4 Berita Populer Padang: Pelaku Ancaman Ditangkap dan Kasus Campak Melonjak

by -50 Views

Ringkasan Berita:

  • Seorang pria dengan inisial BA ditangkap oleh aparat kepolisian terkait dugaan tindakan ancaman menggunakan parang di Kecamatan Nanggalo.
  • Puskesmas Andalas mencatat 27 kasus yang diduga menderita campak dari bulan Mei hingga Oktober 2025.
  • Ada peningkatan jumlah kasus suspect campak di Puskesmas Pauh.
  • Selanjutnya, Puskesmas Andalas mencatat sebanyak 2.400 kasus ISPA dalam periode Agustus hingga Oktober 2025.

Lintaskriminal.co.id -, PADANG –Lihat beberapa informasi menarik yang disajikan dalam ringkasan berita terpopuler Padang setelah tayang selama 24 jam terakhir diLintaskriminal.co.id –.

Terdapat kabar mengenai penangkapan seorang pria yang diduga melakukan ancaman menggunakan senjata tajam berupa parang di Kecamatan Nanggalo, Padang.

Puskesmas Andalas, Kecamatan Padang Timur, mencatat 27 kasus dugaan campak terjadi selama bulan Mei hingga Oktober 2025.

Kasus warga yang terkena penyakit campak di Puskesmas Pauh, Kecamatan Pauh, Kota Padang mengalami kenaikan signifikan sejak awal Oktober 2025.

Peningkatan jumlah pasien di Puskesmas Pauh meningkat dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya, dengan total 15 kasus, sebagian besar melibatkan anak-anak di bawah usia 10 tahun dan balita.

Puskesmas Andalas, Kelurahan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, melaporkan sebanyak 2.400 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam rentang bulan Agustus hingga Oktober 2025.

Baca berita selengkapnya:

1. Seorang Pria di Padang Ditangkap oleh Polisi Karena Mengancam Warga dengan Parang karena Kesal

Seorang pria dengan inisial HE atau BA (37 tahun) ditangkap oleh polisi dari Polresta Padang setelah melakukan ancaman terhadap seorang warga menggunakan senjata tajam.

Inisial BA diduga mengancam seseorang di wilayah Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat, pada hari Selasa (11/11/2025) pukul 14.30 WIB.

Tindakan pelaku juga terekam oleh kamera pengawas, dan saat ini telah ditahan oleh tim Klewang Satuan Reskrim Polresta Padang.

Kepala Kepolisian Resor Kota (Kapolresta) Padang melalui Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasat Reskrim) Polresta Padang, Kompol Muhammad Yasin, mengonfirmasi penangkapan tersebut.

Kompol Muhammad Yasin menuturkan penangkapan dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dari korban terkait peristiwa pengancaman tersebut.

“Pelaku langsung kami tangani beberapa jam setelah korban, seorang warga Kota Padang melaporkan kejadian ancaman yang dialaminya,” kata Muhammad Yasin, Rabu (12/11/2025).

Tersangka ditahan bersama barang bukti berupa dua buah parang.

Saat dilakukan pemeriksaan, tersangka mengakui perbuatannya dan alasan ia melakukan tindakan tersebut karena merasa marah kepada korban.

“Saat ini kita masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut terhadap kasus ini,” katanya.

Keterangan korban kepada pihak kepolisian, saat kejadian ia mengalami ancaman dari pelaku menggunakan senjata tajam berupa parang.

Yasin menyebutkan korban mengaku sudah dua kali mendapatkan ancaman, yaitu pada Minggu tanggal 19 Oktober 2025 lalu di kawasan Jalan Raya Siteba Kecamatan Nanggalo, Kota Padang.

Kemudian, pada hari Selasa tanggal 11 November 2025 di Wilayah Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang.

Berdasarkan perbuatannya, pelaku dikenakan Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 mengenai kepemilikan, penggunaan, atau membawa senjata tajam tanpa izin sah yang digunakan untuk tindakan ancaman, dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara.

“Kami dari Polresta Padang tidak akan mentolerir segala jenis tindakan premanisme, termasuk pemerasan, pungutan liar atau ancaman di wilayah hukum Polresta Padang,” tambahnya.(*)

2. Kasus campak di Puskesmas Andalas Padang mencapai 27 orang yang dicurigai, masyarakat diminta untuk memperkuat vaksinasi anak-anaknya

Puskesmas Andalas, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, mencatat sebanyak 27 kasus dugaan campak terjadi selama bulan Mei hingga Oktober 2025.

Kepala Puskesmas Andalas, Weni Fitria Nazulis, menyebutkan bahwa penyakit campak masih mudah menjangkiti anak-anak yang berusia antara 3 hingga 5 tahun.

Bahkan, pada bulan September yang lalu, wilayah Kelurahan Jati pernah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) campak.

“KLB campak pernah terjadi di Kelurahan Jati pada bulan September lalu. Pada saat itu, dua bersaudara positif terinfeksi campak,” kata Weni saat diwawancarai Lintaskriminal.co.id, Rabu (12/11/2025).

Weni menyampaikan, penyebaran campak bisa dihindari dengan vaksinasi berkala yang tersedia secara gratis dari pemerintah.

“Vaksinasi sangat penting dalam mencegah penyebaran penyakit serta komplikasi berat, seperti radang paru-paru, infeksi telinga, hingga gangguan pada otak. Anak yang telah divaksinasi memiliki sistem imun yang lebih kuat terhadap virus,” katanya.

Ia menambahkan, saat ini terdapat 58 Posyandu yang beroperasi di wilayah kerja Puskesmas Andalas yang siap melayani masyarakat dalam memberikan vaksinasi dasar lengkap bagi anak-anak.

Kini sedang gencar dilakukan pencegahan penyakit campak melalui kolaborasi antar lembaga serta partisipasi aktif masyarakat.

Langkah ini penting karena penyebaran campak sering terjadi di lingkungan sekolah maupun daerah padat penduduk.

“Kolaborasi dari seluruh pihak sangat penting agar cakupan vaksinasi meningkat dan tidak lagi terjadi wabah penyakit di daerah kami,” katanya.

Weni juga memperingatkan warga agar tidak menganggap campak sebagai penyakit yang ringan.

Karena, jika tidak ditangani dengan benar, campak bisa menyebabkan komplikasi serius dan bahkan mengancam nyawa anak.

3. Jumlah kasus campak di Puskesmas Pauh Padang meningkat tajam sejak Oktober 2025, sementara tingkat imunisasi masih rendah

Kasus masyarakat yang terkena penyakit campak di Puskesmas Pauh, Kecamatan Pauh, Kota Padang mengalami kenaikan signifikan sejak awal Oktober 2025.

Peningkatan jumlah pasien di Puskesmas Pauh meningkat dua kali lipat dibanding bulan sebelumnya, dengan total 15 kasus, kebanyakan menyerang anak-anak berusia di bawah 10 tahun dan balita.

Kepala Puskesmas Pauh, Mela Aryanti, menjelaskan bahwa kasus campak yang dicurigai terjadi hampir setiap bulan dengan jumlah sekitar satu hingga dua laporan.

“Sejak Oktober 2025 hingga awal November 2025, peningkatannya sangat signifikan dibanding bulan sebelumnya, dua kali lipat,” katanya saat diwawancarai Lintaskriminal.co.id, Rabu (12/11/2025).

Peningkatan kasus ini terjadi secara signifikan di Kelurahan Pisang yang memiliki tingkat vaksinasi yang rendah dibandingkan dengan kelurahan lain di Puskesmas Pauh.

Gejala yang sering dialami oleh penderita campak meliputi demam, munculnya ruam, diare, dan sebagainya.

“Jika gejala awal, biasanya kami berikan vitamin dan obat yang sesuai dengan keluhan pasien. Pada tahap lanjut, kami akan melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikannya,” kata Kapus.

Kepala sekolah menilai peningkatan jumlah ini juga dipengaruhi oleh perubahan iklim yang sering terjadi belakangan ini, sehingga daya tahan tubuh anak menjadi lebih rendah.

Khususnya untuk anak yang belum menerima vaksin, kondisi sistem imun yang melemah memungkinkan virus lebih mudah berkembang biak.

Menurut Mela, langkah pencegahan yang sebaiknya dilakukan orang tua pada kondisi saat ini adalah dengan memantau anak agar tidak bermain hujan atau tinggal terlalu lama di luar ruangan ketika cuaca sedang panas maupun hujan.

“Jika anak mengalami demam, sebaiknya diberi istirahat agar sistem kekebalan tubuhnya dapat menangani virus yang masuk dan mencegahnya menyebar,” katanya.

Menghadapi angka vaksinasi yang masih sebesar 60 persen, Mela mengakui telah melakukan berbagai pendekatan kepada orang tua anak agar setuju untuk melakukan vaksinasi.

Hanya saja kesadaran orang tua yang belum sepenuhnya mantap terhadap vaksinasi, menyebabkan upaya edukasi dan sosialisasi sering kali tidak berdampak nyata.

“Kami selalu melakukan pemeriksaan untuk vaksinasi ini, tetapi jika orang tua tidak setuju, kami juga kesulitan. Bahkan ada ibu dan anak yang mengatakan ayahnya tidak memberi izin. Jelas kita tidak bisa memaksa,” katanya.

Isu vaksinasi ini menjadi masalah penting bagi Mela, karena melalui vaksinasi anak dapat terpapar virus campak dalam bentuk yang aman sehingga tidak mengalami dampak negatif.

Ia mengamati dampak vaksinasi covid 19 sejak tahun 2019 yang mengubah prasangka negatif terhadap imunisasi di kalangan masyarakat.

Berita terbaru mengenai hal itu beredar di mana-mana, mulai dari tempat belanja harian, saat menunggu anak, hingga saat sedang mengakses media sosial.

“Padahal informasi yang beredar di media sosial dan cerita yang muncul di tengah masyarakat belum terbukti kebenarannya. Namun, masyarakat percaya,” katanya.

Dalam kasus ini, Mela mengakui merasa sedikit kewalahan, tetapi terus berupaya dengan cara langsung maupun melalui anggota posyandu dan PKK di setiap kelurahan.

Usaha pendekatan PKK beberapa waktu terakhir berhasil meningkatkan angka imunisasi sebanyak 70 anak.

4. Jumlah kasus ISPA di Puskesmas Andalas mencapai 2.400 selama tiga bulan, masyarakat diminta untuk waspada terhadap cuaca ekstrem

Puskesmas Andalas, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, mencatat sebanyak 2.400 kasus penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam periode Agustus hingga Oktober 2025.

Kepala Puskesmas Andalas, Weni Fitria Nazulis, mengungkapkan bahwa tingginya jumlah kasus ISPA disebabkan oleh perubahan iklim yang tidak stabil di kawasan Kota Padang.

“Perubahan iklim ekstrem dari panas ke hujan meningkatkan kemungkinan terkena ISPA, khususnya pada anak-anak dan lansia. Kami terus mengajarkan masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh serta kebersihan lingkungan,” kata Weni saat diwawancarai Lintaskriminal.co.id, Rabu (12/11/2025).

Menurutnya, perubahan suhu dan kelembapan udara juga berpengaruh terhadap stabilitas virus dalam udara.

Virus yang menjadi penyebab ISPA cenderung bertahan lebih lama di lingkungan yang kering dan dingin.

Selain itu, perubahan pola perilaku masyarakat pada cuaca yang ekstrem, seperti meningkatkan kegiatan di dalam ruangan, juga menaikkan potensi penyebaran penyakit.

Tidak hanya ISPA, Weni menyebutkan bahwa ada 27 kasus dugaan campak yang tercatat di wilayah kerja Puskesmas Andalas sejak Mei hingga Oktober 2025.

Ia menekankan perlunya vaksinasi guna menghindari penyebaran virus campak yang masih ditemui di beberapa daerah.

“Virus campak dapat dihindari dengan vaksinasi yang tersedia secara gratis dari pemerintah. Anak-anak yang telah mendapatkan vaksin biasanya lebih aman dari ancaman penyebaran,” katanya.

Vaksinasi memiliki peran penting dalam menghindari komplikasi berat akibat campak, seperti radang paru-paru, infeksi telinga, hingga gangguan otak.

Saat ini terdapat 58 posyandu yang beroperasi di area kerja Puskesmas Andalas, yang menjadi pusat pelayanan imunisasi dan kesehatan anak.

Upaya pencegahan penyakit campak terus diperkuat melalui kolaborasi antar lembaga dan bantuan dari masyarakat.

Kolaborasi antarlembaga dan partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam mencegah penyakit menular seperti campak. Mayoritas penyebaran terjadi di sekolah maupun lingkungan sekitar, sehingga diperlukan usaha bersama,” ujar Weni.