Karyawati Kehilangan Rp165 Juta Setelah Klik Link dari Pria yang Mengaku Teman Lama

by -51 Views

Ringkasan Berita:

  • Seorang pegawai perempuan dengan inisial RG (31) di Jakarta menjadi korban penipuan yang menyebabkan kerugian sebesar Rp165 juta.
  • Pelaku memakai cara berpura-pura sebagai teman lama dan karyawan IT yang mengelola situs perjudian.

 

Lintaskriminal.co.id –– Seorang karyawan perempuan dengan inisial RG (31) di Jakarta menjadi korban penipuan yang menyebabkan kerugian sebesar Rp165 juta.

Penipuan merupakan tindakan kriminal yang memanfaatkan kepercayaan korban, umumnya dilakukan melalui internet, dan dapat menimbulkan kerugian besar jika tidak hati-hati.

Ternyata benar, uang RG dicuri oleh seorang pria yang mengaku sebagai teman lama.

RG mengalami kerugian puluhan juta setelah diminta untuk membuka tautan yang diberikan oleh pelaku.

Sering Menerima Panggilan, Mengakui Mengenal di Aplikasi

Perkara dimulai pada awal Oktober 2025, seseorang menghubungi nomor pribadi RG yang tidak banyak orang ketahui.

Terdengar suara seorang pria yang mengklaim mengenalnya melalui salah satu aplikasi kencan. Padahal RG sama sekali tidak pernah menggunakan aplikasi tersebut.

Namun yang membuatnya lengah, pria tersebut mengetahui banyak hal tentang masa lalunya secara rinci, sehingga terlihat seperti teman lama.

“Saya waktu itu penasaran, siapa orang ini bisa tahu banyak tentang saya dan cara berbicaranya mirip seperti teman,” ujar RG, dilansir dari Tribun Jakarta pada Kamis (13/11/2025).

Selama dua minggu penuh pada awal Oktober, panggilan telepon di malam hari menjadi kebiasaan.

Pria itu, kata RG, selalu menelepon setelah pukul 22.00 WIB. Mereka berbicara hingga pukul dua atau tiga pagi.

“Saya sampai kekurangan tidur, tetapi dia selalu tahu cara membuat saya tetap berbicara melalui telepon,” kata RG yang mengakui sering tidak mendengarkan perkataan pria itu karena sudah mengantuk.

Cara Pelaku Pekerja IT Mengelola Situs Judi

Laki-laki tersebut menceritakan tentang pekerjaannya di bidang teknologi informasi, rencana proyek yang sedang berlangsung di Makau, serta hal-hal teknis terkait situs web perjudian.

Sampai suatu saat dia mengatakan Pada tanggal 9 Oktober, pria itu mengatakan bahwa dia akan pergi ke Makau.

“Ia mengatakan ingin pergi ke Makau karena mendapat proyek yang menangani masalah web perjudian,” kata RG.

Ternyata itulah permulaan dari segala malapetaka yang dirasakan RG.

Awalnya RG diminta untuk mengunjungi situs yang dikirimkan oleh pelaku dengan alasan terdapat masalah pada server sehingga perlu diakses dari luar Makau.

“Ia menelepon dan mengatakan bahwa kode webnya mengalami masalah, dan hanya bisa mendapatkan kode tersebut jika dia login,” kata RG.

Tidak berhenti di situ. Selanjutnya pelaku juga meminta korban melakukan top up dana melalui tautan yang dikirimkannya.

Ia memberikan tautan sambil berkata, “Aku selalu melakukan top up di sana. Tapi kalau pada jam-jam seperti ini, coba kamu refresh saja, nanti akan muncul kode.”

Ia terus menelepon meminta perhitungan pendapatannya. Pada saat itu, dia memasukkan dana sebesar Rp 80 juta, lalu saya diminta untuk menekan sesuai instruksi yang diberikannya hingga akhirnya angka di situs web tersebut meningkat tiga kali lipat,” ujar RG.

Asal Usul Penipuan Rp165 Juta

Ternyata itu adalah akses masuk bagi pelaku untuk memanfaatkan RG. Beberapa jam kemudian, pelaku terus menghubungi RG dan meminta agar uang dari rekening pribadi perempuan tersebut dialihkan.

Awalnya, RG diminta untuk mentransfer dana sebesar Rp 20 juta, dengan alasan pelaku mengklaim telah membuat sebuah akun untuk RG dan harus menghubungi layanan pelanggan.

RG bahkan sampai mengunjungi kantor cabang Bank untuk mentransfer dana sebesar Rp 130 juta dan Rp 15 juta ke rekening yang diberikan oleh pelaku, sehingga total uang yang hilang mencapai Rp 165 juta.

Ia memberikan rekening milik orang Indonesia. Saya bertanya, namun ia memberikan alasan panjang mengapa menggunakan pihak ketiga,” katanya.

RG mengakui dirinya dalam keadaan setengah sadar saat melakukan tindakan tersebut. Menurutnya, ia merasa terhipnotis oleh setiap perkataan yang diucapkan pelaku.

Esok harinya RG yang menyadari ada sesuatu yang tidak wajar mencoba menelusuri situs ‘Lisboa Macau’ yang disebut dikelola oleh pelaku.

Betapa terkejutnya dia bahwa banyak orang mengalami nasib yang sama akibat modus tersebut.

“Pada akhirnya saya membuka TikTok dan ternyata banyak orang yang memiliki sikap seperti itu. Saya langsung merasa kecewa,” kata RG.

Sebagai langkah pertama, RG telah melaporkan ke pihak Bank serta Indonesia Anti Scamming Center (IASC).

“Namun, untuk PPATK, yang harus bergerak adalah polisi. Oleh karena itu, saya berharap polisi segera bertindak mengirim laporan,” kata RG.

Lapor Polisi

RG (31) juga melaporkan peristiwa yang menimpa dirinya kepada aparat kepolisian.

Namun dia merasakan betapa rumitnya proses birokrasi dan penerapan hukum yang berlaku.

Hal itu membuatnya memahami mengapa banyak korban justru lebih memilih diam daripada membawa masalah ke ranah hukum.

Di akhir bulan Oktober, RG sering pergi ke Polda Metro Jaya. Ia ingin mengetahui perkembangan laporan yang dia ajukan di Polres Tangerang Selatan.

Karena, sejak membuat laporan pada 10 Oktober 2025, hingga akhir bulan belum ada kemajuan yang diterimanya.

Saat tiba di Polda Metro Jaya, RG yang datang ke gedung Direktorat Siber justru diberi arahan untuk pergi ke bagian Pengawasan Penyidik (Wassidik). Alasannya karena laporan RG tidak dibuat di Polda Metro Jaya.

Di luar ruangan Wassidik yang terletak di lantai paling atas Gedung Promoter Polda Metro Jaya, RG bertemu dengan seorang staf.

Meskipun telah membahas panjang lebar mengenai urutan kejadian ia menjadi korban penipuan hingga terkait laporan yang belum diproses, ternyata hal itu masih belum cukup bagi Wassidik untuk bekerja.

RG wajib mengirimkan surat kepada Wassidik guna melanjutkan laporan yang terhenti di Polres Tangsel.

“Bahkan memang rumit, ketika orang biasa berusaha sendiri untuk mencari keadilan. Jadi prosesnya memang panjang,” ujar RG saat berdiskusi dengan TribunJakarta.com beberapa waktu lalu.

Ikuti Proses Hukum

RG bersikeras akan tetap mematuhi seluruh prosedur yang diminta oleh pihak kepolisian.

Karena, ia ingin memberi tahu kepada korban-korban lainnya yang selama ini memilih untuk diam mengenai langkah-langkah yang perlu diambil ketika ingin mencari keadilan.

“Karena di luar sana jumlah korban sangat banyak,” kata RG.

RG akhirnya menjalani pemeriksaan sebagai korban pada awal November 2025 di Polres Tangsel.

“Sudah diberikan keterangan. Namun setelah itu tetap tidak ada informasi lagi hingga saat ini,” katanya.

Informasi terlengkap dan menarik lainnya di Googlenews Lintaskriminal.co.id –