Mengapa Obat HIV ‘Ajaib’ Memicu Kontroversi di Zimbabwe?

by -87 Views

Zimbabwe merupakan salah satu dari 10 negara pertama yang memperkenalkan Lenacapavir, suntikan HIV yang diberikan dua kali setahun. Para pakar menyebutnya sebagai inovasi penting, namun masyarakat masih meragukan harga, keamanan, dan ketersediaannya.

Sebagai salah satu dari 10 negara yang menjadi awal peluncuran, Zimbabwe akan mulai memakai Lenacapavir, profilaksis atauobat HIV yang hanya perlu disuntik dua kali dalam setahun.

“Kami sangat gembira mengumumkan bahwa Zimbabwe terpilih sebagai salah satu dari 10 negara di dunia yang akan meluncurkan lenacapavir, sebuah inovasi penting dalam perjuangan melawan HIV,” ujar Kedutaan Besar AS di Harare dalam unggahan di X.

Zimbabwe merupakan salah satu negara dengan tingkat penyebaran HIV yang paling tinggi di dunia, di mana sekitar 1,3 juta penduduk mengidap kondisi tersebut, berdasarkan data dari UNAIDS, program PBB yang menangani HIV/AIDS.

Negara di Afrika Selatan ini baru-baru ini berhasil mencapai target UNAIDS 95–95-95, yang berarti 95% dari individu yang hidup dengan HIV mengetahui kondisi mereka; 95% dari mereka yang tahu bahwa mereka terinfeksi HIV mendapatkan pengobatan antiretroviral yang efektif; dan 95% dari mereka yang sedang menjalani pengobatan berhasil mencapai penekanan virus.

Nyika, seorang ahli kesehatan masyarakat yang memiliki pengalaman luas dalam penelitian dan pelaksanaan program HIV/AIDS, menyampaikan kepada DW bahwa Zimbabwe memiliki “infrastruktur respons HIV yang sangat kuat.”

Diharapkan, pengenalan lenacapavir akan berkontribusi signifikan dalam upaya Zimbabwe mengatasi infeksi.

Dukungan dari kemitraan yang kuat seperti PEPFAR [Program Darurat Presiden ASuntuk Bantuan AIDS] dan organisasi lokal lainnya … membentuk dasar yang kuat untuk pengenalan lenacapavir,” tambah Nyika.

Peluncuran lenacapavir di Zimbabwe akan fokus pada individu yang rentan terhadap infeksi HIV, seperti remaja perempuan serta wanita yang sedang hamil dan menyusui.

Mengapa lenacapavir dianggap sebagai terobosan?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengapresiasi lenacapavir sebagai inovasi penting dalam menjaga kesehatan individu yang berpotensi terinfeksi HIV.

“Walaupun vaksin HIV belum ditemukan, lenacapavir merupakan alternatif terbaik berikutnya: obat antiretroviral jangka panjang yang telah terbukti efektif dalam uji coba mampu mencegah hampir seluruh infeksi HIV pada individu berisiko tinggi,” ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

UNAIDS juga menyebut obat ini sebagai momen penting dalam penanggulangan HIV.

“Kami menyebutnya sebagai kekuatan obat yang luar biasa,” ujar Angeli Achrekar, wakil direktur UNAIDS, kepada DW.

Saat ini, fakta bahwa obat ini hampir 100% berhasil mencegah infeksi baru sangat luar biasa, bahkan belum pernah terjadi sebelumnya. Ini merupakan hal terbaik yang kita miliki dalam penanganan HIV. Kita belum memiliki vaksin atau obat, tetapi ini sangat mengagumkan.

Mari berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Perbarui pengetahuanmu di tengah minggu, agar topik percakapan semakin menarik!

Lenacapavir diharapkan akan tersedia di 120 negara dengan pendapatan rendah dan menengah pada tahun 2027, serta diharapkan mampu mengurangi secara signifikan sekitar 1,3 juta infeksi HIV/AIDS baru setiap tahun.

Nyika menyampaikan kepada DW bahwa obat ini dianggap “sangat efisien.”

Khusus untuk pencegahan HIV, obat ini telah terbukti sangat efisien, sehingga membuatnya menarik dibandingkan dengan yang lain. Obat ini sangat efektif dalammencegah infeksi HIV apabila digunakan secara benar dan teratur,” catat Nyika.

Obat ini telah menjalani dua uji coba: yang pertama dilakukan di Afrika bagian selatan terhadap perempuan dan anak perempuan, serta yang kedua dilakukan terhadap pria gay dan biseksual serta perempuan transgender di Amerika.

Pada kedua uji coba yang dilakukan, keefektifan obat ini melebihi 99%, memberikan harapan akan kemampuan “luar biasa” dalam mencegah infeksi HIV setelah tersedia secara penuh.

Nyika menegaskan bahwa pemberian obat hanya dilakukan dua kali dalam setahun membuatnya lebih efektif karena mengurangi kejadian ketidakpatuhan terhadap pengobatan HIV.

Reaksi beragam

Beberapa penduduk Zimbabwe antusias terhadap pengenalan obat ini, sementara yang lain lebih ragu mengenai harga, keamanan, dan kemudahan akses terhadap obat tersebut.

Namun, Nyika menyatakan bahwa meskipun lenacapavir, seperti obat baru lainnya, mungkin memiliki beberapa efek samping, “data yang kami miliki menunjukkan bahwa lenacapavir sangat aman dan dapat diterima dengan baik.”

Ia mendorong negara-negara Afrika yang mengeluarkan obat ini agar bersikap terbuka dan menyampaikan secara jelas mengenai efek samping obat guna memfasilitasi penerimaannya.

Meskipun obat ini mendapat banyak pujian, harganya juga menimbulkan pertanyaan penting mengenai seberapa terjangkau “obat ajaib” ini.

“Bagaimana ini bisa bermanfaat bagi kami? Karena saya yakin ini hanya untuk orang kaya,” ujar seorang warga Uganda kepada DW, merespons biaya obat sebesar $40 (sekitar Rp662.800) per tahun, yang awalnya diperkirakan sekitar $28.000 (sekitar Rp464 juta) per orang per tahun.

Saat memulai pengobatan dengan lenacapavir, pasien harus mengonsumsi obat oral terlebih dahulu: dua tablet pada hari pertama suntikan, dan dua tablet tambahan pada hari kedua.

Untuk mengurangi kekhawatiran terkait biaya, Nyika menyarankan negosiasi yang dilakukan oleh negara dengan pendapatan menengah dan rendah serta potensi produksi lokal atau regional.

“Ini dapat membantu mengurangi biaya, tetapi juga memanfaatkan rantai pasok yang ada, sistem kesehatan masyarakat, serta berbagai modul layanan akan memastikan akses yang adil,” tulis Nyika.

Kolaborasi dengan PEPFAR dan Global Fund diharapkan mampu menurunkan secara signifikan harga “obat ajaib” ini.

Sementara itu, Kenya, Nigeria, Zambia, Uganda, Tanzania, Afrika Selatan, Eswatini, dan Botswana juga masuk dalam daftar negara yang dipilih untuk peluncuran pada Januari 2026.

Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris.

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Yuniman Farid

ind:content_author: Adwoa Tenkoramaa Domena