Saksi Ungkap Peristiwa Bentrok dan Penembakan di Timor Leste

by -135 Views

Laporan Jurnalis lintaskriminal.co.id, Dionisius Rebon

lintaskriminal.co.id, KEFAMENANU – Seorang saksi dari peristiwa penembakan warga sipil Indonesia bernama Paulus Taek Oki oleh anggota UPF Negara Timor Leste yang bernama Balthasar Tpoi mengungkapkan urutan kejadian lengkap terkait penembakan di perbatasan RI-RDTL, Distrik Oecusse.

Menurutnya, pada hari Minggu, 24 Agustus 2025, sejumlah petani dari Desa Inbate yang mengelola lahan di kawasan perbatasan RI-RDTL melihat kegiatan UPF Timor Leste dan warga negara Timor Leste di sekitar garis batas. Masyarakat menyaksikan mereka berencana membuka jalan menuju lahan milik penduduk untuk pembangunan patok perbatasan.

“Bapak Antonius Kaet (warga yang menyaksikan kegiatan UPF Timor Leste) bertanya kepada mereka, apa yang kalian buat. Mereka menjawab, kami ingin membuat PAL (patok batas). Pada saat itu, dari pihak UPF Timor Leste mengatakan nanti kami akan melaporkannya ke Danpos Nino (Desa Inbate dan Buk),” katanya.

Saat itu, menurut Balthasar, Antonius meminta UPF Timor Leste untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Danpos Nino. Meskipun demikian, lokasi pembangunan patok tersebut berada di atas tanah milik warga Desa Inbate yang atas nama Antonius.

Pada hari Minggu tanggal 24 Agustus 2025 malam, sejumlah warga Desa Inbate berkumpul dan membahas mengenai pembangunan patok batas oleh UPF Negara Timor Leste. Jarak antara patok batas lama dan patok yang akan dibangun sekitar 300 meter.

Masyarakat menolak pembangunan patok batas di lokasi yang telah disebutkan. Pasalnya, sudah terdapat patok batas lama yang selama ini digunakan sebagai acuan oleh warga.

Pada hari Senin, 25 Agustus 2025, sebanyak 24 warga Desa Inbate rencananya akan pergi ke lokasi tersebut dengan maksud memotong alang-alang untuk pembangunan rumah adat. Ketika sampai di lokasi, beberapa warga Negara Timor Leste sedang berada di tempat tersebut menggunakan peralatan untuk membangun patok perbatasan.

Saat melihat penduduk Desa Inbate di lokasi tersebut, mereka kemudian kembali ke wilayah Negara Timor Leste. Tidak lama setelahnya, warga dari Negara Timor Leste tersebut kembali lagi ke tempat tersebut bersama sejumlah anggota UPF Timor Leste.

Ada 7 orang (UPF Timor Leste) yang membawa senjata semua. Ketika mereka kembali ke sini, mereka memanggil kami untuk bertemu. Kami tidak ingin. Kami menyuruh mereka pulang tetapi mereka tidak mau. Mereka bersikeras agar kami bertemu,” katanya.

Masyarakat enggan berhadapan dengan UPF dan warga Timor Leste tersebut. Sebab, mereka tidak setuju dengan pembangunan patok batas di lokasi baru. Masyarakat juga telah menyampaikan pernyataan sikap dan mengirimkannya kepada Bupati TTU beberapa waktu lalu.

 

Karena enggan memenuhi permintaan UPF Timor Leste untuk berjumpa, menurut Balthasar, UPF Timor Leste kemudian melepaskan tembakan. Sebanyak 7 kali suara tembakan terdengar di lokasi kejadian. Sementara itu, 1 kali tembakan terdengar sedikit jauh dari lokasi kejadian.

Diperkirakan, tembakan yang terdengar cukup jauh dari lokasi kejadian tersebut mengenai bahu seorang warga bernama Paulus Taek Oki.

“Setelah mereka pulang, baru Paulus Oki menyentuh bahunya dan berkata bahwa dia sudah terluka. Coba jika dia (mengetahui ada) luka itu, mereka masih akan berada di sini, pasti salah satu dari mereka juga akan mati,” katanya.

Insiden penembakan dan pertikaian ini merupakan yang pertama kalinya terjadi di tempat tersebut. Masyarakat juga merasa marah karena pembangunan jalan menuju lokasi proyek patok batas baru tidak pernah disampaikan atau diketahui oleh Pemerintah Desa Inbate.

Jika terdapat rencana pembangunan patok batas di lokasi yang baru, sebaiknya dilakukan negosiasi dan diskusi dengan masyarakat atau pemerintah setempat.(bbr)

Lihat berita-berita lain dari lintaskriminal.co.id di GOOGLE NEWS