Sidang Penyerobotan Lahan TNTN, Nama Cirus dan Rudianto Disebut Juga Kuasai Lahan

by -322 views

RIAU (LK) – Sidang kasus pendudukan lahan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dengan terdakwa Abdul Arifin berlangsung sengit di Pengadilan Negeri (PN) Pelalawan, sidang untuk ke enam kali itu menghadirkan saksi dari pihak Kepolisian yang melakukan penyelidikan terhadap terdakwa.

Pantauan Lintaskriminal.co.id di dalam persidangan, terdapat beberapa fakta yang unik, karena Abdul Arifin yang memiliki jabatan Adat sebagai Bathin Hitam Sei Medang tidak terima atas penetapan dirinya sebagai tersangka, sebab hingga saat ini ia belum mengetahui pasal apa yang disangkakan kepada dirinya.

Menurut Andul Arifin, sebelum ditetapkan sebagai tersangka, ia diperiksa perihal kebakaran di lahan kebun karet miliknya, namun setelah berada di Markas Polisi Resort (Mapolres) Pelalawan, ia malah ditetapkan sebagai tersangka pendudukan lahan TNTN.

Padahal, terkait kebakaran lahan tersebut, Abdul Arifin mengaku kebun miliknya yang terbakar hanya sekitar 2 Hektare (Ha), sementara masih banyak lahan yang terbakar seperti milik Cirus Sinaga dan Rusdianto Sihombing (Anggota DPRD Pelalawan, red).

“Saya merasa heran, saat dijemput malam-malam, saya ditanya soal kebakaran, padahal kebun saya yang terbakar lebih kurang 2 Ha, itupun kebun karet yang tidak mungkin saya bakar,” bebernya usai menjalani sidang.

Disisi lain, jika dakwaan yang ditujukan padanya terkait pendudukan lahan, Abdul Arifin mengaku masih banyak orang yang menduduki lahan jika memang itu masuk ke wilayah TNTN, seperti halnya milik Cirus Sinaga yang diperoleh dari dirinya, lahan itu mencapai 300 Ha.

Begitu juga dengan lahan milik Rusdianto Sihombing yang diduga puluhan Hektare yang diketahui diperoleh dari H Sianturi yang sebelumnya dibeli dari Bathin Hitam Sei Medang sebelum Abdul Arifin menjabat sebagai tokoh Adat tersebut.

“Tidak ada keadilan, karena jika saya didakwa dengan pendudukan lahan, masih banyak lahan di sana yang dikuasai orang-orang pemangku jabatan, jadi kalau memang hukum ditegakkan dengan benar, saya minta semua diproses, jangan pandang bulu,” ujar pria paruh baya yang menyebutkan masih memegang surat-surat tentang kepemilikan lahan tersebut.

Sebelumnya Rudianto Sihombing kepada Lintaskriminal.co.id mengatakan bahwa lahan miliknya itu tidak masuk dalam kawasan TNTN seperti yang diisukan tersebut. Selain itu ia juga menyebutkan bahwa lahan itu ia peroleh sebelum menjadi anggota dewan.

“RDS memiliki lahan bukan sebagai pejabat, artinya memperoleh lahan itu bukan karena kekuasaan atau jabatan, kedua: TNTN sampai hari ini belum memiliki kekuatan hukum, ketiga : dilihat dari histori TNTN itu sendiri dikaitkan dengan kondisi lahan saat itu maka kesimpulanya TNTN lah yg menyerobot tanah masyarakat karena masyarakat sudah terlebih dahulu dimiliki lahan, barulah kemudian TNTN masuk,” pungkasnya.

Penulis : Yusman

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *