekarang saya tidak tahu bagaimana cara mencairkan BPJS Ketenagakerjaan milik saya ini,” keluhnya.

Putra merupakan salah satu korban dari penggelapan iuran BPJS Ketenagakerjaan Cabang Pangkalan Kerinci, sebagai orang awam, Putra juga menjadi salah satu korban dari BPJS Ketenagakerjaan yang tidak mau mencairkan hak daripada pekerja.

“Kata BPJS Ketenagakerjaan ada rekomendasi yang harus saya urus, sedangkan hubungan saya dengan perusahaan sudah tidak baik lagi, karena hal itu saya tidak bisa mencairkan, sedangkan solusi lain tidak ada,” pungkasnya.

Disisi lain RAPP juga diharapkan dapat lebih selektif dalam memilih perusahaan untuk bekerjasama, seperti halnya PT ANP, TNB dan AMB yang tidak bertanggungjawab terhadap karyawannya.

Penulis : Yusman

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *