Dua Tangan Dua kaki Ricky Jauwerissa bak gurita nyangkut sana sini demi untung besar Sang Paman Agustinus Theodorus

by -61 Views

LintasKriminal, Saumlaki – “Ngeri-ngeri sedap….masuk itu barang….”, untaian kata kelakar yang sering dilontarkan mantan anggota DPR RI almarhum Sutan Batugana disetiap pembicaraannya dihadapan publik.

‎”Meski kebohongan itu lari secepat kilat, suatu waktu akan dikalahkan oleh kebenaran”, sebuah konstruksi pikir dan refleksi sang maestro Profesor J. Sahetapy yang relevansinya tak lekang oleh waktu.

 

‎Dua ungkapan dari kedua tokoh dengan latar belakang berbeda itu sangat relevan dengan laku yang ditampilkan Ricky Jauwerissa ditengah bergulirnya Proyek Strategi Nasional Pengembangan Lapangan Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

‎”Ngeri-ngeri sedap, masuk itu barang…” Ricky Jauwerissa diperhadapkan pada kepentingan jabatan sebagai Bupati Kepulauan Tanimbar dimana kepentingan Bangsa dan Negara serta Masyarakat harus menjadi prioritas utama diatas kepentingan pribadi dan golongan.

‎Dilain sisi “meski kebohongan itu lari secepat kilat, suatu waktu akan dikalahkan oleh kebenaran”, kebohongan dan kepura-puraan Ricky Jauwerissa seolah memihak kepada masyarakat Tanimbar secara khusus masyarakat Desa Lermatang tak dapat disembunyikan lagi.

‎Berbagai fakta keberpihakan Ricky Jauwerissa kepada Sang Paman Agustinus Theodorus Si Anak PKI mulai dari aksi perampokan uang rakyat dengan modus Utang Pihak Ketiga alias UP3 hingga pembelian tanah lebih dari 1000 hektare di Desa Lermatang.

‎Pada pertemuan antara tim terpadu PDSK dengan masyarakat tanggal 23/5/2026 di Balai Desa Lermatang, dihadapan masyarakat dan tim terpadu PDSK Ricky Jauwerissa menyatakan dengan tegas keberpihakannya terhadap masyarakat dan meminta agar pertemuan tersebut harus diawali dengan doa adat.

‎Ditengah berlangsungnya pertemuan tersebut, ada aksi protes dari beberapa masyarakat terhadap Ricky Jauwerissa dan mereka secara langsung meprotes Bupati mereka itu dengan mengatakan; “Katong berjuang tuntut tanah dibayar Rp. 350.000 par buat kaya Agustinus Theodorus saja”.

‎Merespon protes masyarakat itu, Ricky Jauwerissa langsung menjawab; “siapa suru Kamong jual tanah par Agus Theodorus, Kamong sudah terima uang lalu pake par beli motor, mobil, urus Kamong pu anak-anak masuk Polisi, Tentara, Kuliah, bangun rumah, dan lain-lain”.

‎Mendengar jawaban Ricky Jauwerissa itu, ada seorang masyarakat yang langsung menjawab; “tukang perlente”. Jawaban itu spontan mendapat reaksi keras dari Wakil Bupati yang turut hadir karena dianggap tidak beretika.

‎Terkait aksi Paman Ricky Jauwerissa yakni Si Anak PKI Agustinus Theodorus yang merampok uang rakyat dengan modus UP3. Bukan rahasia lagi…..sejak menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Ricky Jauwerissa terus mendorong Pemerintah Daerah dalam setiap Sidang Paripurna agar segera membayar Utang Pihak Ketiga (UP3) kepada Sang Paman Si Anak PKI.

‎Ketika resmi menjabat sebagai Bupati Kepulauan Tanimbar, Ricky Jauwerissa langsung membayar UP3 kepada Sang Paman Agustinus Theodorus anak PKI itu sebesar Rp. 15 miliar dan terus didorong untuk pelunasan UP3 tersebut.

‎Tak ubahnya lagu Ambon; “antara nyaman dan cinta, Beta dilema……”, akhirnya…”ngeri-ngeri sedap, masuk itu barang……”, dengan demikian; “meski kebohongan itu lari secepat kilat, suatu waktu akan dikalahkan oleh kebenaran”.

‎Bak sebuah lagu yang berasal dari tanah Papua yang syairnya berbunyi;…..Sa su lia ko, sa su lia ko Yakobus ko jangan tipu….sa su lia ko, sa su lia ko Ricky ko jangan tipu…..sa su lia ko, sa su lia ko Agustinus ko jangan tipu…..”.

‎(Beta Tanimbar)