
Warga Sukamulya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi, pada dini hari Sabtu (27/9) akhirnya menjadi ramai bukan karena acara pernikahan, juga bukan karena ronda keamanan rutin.
Warga berbondong-bondong keluar rumah, sebagian duduk di sekitar SDN 05 Sukamulya, sebagian lainnya memperhatikan jalan gelap.
Mereka sedang menunggu sesuatu, makhluk pocong palsu yang dikenal suka mencuri uang.
Kisah horor yang bercampur dengan tindak kriminal ini dimulai dari unggahan video di media sosial yang langsung memicu heboh. Dalam potongan video tersebut disebutkan bahwa beberapa kali bentuk menyerupai pocong terlihat di sekitar desa.
Anehnya, setiap kali kejadian tersebut terjadi, selalu ada orang yang mengklaim kehilangan uang. Jumlahnya cukup besar, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu.
“Sudah lima kali muncul, tapi tidak terlihat jelas,” demikian pengakuan seorang warga yang terekam. Menurut mereka, makhluk itu bukan pocong biasa, melainkan hasil rekayasa yang disebut sebagai sosok manusia yang konon menggunakan ilmu gelap atau trik supernatural untuk menakuti serta merugikan orang lain.
Isu tersebut semakin meluas setelah beberapa akun di media sosial membagikannya. Dalam waktu singkat, unggahan tersebut mendapatkan hampir seribu juta like, ratusan komentar, dan puluhan kali diunggah ulang.
Netizen terpecah menjadi dua kelompok, ada yang percaya, ada yang berkomentar “itu hanya pencuri biasa yang dibungkus dengan sarung putih”, dan ada pula yang menuduhnya sebagai hoaks untuk mencari perhatian.
Bagi penduduk Sukamulya, hal ini bukan hanya cerita lucu. “Tidur jadi tidak nyenyak, karena setiap ada kabar pocong muncul, keesokan harinya ada saja yang kehilangan uang. Kami jadi merasa takut juga,” kata salah seorang warga yang ikut menjaga di belakang sekolah.
Kondisi desa mulai berubah. Pada malam hari, sejumlah pemuda tampak berjaga sambil membawa senter dan tongkat kayu. Ibu-ibu sibuk berkumpul, membicarakan apakah benar ada pocong pencuri atau mungkin saja pelaku jahat yang sengaja menggunakan topeng mistis agar warga takut dan tidak berani melawan.
Peristiwa ini mengingatkan pada kisah-kisah lama di desa, di mana mitos pocong palsu sering digunakan untuk menutupi tindakan pencurian.
“Biasanya, ketika pencuri menggunakan trik seperti itu, orang menjadi takut keluar rumah. Akhirnya, uang atau barang bisa diambil tanpa terdeteksi,” kata seorang tokoh kampung.
Meskipun demikian, belum ada bukti nyata mengenai keberadaan si pocong. Sampai saat ini, polisi maupun perangkat desa belum memberikan penjelasan resmi. Namun, masyarakat berharap ada tindakan segera agar kegaduhan tidak semakin meluas.
“Jika benar ada pencuri, maka harus ditangkap. Jika hanya isu, mohon diperbaiki. Jangan sampai warga terus merasa cemas,” ujar warga lainnya.
Jelas, perdebatan mengenai pocong yang disebut sebagai pencuri ini masih menjadi topik hangat, baik di warung kopi kampung Sukamulya maupun di kolom komentar Instagram.
Di sisi lain, penduduk memutuskan untuk berjaga di malam hari, tidak ingin terkecoh lagi, hingga misteri ini benar-benar terungkap, apakah pocong palsu tersebut nyata atau hanya permainan pencuri dengan trik kain kafan?
