Kronologi Kepala Sekolah Emosi Pukul Siswa, Korban Lari dan Tutupi Fakta

by -118 Views

Lintaskriminal.co.id -, Banten –Sejarah kepala sekolah (Kepsek) SMA Negeri 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, bernama Dini Fitria yang memukul seorang siswanya karena ketahuan merokok di dekat sekolah.

Kebiasaan merokok melibatkan penghisapan asap dari tembakau yang dibakar, mengandung nikotin serta bahan beracun lainnya. Asap rokok mengandung ratusan zat kimia berbahaya seperti tar, karbon monoksida, dan amonia, yang dapat memicu berbagai penyakit, khususnya gangguan pada paru-paru, jantung, dan kanker.

Dini mengungkapkan, kejadian tersebut dimulai ketika ia sedang memantau pelaksanaan program Jumat bersih pada hari Jumat (10/10/2025) pagi. Saat itu, ia melihat seorang siswa dengan inisial ILP (17) yang duduk di kelas XII ketahuan sedang merokok.

Ia tiba-tiba berteriak dari jauh. Sementara ILP langsung lari saat ketahuan oleh kepala sekolah.

“Kegiatan Jumat Bersih merupakan bagian dari rangkaian program pembentukan karakter siswa. Saya melihat dari jarak sekitar 20-30 meter, ada asap rokok di tangan anak tersebut. Saya memanggilnya dengan suara cukup keras karena jarak yang jauh. Anak itu langsung lari,” ujarnya, dilansir dari TribunBanten, Selasa (14/10/2025).

Selanjutnya, siswa tersebut tidak mengakui tindakannya yang ketahuan merokok. Ketidakjujuran ini membuat Dini marah dan meninju korban.

Saya kecewa bukan karena dia merokok, melainkan karena ketidakjujurannya. Saya spontan memberikan kritik yang tajam, bahkan sempat menyentuhnya perlahan karena sedang mengendalikan emosi. Namun saya menegaskan, tidak ada pukulan yang keras,” katanya.

Selain itu, Kepala Sekolah tersebut membantah bahwa dirinya menendang muridnya. Ia mengatakan hanya memukulnya dengan lembut.

“Saya tidak menginjak. Hanya memukul bagian punggung, dan itu juga karena emosi yang tiba-tiba. Tidak ada luka atau bekas apa pun,” katanya.

Menurut Dini, warung yang menjadi lokasi kejadian tersebut memang telah menjadi perhatian dari pihak sekolah, karena dugaan sering menjual rokok kepada siswa.

“Kami pernah memberi peringatan kepada pemilik warung agar tidak menjual rokok. Bahkan kami membuat kesepakatan, jika masih ketahuan, kantinnya akan kami tutup sementara,” katanya.

Dini berharap kejadian ini menjadi pelajaran, agar lebih waspada dan menjaga komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua. “Kami di sekolah berusaha membentuk karakter anak, bukan merusak. Jika ada kesalahan dalam cara saya memberi nasehat, pasti akan saya evaluasi,” tambahnya.

Namun, orangtua siswa yang bernama Tri Indah Alesti tidak menerima perlakuan kepala sekolah terhadap anaknya. Ia berencana akan membawa masalah ini ke ranah hukum.

“Saya tidak tulus dan tidak ridho jika anak saya dipukul. Saya akan bawa kasus ini ke jalur hukum, karena tidak bisa menerima,” tegasnya.

Berita selanjutnya Kisah menyedihkan seorang siswa SMP di Grobogan yang meninggal akibat di-bully oleh teman sekelasnya