Pelaku Ledakan SMA 72 Jakarta Diperiksa, Polisi Minta Waktu Ungkap Hasil

by -91 Views

Ringkasan Berita:

  • Petugas kepolisian telah memeriksa ABH terkait ledakan di SMA 72, hasil pemeriksaan masih menunggu pengumuman dari pihak berwajib.
  • Belasan siswa mengalami luka, beberapa masih dalam perawatan, keluarga korban menyampaikan harapan serta pengaruh psikologis.
  • Tiga bom buatan sendiri yang masih aktif ditemukan di sebuah sekolah, para penyidik sedang menyelidiki asal bahan peledaknya.

Lintaskriminal.co.id -, JAKARTA –Polda Metro Jaya telah melakukan pemeriksaan terhadap anak yang terlibat dalam konflik dengan hukum (ABH), tersangka pelaku ledakan bom di SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Pemeriksaan dilakukan pada Rabu (3/12/2025), tetapi hasilnya belum dapat diungkapkan.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyebutkan bahwa penyidik masih melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut secara terus-menerus.

“Sudah dimintai keterangan beberapa waktu lalu, mohon diberi kesempatan. (Pemeriksaan) 3 Desember 2025,” katanya, Minggu (7/12/2025).

Meskipun pemeriksaan sudah dilakukan, Budi menegaskan bahwa penyidik masih memerlukan waktu untuk memverifikasi seluruh informasi yang ada.

“Tenang saja, berikan ruang terlebih dahulu kepada penyidik untuk menyelidiki kasus ini, karena prosesnya masih berlangsung secara terus-menerus,” katanya.

 

Detik-detik Ledakan

Peristiwa ledakan bom buatan sendiri terjadi pada Jumat, 7 November 2025 sekitar pukul 12.15 WIB di area SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, yaitu di dalam kompleks Kodamar TNI Angkatan Laut.

Berdasarkan keterangan saksi, suara ledakan terdengar saat para siswa dan guru sedang menjalani salat Jumat di masjid sekolah. Ledakan pertama terjadi saat khutbah sedang berlangsung, membuat jemaah kaget. Beberapa saat kemudian, terdengar ledakan kedua dari arah yang berbeda, menyebabkan kekacauan besar di dalam dan sekitar masjid.

Akibat ledakan, 96 orang siswa, guru, dan penduduk sekitar mengalami cedera. Beberapa korban langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, sementara yang lain ditangani di pusat kesehatan sekolah.

Hasil penyelidikan di lokasi kejadian menunjukkan terdapat tujuh bom buatan sendiri yang disiapkan oleh tersangka. Dari jumlah tersebut, empat bom meledak, sedangkan tiga lainnya ditemukan dalam kondisi siap dan segera diamankan oleh tim Gegana Brimob serta Puslabfor Polri.

Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Irjen Pol Asep Edi Suheri menyampaikan bahwa Bidang Kesehatan Polda Metro Jaya telah memberikan perawatan medis serta pemulihan trauma kepada siswa, guru, dan keluarga korban. Pos pelayanan korban juga dibuka di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih guna memberikan bantuan tambahan.

 

Pelaku Sosok Siswa Tertutup

Irjen Pol Asep Edi Suheri menyebut tersangka pelaku adalah seorang siswa aktif yang dikenal tertutup dan jarang berinteraksi dengan orang lain. “ABH dikenal sebagai seseorang yang tertutup, jarang bersosialisasi, serta tertarik pada materi-materi kekerasan,” katanya dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa (11/11/2025).

Kapolda menyatakan, berdasarkan penyelidikan sementara, ABH bertindak secara mandiri dan tidak terkait dengan jaringan terorisme. “Berdasarkan hasil penyelidikan, anak tersebut bertindak sendirian, tidak ada tanda-tanda keterlibatan kelompok tertentu,” katanya.

Sampai saat ini, penyidik telah memanggil 16 saksi, yang terdiri dari korban, keluarga ABH, dan pihak sekolah. Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Densus 88 serta Puslabfor Polri melakukan sterilisasi lokasi dan mengamankan bom rakitan yang masih aktif. Tim laboratorium forensik saat ini sedang meneliti jenis dan kekuatan ledakan bahan peledak, sementara penggeledahan di rumah tersangka dilakukan untuk mengetahui asal bahan dan alat perakitan.

 

Korban & Suara Keluarga

Hingga awal bulan Desember, dua siswa yang menjadi korban ledakan masih dirawat di rumah sakit, sementara empat lainnya menjalani perawatan di RS Islam Cempaka Putih dan RSCM. Pihak kepolisian menyatakan kondisi mereka mulai membaik.

Salah satu keluarga korban, Indri (46), orang tua siswa kelas X, menceritakan bahwa anaknya mengalami luka akibat pecahan benda tajam. “Alhamdulillah tidak terlalu parah, tetapi masih trauma. Kami berharap kasus ini ditangani secara menyeluruh,” katanya.

Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Bidokkes Polda Metro Jaya juga menyediakan layanan konseling trauma bagi siswa, guru, dan keluarga korban guna membantu proses pemulihan psikologis.

 

Tragedi & Transparansi

Ledakan di SMA 72 Jakarta bukan hanya masalah hukum, tetapi juga sebuah tragedi kemanusiaan. Masyarakat menantikan hasil pemeriksaan polisi sebagai wujud kejelasan, sementara korban dan keluarga memerlukan pemulihan nyata agar rasa aman di sekolah dapat kembali tercipta.