Belajar dari Ammar Zoni, Mengapa Narkoba Bikin Sulit Berubah?

by -52 Views

halopadang.id – Aktor Ammar Zoni kembali menjadi perhatian masyarakat. Setelah tiga kali terlibat dalam kasus narkoba sejak 2017, kini ia kembali menghadapi konsekuensi hukum untuk yang keempat kalinya.

Perjalanan panjang perkara ini menunjukkan betapa rumitnya proses pemulihan dari ketergantungan narkoba. Meskipun telah beberapa kali menjalani rehabilitasi dan menerima hukuman, Ammar tampaknya belum berhasil lepas dari lingkaran ketergantungan zat terlarang.

  • Ammar Zoni Sering Kali Terlibat Narkoba, Apakah Ada Orang yang Tidak Bisa Berubah?
  • Mempelajari Kasus Ammar Zoni, Psikolog Mengungkap Penyebab Seseorang Kesulitan Melepaskan Diri dari Narkoba

“Motif yang didapat dari AZ saat mengonsumsi narkoba jenis sabu dan ganja adalah sebagai pelampiasan. Ketika orang tersebut menghadapi masalah dalam rumah tangga, ia menggunakan narkoba tersebut,” ujar Kombes M. Syahduddi, Kapolres Metro Jakarta Barat, dilaporkan olehhalopadang.id, Kamis (16/10/2025). 

Hal ini menimbulkan pertanyaan dari sudut pandang psikologis, mengapa pengguna terlihat tidak memiliki keinginan kuat untuk berubah, meskipun sudah menyadari konsekuensi dan bahayanya? Berikut penjelasan dari seorang psikolog.

Mengapa para pengguna narkoba sering tidak ingin mengubah kebiasaannya?

Mungkin karena otak yang sudah rusak dan kosong

Psikolog Sani Budiantini Hermawan, S.Psi, menyatakan bahwa banyak pengguna narkoba yang terlihat tidak memiliki keinginan kuat untuk berubah bukan hanya karena kurangnya kemauan, melainkan karena fungsi otak mereka telah rusak akibat ketergantungan yang sangat berat.

“Karena kerusakan otaknya sudah cukup parah. Jadi saat masa sakau tiba, gejalanya sangat berat, dia merasa kosong, cemas, dan bisa marah- marah. Itulah sebabnya mereka sering kembali lagi,” kata Sani saat diwawancarai.halopadang.id, Kamis (16/10/2025).

Kondisi kosong sering kali tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga emosional. Seseorang yang terbiasa dengan pengaruh zat terlarang mengalami kesulitan dalam menghadapi kekosongan setelah berhenti menggunakan.

Perasaan cemas, gelisah, dan kosong membuat mereka mencari jalan keluar yang cepat, dan narkoba menjadi alternatif yang sudah dikenal.

  • Ammar Zoni Kembali Tertangkap Terkait Narkoba, Psikolog Jelaskan Alasan Pecandu Kambuh Meski Sudah Menjalani Rehabilitasi
  • G-Dragon Diperiksa Narkoba Menggunakan Kacamata Murah G-Dragon Melakukan Pemeriksaan Narkoba dengan Memakai Kacamata Harga Terjangkau G-Dragon Diuji Narkoba Menggunakan Kacamata Murah G-Dragon Diperiksa Kepatuhan Narkoba dengan Kacamata Murah G-Dragon Diuji Kecocokan Narkoba Menggunakan Kacamata Murah

Relapse bukan sekadar kegagalan niat

Banyak orang di luar komunitas pengguna sering menganggap kambuhnya pecandu sebagai tanda ketidakkuatan iman atau keinginan. Padahal, menurut Sani,relapse atau kambuh merupakan bagian dari proses panjang pemulihan.

Biasanya mereka kembali karena tidak mampu menghadapi dampak dari gejala suatu zat, atau yang dikenal sebagaisubstance withdrawal,” jelasnya.

Substance withdrawalmerupakan keadaan di mana seseorang mengalami gejala fisik atau psikologis setelah berhenti mengonsumsi zat yang menyebabkan ketergantungan.

Tidak mungkin proses pemulihan dari kecanduan narkoba selesai hanya dengan keinginan atau hukuman berupa penjara.

Otak dan sistem emosional pemakai telah mengalami perubahan yang rumit sehingga memerlukan waktu dan bimbingan yang serius.

  • Orang Tua Lebih Khawatir Anaknya Kecanduan Media Sosial Daripada Narkoba
  • 8 Cara Bijak Menghadapi Pasangan yang Kecanduan Narkoba

Mengapa rehabilitasi jadi kunci?

Banyak kali, para pecandu kembali memakai narkoba bukan hanya karena ingin merasa senang, melainkan karena tubuh dan pikiran mereka tidak mampu bekerja dengan normal tanpa zat tersebut.

Itulah sebabnya rehabilitasi medis dan psikologis diperlukan untuk memulihkan sistem saraf serta mengembalikan kemampuan pengendalian diri.

Di sini pentingnya proses rehabilitasi. Hal ini berdampak jangka panjang karena orang bisarelapse begitu, karena memang tadi mungkin tingkat ketergantungannya juga sudah lebih berat,” katanya.

Tanpa bimbingan jangka panjang, para pecandu akan mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan dunia nyata setelah keluar dari penjara. Tekanan sosial, stres, serta perasaan bersalah dapat menjadi pemicu kambuhnya kembali.