Bunda mungkin pernah mendengar tentang ibu hamil yang menginginkan makan tanah. Namun, di beberapa negara, termasuk Indonesia, terdapat pula kebiasaan mengonsumsi tanah saat hamil. Apakah hal ini berisiko bagi janin?
Praktik mengonsumsi tanah liat, yang dikenal sebagai geofagi, sering ditemukan pada perempuan hamil di masyarakat tradisional dan pedesaan. Contohnya di Indonesia, para ibu hamil mengonsumsi tanah liat ampo di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Mengenal kebiasaan mengonsumsi tanah selama kehamilan dan manfaatnya
Melansir laman Aip.Org,Tradisi mengonsumsi tanah liat geofahi memiliki akar yang kuat di kalangan perempuan di Afrika. Berdasarkan tradisi, khususnya ibu hamil mendapatkan manfaat dari mengonsumsi tanah liat. Apa saja manfaatnya?
Mengonsumsi tanah liat diyakini mampu mengeluarkan racun dari tubuh. Tanah liat ini dipercaya mampu menyerap racun di dalam usus. Racun tersebut dihambat masuk ke dalam aliran darah dan justru dikeluarkan bersama buangan tubuh.
Selain itu, mengonsumsi tanah liat juga bisa membantu mengurangi mual atau menjadi sumber kalsium serta mineral lainnya. Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research menemukan bahwa kebiasaan geofagi dapat menyebabkan tingkat timbal berbahaya pada bayi yang masih dalam kandungan, meskipun ada manfaat yang seharusnya.
Tren mengonsumsi tanah liat juga muncul di Amerika Serikat. Tanah liat ini dikonsumsi sebagai cara pengobatan. Namun, FDA memberi peringatan bahwa bahan ini bisa jadi berbahaya jika dikonsumsi.
Tanah liat telah digunakan dalam obat-obatan yang dijual bebas. Pada awal tahun 1990-an, kaolin, yaitu tanah liat putih yang lembut, merupakan bahan aktif dari Kaopectate, obat untuk mengatasi diare. Kaolin kemudian diganti dengan atapulgit, jenis tanah liat penyerap lainnya, hingga tahun 2003 ketika FDA menyatakan efektivitasnya tidak jelas.
Banyak hewan secara sengaja mengonsumsi tanah. Oleh karena itu, tidak mengejutkan jika manusia juga melakukan hal yang sama,” ujar Peter Abrahams, mantan ahli geokimia lingkungan yang mempelajari tanah dan kesehatan manusia.
Ia menyebut manfaat yang diduga sebagai ‘hipotesis menarik’ untuk memperjelas praktik tersebut, namun belum pernah dibuktikan.
Ketahui bahaya mengonsumsi tanah terhadap janin
Ruth Kutalek dari Universitas Kedokteran Vienna sedang berbelanja di pasar-pasar di Tanzania. Di sana ia melihat benda aneh yang dijual seperti gumpalan tanah liat berbentuk rokok, yang digunakan untuk dikonsumsi.
Kutalek kemudian menggali informasi dari berbagai sumber dan menemukan bahwa hanya ada sedikit daerah di dunia di mana geofagi tidak pernah dilakukan pada masa tertentu dalam sejarah. Ia menemukan bahwa penelitian menyebutkan bahwa setengah dari seluruh wanita hamil di Afrika mengonsumsi tanah liat, tetapi ketika Kutalek mulai berbicara dengan para wanita tersebut, ia mulai yakin bahwa jumlahnya jauh lebih besar.
Tanah secara alami mengandung sedikit timbal, dan bahkan jumlah kecil logam yang menumpuk dalam tubuh bisa menimbulkan masalah.
Kutalek meragukan apakah geofagi berisiko bagi perempuan dan anak-anaknya yang belum lahir. Sayangnya, data yang tersedia sangat terbatas. “Tidak ada yang mempelajarinya,” katanya. Ia mulai meneliti isu ini bersama rekan kerjanya, Claudia Gundacker.
Tim tersebut melakukan penelitian pengujian di dua daerah terpencil di Republik Demokratik Kongo, sebuah negara besar di Afrika Tengah. Sebanyak 48 perempuan yang selalu membawa tanah liat dalam tas mereka diwawancarai. Perempuan-perempuan ini menyatakan bahwa mereka membeli tanah liat dari pasar atau mengumpulkannya dari dasar sungai.
Kutalek dan teman-temannya tidak menguji kadar timbal di dalam tanah; mereka justru mengukur jumlah timbal yang terdapat dalam darah ibu serta tali pusar setelah bayi lahir.
Kandungan timbal dalam sampel darah yang diambil dari ibu dan anak di Republik Demokratik Kongo lebih dari empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan yang ditemukan di Austria, tempat ibu biasanya tidak mengonsumsi tanah.
Bayi yang baru lahir di Negara Republik Demokratik Kongo memiliki kadar timbal dalam darah rata-rata sebesar 60 mikrogram per liter, sementara di Austria rata-ratanya adalah 13.
