Aturan Baru Liga Inggris: 6 Perubahan Kunci yang Mengubah Sepak Bola Musim Ini

by -145 Views

Lintaskriminal.co.id –– Musim 2025/26 Liga Premier tidak hanya membawa semangat baru bagi klub-klub Inggris, tetapi juga diiringi sejumlah perubahan aturan permainan yang akan berlaku langsung dari pekan pertama. Seperti biasanya, International Football Association Board (IFAB) bersama FIFA melakukan penyesuaian agar menjaga alur pertandingan, mengurangi perselisihan, serta meningkatkan kualitas tontonan.

Beberapa aturan ini sebelumnya telah diuji dalam kompetisi FIFA Club World Cup dan Kejuaraan Eropa U-21, dan kini siap diterapkan pada level tertinggi sepak bola Inggris. Mulai dari aturan kiper, peran kapten, hingga tindakan tegas di area penalti, semuanya dianggap akan berdampak terhadap jalannya pertandingan.

Berikut beberapa aturan terbaru yang akan diberlakukan di Premier League 2025/26, yang dikumpulkan dari BBC.

1. Aturan Delapan Detik bagi Penjaga Gawang

Salah satu perubahan yang paling mencolok adalah mengenai durasi kiper memegang bola. Dulu, batasnya enam detik dengan sanksi tendangan bebas tidak langsung – yang hampir tidak pernah diterapkan – kini aturannya lebih ketat.

Pada musim ini, pemain bertahan yang memegang bola lebih dari delapan detik akan diberi sanksi berupa tendangan sudut bagi lawan. Wasit akan memberikan peringatan dengan menghitung mundur lima detik sebelum benar-benar memberikan hukuman.

Peristiwa ini pernah terjadi dalam Piala Dunia Antarklub, saat kiper Al Hilal, Yassine Bounou, ketahuan menggenggam bola terlalu lama saat melawan Real Madrid. Untungnya bagi tim asal Arab Saudi tersebut, Los Blancos tidak mampu memanfaatkan tendangan penjuru.

Darah Cann, mantan asisten wasit Liga Premier, menganggap perubahan ini sebagai hal yang positif. Menurutnya, aturan baru akan membuat ritme pertandingan menjadi lebih cepat. Ia yakin para kiper akan segera menyesuaikan diri dan situasi yang berujung pada tendangan sudut akan jarang terjadi.

2. Hanya Kapten yang Diperbolehkan Mengajukan Keberatan

Pemandangan pemain berkumpul mengelilingi wasit sering merusak citra sepak bola. Oleh karena itu, Premier League mengikuti langkah Liga Champions dengan menerapkan aturan “hanya kapten yang boleh berbicara”.

Sekarang, hanya kapten tim yang diperbolehkan mendekati dan berbicara dengan wasit. Pemain lain yang melakukan protes dengan cara tidak sopan bisa langsung mendapat kartu kuning. Jika kapten merupakan seorang kiper, klub dapat menunjuk kapten lapangan tambahan sebelum pertandingan dimulai.

Darren Cann mengungkapkan, aturan ini bertujuan untuk menjaga martabat wasit serta mengurangi kekacauan di lapangan. “Jika wasit ingin berbicara dengan kapten, mereka akan memberi tanda dengan mengetuk lengan, yaitu isyarat dari ban kapten,” katanya. Pemain lain harus menghormati prosedur ini.

3. Denda Sentuhan Ganda Kini Bisa Diulangi

Terdapat perubahan dalam skenario tendangan penalti. Jika pemain yang menendang secara tidak sengaja melakukan dua sentuhan (seperti terpeleset lalu bola menyentuh kaki tumpuan) dan bola masuk, maka tendangan dapat diulang.

Sebelumnya, gol yang terjadi secara otomatis dibatalkan dan tendangan dianggap gagal, seperti yang dialami oleh Julian Alvarez saat bermain untuk Atletico Madrid dalam Liga Champions musim lalu. Kini, jika kejadian tersebut dinilai tidak sengaja, VAR dapat menyarankan untuk mengulang permainan.

Contoh nyata terjadi dalam pertandingan final Piala Eropa Wanita 2025, saat Beth Mead harus menendang ulang tendangan penalti setelah terpeleset. Sayangnya, upayanya yang kedua berhasil digagalkan. Namun, secara aturan permainan, semua situasi serupa kini akan ditangani dengan adil.

4. Penertiban Permainan di Area Penalti

Pengambilan bola sering kali memicu perselisihan karena pemain saling menarik atau memegang. Mulai musim ini, wasit dan VAR diminta lebih keras dalam menghadapi tindakan tersebut. Fokus utama adalah pada tujuan pemain: apakah ia ingin menguasai bola atau hanya sekadar menghentikan lawan.

Contoh terjadi saat pertandingan antara Nottingham Forest melawan Brighton, di mana Tariq Lamptey diberi hadiah penalti karena dianggap menahan Morgan Gibbs-White. Premier League merasa telah melakukan cukup baik dalam penggunaan VAR musim lalu, namun area duel bola mati masih menjadi fokus utama.

5. Perubahan Tambahan yang Lebih Kecil

Selain empat poin utama sebelumnya, terdapat beberapa perubahan kecil:

  • Umpan bola dapat diberikan kepada tim yang berpeluang menguasai bola sebelum permainan dihentikan.
  • Jika seorang pemain atau official di luar lapangan menyentuh bola yang jelas-jelas akan keluar, lawan mendapatkan tendangan bebas tidak langsung, tanpa kartu.
  • Kiper khusus kini dihitung berdasarkan sentuhan terakhir bola yang dilakukan oleh penjaga gawang, bukan sentuhan pertama.
  • Sistem offside semi-otomatis (SAOT) tetap dipakai, setelah diuji coba pada akhir musim sebelumnya.

6. Dampak Jadwal Akibat Kompetisi Eropa

Bukan perubahan aturan, tetapi penting bagi para penggemar: musim ini terdapat sembilan klub Inggris yang tampil dalam kompetisi Eropa. Hal ini berarti banyak pertandingan Premier League bisa saja mengalami perubahan jadwal, terutama jika klub-klub tersebut berhasil melaju ke babak eliminasi.

Klub-klub seperti Liverpool, Arsenal, Manchester City, Chelsea, Newcastle, dan Tottenham berpartisipasi dalam Liga Champions. Sementara itu, Aston Villa dan Nottingham Forest tampil di Liga Europa, sedangkan Crystal Palace akan berlaga di Conference League (masih menunggu keputusan banding).

Premier League telah memberi peringatan bahwa pertandingan bisa dipindahkan ke malam Minggu agar sesuai dengan jadwal Eropa, dan laga tersebut akan secara otomatis ditayangkan oleh Sky Sports.

Perubahan-perubahan dalam aturan permainan ini mungkin terlihat kecil, namun dampaknya bisa sangat besar dalam menjaga tingkat kompetitif Premier League. Kiper harus lebih cepat mengumpan bola, kapten memiliki tanggung jawab tambahan, pemain harus lebih disiplin di area penalti, dan pelaku tendangan penalti kini mendapatkan sedikit keadilan.

Musim baru Liga Premier jelas bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara atau siapa yang terdegradasi, tetapi juga bagaimana semua pihak—pemain, wasit, hingga penonton—menyesuaikan diri dengan perubahan aturan sepak bola masa kini.