Terduga Provokator Ditangkap, Polri: Unjukrasa Ditunggangi Kelompok Tertentu

by -212 views

JAKARTA, Lintaskriminal.co.id – Jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menduga aksi unjukrasa yang terjadi di berbagai daerah pada Selasa-Rabu (24-25/9) bahkan hingga Kamis pekan lalu yang berakhir dengan kerusuhan tersebut saling berkaitan dan ditunggani oleh kelompok-kelompok tertentu.

Dalam kerusuhan yang terjadi dalam aksi unjukrasa mahasiswa di berbagai daerah seperti Jakarta, Sumatera Utara (Sumut), Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara, Polisi terpaksa mengamankan sejumlah orang yang dianggap sebagai provokator yang berujung rusuh.

Adapun terduga provokator yang berhasil diamankan petugas dalam aksi unjukrasa itu diketahui berasal dari beberapa kelompok seperti anarcho – syndicalism.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan di Jawa Timur, polisi mengamankan 4 provokator dan tindakan vandalisme. Kemudian, di Jawa Barat diamankan 35 orang yang dari hasil pemeriksaan terbukti ada 4 orang melakukan tindak kejahatan dan sudah ditetapkan tersangka, sisanya dipulangkan.

“Dari tersangka ini diduga kita menemukan jejak kelompok Anarcho syndicalism bermain dalam rangka memprovokasi bertindak anarkis. Keempatnya, yakni MD, RR, HJ dan BF diketahui positif juga gunakan narkoba, mereka diduga melakukan perusakan dan kekerasan ke aparat,” kata Dedi di ruang kerjanya, Kamis (26/9) kemarin.

“Sampai saat ini, keempat tersangka masih terus didalami petugas Polda Jabar. Untuk korban, dari data yang diterima dari massa ada 4 orang dan sebanyak 12 orang dari pihak aparat. Untuk materil sampai saat ini masih di data,” sambung Dedi seperti yang dilansir dari Kompas.co

Selanjutnya untuk wilayah Polda Sulawesi Selatan. Dedi menyebut, dalam aksi unjuk rasa di daerah tersebut  polisi berhasil mengamankan 207 pendemo dan langsung ditindak lanjuti guna menjalani pemeriksaan di Mapolda Sulsel dan Polres Makasar.

“Dari hasil pemeriksaan, dua orang ditetapkan sebagai tersangka dengan inisial MK dan AM. Keduanya terbukti melakukan provokasi ke mahasiswa untuk bertindak anarkis, dan petugas berhasil juga menyita barang bukti satu buah pelontar dan enam buah anak panah dari kedua pelaku,” paparnya.

Disisi lain, untuk korban yang jatuh selama aksi unjukrasa, Polda Sulsel mendata ada 44 orang massa dan tiga anggota yang menjadi korban, namun seluruhnya telah dibawa ke rumah sakit. “Soal kerugian materil saat ini masih didata juga,” ucapnya.

Selanjutnya, di Sumatera Utara (Sumut) hasil dari penegakan hukum, aparat kepolisian berhasil mengamankan 56 orang yang dicurigai sebagai provokator, dari jumlah itu, ada 40 orang kasusnya ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan sedangkan 16 orang lainnya sudah dipulangkan.

“Dari semuanya itu ada satu yang menonjol, karena ternyata tersangka ini merupakan DPO terduga teroris jaringan JAD Sumut. Tersangka ini berinisial RSL, dari tangannya kita sita barang bukti saat geledah rumahnya ada beberapa busur, senjata angin dan panah,” ungkap Dedi.

Dedi menyebut, tersangka yang tergabung dalam kelompok JAD memiliki rekam jejak panjang, bersama rekan-rekannya yang sudah lebih dulu ditangkap berinisial RA, A dan JA pada 9 juni 2019. Bahkan, diakui Dedi, yang bersangkutan sudah pernah berangkat ke Suriah sebanyak 2 kali.

“Tersangka ini juga pernah diketahui untuk memprovokasi massa aksi GNKR pada Pilpres 2019 lalu, di depan kantor DPRD. Hingga kini, dia masih diperiksa intensif oleh petugas. Terkait jumlah korban di Sumut, ada 7 orang diduga perusuh dan 3 anggota polri, selain itu ada 9 kendaraan yang rusak, termasuk fasilitas publik juga,” terangnya.

Terakhir aksi unjukrasa di Ibukota yang berlangsung di depan gedung DPR RI, dan sampai hari ini juga masih ada. Terkait kasus kerusuhan ini, diakui Dedi, pihaknya telah menyerahkan penanganannya ke Polda Metro Jaya.

“Nanti disampaikan Kabid humas, tapi intinya kemarin itu ada 94 orang yang diamankan, Selasa (24/9) lalu itu, ada 49 diantaranya sampai kini masih didalami dan situ juga termasuk ada 12 orang anak-anak. Nanti kita serahkan prosez hukumnya ke Polda gimana,” imbuhnya.

Dedi menambahkan, pihaknya meyakini dari semua unjukrasa yang berakhir anarkis di berbagai wilayah ini ada kelompok yang bermain didalamnya. Dan kelompok itu tak lain anarcho-syndicalism. Dan mereka memiliki simbol.

“Kita perlu sampaikan unjukrasa yang terjadi di beberapa wilayah ini memang ditumpangi oleh perusuh yang sengaja memprovokasi mahasiswa, dan masyarakat melakukan tindakan anarkis. Kita masih dalami terus siapa master mind dari kerusuhan ini,” tegasnya.

Selain itu, Dedi memastikan, semua tersangka yang diamankan akan dikoneksikan dari beberapa Polda, untuk mengetahui keterkaitannya. Sebab demo yang seharusnya damai pada ujungnya rusuh.

“Yang jelas Polri dalam melakukan pengamanan selalu mengedepankan pendekatan dialogis, namun apabila menjelma rusuh maka tindakan tegas dilakukan agar demo tidak meluas. Demo anarkis merugikan semua pihak. Kecuali pihak yg memang bermain,” pungkasnya.

MANSUR

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *