Pembunuhan Massal di Sydney, Ratusan Peluru Ditembakkan

by -142 Views

SYDNEY, halopadang.id — Seorang pria ditangkap oleh polisi setelah diperkirakan menembak hingga seratus kali ke arah jalan yang ramai di Sydney, Australia, pada malam Minggu (5/10/2025).

Insiden tersebut melukai 20 orang, dengan satu di antaranya mengalami cedera parah. Kepolisian pada hari Senin (6/10/2025) mengonfirmasi bahwa kejadian ini tidak berkaitan dengan terorisme maupun aktivitas kelompok kriminal.

Kepolisian Provinsi New South Wales (NSW) pernah menerima laporan adanya tembakan di wilayah Inner West, Sydney.

Saat kejadian terjadi, pelaku menembakkan senjata secara sembarangan ke arah kendaraan yang melintas serta petugas kepolisian, sebagaimana dilaporkanAFP.

Joe Azar, seorang karyawan kantor yang berada di seberang tempat kejadian, mengira suara tembakan itu berasal dari kembang api atau batu yang dilemparkan ke jendela.

“Parahnya, kaca depan mobil seseorang tiba-tiba retak, kemudian kaca halte bus juga rusak,” kata Azar kepadaThe Sydney Morning Herald.

“Pada saat itu, rasanya seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. Segalanya terjadi begitu cepat, saya bahkan tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi,” tambahnya.

Stephen Parry dari Polisi NSW menyebutkan, tersangka melepaskan antara 50 hingga 100 peluru.

Petugas yang jumlahnya banyak segera mengelilingi lokasi dan menutup jalan. Mereka kemudian naik ke sebuah unit di atas toko dan menangkap seorang pria berusia 60 tahun. Dua senapan diamankan dari tempat kejadian.

Pelaku dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan perawatan karena cedera yang diduga terjadi saat proses penangkapan. Sampai saat ini, pihak kepolisian belum mengeluarkan tuntutan hukum terhadapnya.

Seorang korban datang sendirian ke rumah sakit dengan luka tembak dan dilaporkan dalam keadaan kritis.

Sementara 19 orang lainnya mengalami cedera akibat potongan logam atau kaca, beberapa di antaranya memerlukan perawatan medis.

Kepala Polisi NSW, Mal Lanyon, menggambarkan kejadian ini sebagai peristiwa yang “serius dan menakutkan.”

Meskipun motif pelaku masih belum jelas, Lanyon menegaskan tidak ada tanda-tanda keterlibatan dengan kelompok teror atau geng kejahatan.

Seorang saksi mata yang bernama Tadgh menyampaikan kepadaABC bahwa ia sedang menyaksikan pertandingan rugby ketika mendengar suara tembakan.

Penyelidikan oleh pihak kepolisian masih berlangsung guna mengungkap alasan di balik penembakan tersebut.

Penganiayaan massal jarang terjadi di Australia. Pemerintah negara tersebut telah melarang penggunaan senjata otomatis dan semi-otomatis sejak peristiwa Port Arthur di Tazmania pada 1996, saat seorang penembak tunggal membunuh 35 orang.

Pada Agustus 2025, tersangka bernama Dezi Freeman sempat kabur setelah diduga menembak dua petugas kepolisian di daerah terpencil dan hingga saat ini masih dalam pencarian.

Pada tahun 2022, enam orang, termasuk dua petugas kepolisian, meninggal dunia akibat tembakan di dekat kota kecil Wieambilla, Queensland.