Karena timbal menumpuk di dalam tubuh, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan bahwa tidak ada tingkat timbal dalam darah yang dianggap aman bagi anak-anak. Namun, CDC dan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) menganggap kadar timbal dalam darah sebesar 50 mikrogram atau lebih per liter pada anak-anak sebagai kondisi yang memerlukan perhatian khusus.
Kedua pihak sepakat bahwa kadar timbal apa pun dapat memengaruhi pertumbuhan atau pendengaran bayi, atau menyebabkan masalah belajar dan perilaku. Dalam kasus yang parah, keracunan timbal bisa berujung pada kematian. Keracunan timbal di Amerika Serikat telah menurun sejak timbal dilarang digunakan dalam bensin dan cat pada akhir tahun 1970-an. Namun, orang masih bisa terpapar timbal melalui debu cat, pipa air lama, atau peralatan tanah liat.
“Timbal yang menumpuk dalam tubuh berisiko bagi perkembangan saraf janin. Kami belum mengetahui kadar timbal yang aman. Sebaiknya tidak ada konsumsi timbal,” katanya.
Kutalek yakin penelitiannya mulai mengungkap keterkaitan antara geofagi dan peningkatan kadar timbal dalam darah — cukup untuk meyakinkannya bahwa tanah liat tidak boleh dimakan, terutama bagi ibu hamil.
Abrahams tidak merasa kaget dengan temuan Kutalek. “Saya tidak akan pernah menyarankan [makan tanah]. Ada beberapa risiko bagi ibu hamil, dan paparan timbal merupakan ancaman bagi bayi yang belum lahir,” katanya.
Penampakan ampo/ Foto: dok. Atun Dwi Astuti |
Tradisi ibu-ibu hamil mengonsumsi tanah liat di Indonesia
Indonesia memiliki olahan tanah liat yang disebut Ampo. Para ibu hamil juga termasuk yang mengonsumsinya. Ampo adalah olahan tanah liat murni berbentuk gulungan tipis tanah liat kering dengan ukuran sebesar jari manusia. Salah satu pengrajin Ampo di Kerten, Imogiri, Bantul, yaitu Atun Dwi Astuti (43) menjelaskan bahwa Ampo memiliki dua ukuran.
Atun menjelaskan, proses pembuatannya dimulai dengan membersihkan tanah liat dari sisa batu agar lebih mudah dibentuk. Selanjutnya, tanah liat tersebut dipadatkan dan dibentuk menjadi bulat sebesar ban motor agar memudahkan saat proses pemotongan.
Pertama-tama tanah tersebut kita rendam dalam air, agar dapat dibentuk. Setelah 1-2 hari nanti tanahnya akan menjadi lembut, seperti pulen, karena sebelumnya keras,” jelas Atun.
“Kita terus mencetak bola tersebut, menggunakan bahan velg motor. Kita padatkan terus dan biarkan semalaman, lalu kita angin-anginkan agar sedikit lebih keras. Setelah itu dikempleng, dipukul-pukul, baru kemudian bisa dipotong,” tambahnya.
Atun menyebutkan, terdapat mitos khusus mengenai jenis Ampo yang dikonsumsi. Dikatakan bahwa jika ibu hamil mengonsumsi Ampo, maka kulit bayi yang lahir akan menjadi putih bersih. Ia juga mengakui pernah menerima pesanan Ampo untuk ibu hamil.
Menurutnya, Ampo untuk ibu hamil diolah melalui proses pengeringan dengan dipanggang. Atun mengatakan, Ampo yang dipanggang memiliki aroma yang wangi.
Saya pernah mendengar sebelumnya bahwa orang yang ngidam biasanya mengonsumsi Ampo, tetapi Ampo yang berukuran kecil. Prosesnya setelah dipotong, diangin-anginkan sebentar lalu dipanggang menggunakan sabut kelapa. Nanti aromanya wangi,” katanya.
“Katanya agar anaknya (kulitnya) putih. Dulu ada yang mencari juga, yaitu Ampo kecil yang dipanggang. Baunya harum, seperti tanah kering yang terkena hujan,” tambahnya.
|
Pilihan Redaksi
|
Untuk Ibu-ibu yang ingin berbagi tentang pengasuhan anak dan mendapatkan banyak hadiah, ayo bergabung dengan komunitas Lintaskriminal.co.id -Squad. Daftar dengan klik diSINI. Gratis!

Penampakan ampo/ Foto: dok. Atun Dwi Astuti
Mengenal Ngupati, Tradisi Bulanan Keempat dalam Budaya Jawa untuk Ibu Hamil
7 Kebiasaan Khas yang Dilakukan Keluarga Kerajaan Inggris Saat Hamil dan Melahirkan
3 Aturan Kerajaan yang Dikhianati Meghan Markle Saat Sedang Hamil