Tim SAR Gunakan Alat Berat, 40 Jenazah Ditemukan Termasuk 3 Bagian Tubuh di Ambruknya Ponpes Al Khoziny

by -130 Views

Lintaskriminal.co.id –— Tim SAR gabungan terus bergerak sepanjang hari ini setelah infrastruktur musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, runtuh dan menimpa para santri serta pengajar. Hingga Minggu (5/10) pukul 16.30 WIB, jumlah kantong jenazah yang berhasil ditarik mencapai 40 dengan penemuan tambahan 3 bagian tubuh yang masih dalam proses identifikasi.

Proses evakuasi korban semakin sulit akibat puing beton dan kerangka baja yang menghambat akses penyelamatan. Tim SAR harus memutuskan untuk memotong kerangka baja secara perlahan dan mengangkat puing secara bertahap agar tidak membahayakan petugas.

Pada operasi hari Minggu sore ini, Basarnas bekerja sama dengan tim SAR daerah lain mempergunakan lebih banyak alat berat dan peralatan penyelamatan. Namun penggunaan alat berat sempat dihentikan sementara agar dapat memberi ruang bagi pemotongan logam dan pengangkatan manual.

Sebelumnya, jumlah korban jiwa yang tercatat sebanyak 39 orang dan dua lainnya ditemukan dalam bentuk bagian tubuh. Sementara itu, total korban dari kejadian ini mencapai 143 orang dengan 104 orang selamat.

Semua jenazah yang berhasil dievakuasi langsung dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim untuk proses identifikasi oleh tim DVI. Posko DVI terus beroperasi dengan memadukan data ante-mortem dan postmortem agar dapat memastikan identitas setiap korban.

Tim DVI Polda Jatim telah menerima paling sedikit 17 jenazah dan satu bagian tubuh di posko Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya hingga malam Sabtu (4/10). Malam itu, Tim DVI berhasil mengidentifikasi tiga jenazah yang merupakan santri berdasarkan data medis, gigi, sidik jari, serta barang milik korban.

Korban pertama yang telah diidentifikasi adalah Firman Nur (16), penduduk Jalan Tembok Lor 3 No. 8 A Surabaya, melalui pemeriksaan gigi, aspek medis, dan barang-barang terkait. Korban kedua bernama Muhammad Azka Ibadur Rahman (13), berasal dari Jalan Randu Indah No. 14 Kenjeran Surabaya, dikenali melalui pemeriksaan medis dan barang-barang yang dimilikinya.

Korban ketiga bernama Daul Milal (15), penduduk Jalan Sido Kapasan Gang 8 No. 18 Surabaya, berhasil dikenali melalui sidik jari, kondisi gigi, data medis, serta barang bawaan korban. Ketiganya diserahkan kepada keluarga pada malam itu karena kondisi jenazah masih utuh dan telah melewati proses alami.

Menurut Kabiddokes Polda Jatim Kombes Pol M Khusnan Marzuki, proses identifikasi jenazah terus dipercepat sesuai harapan keluarga yang menantikan kepastian. Dalam pernyataannya, Khusnan menyampaikan belasungkawa mendalam atas kerugian besar yang dialami oleh santri dan keluarga mereka.

“Pada hari Sabtu, 4 Oktober 2025, Tim DVI Polda Jatim berhasil melakukan identifikasi terhadap tiga jenazah,” kata Kabiddokes Polda Jatim Kombes Pol M Khusnan Marzuki di depan kamar mayat Rumah Sakit Bhayangkara, Surabaya, malam Sabtu (4/10).

Proses DVI terus melakukan pemeriksaan kesesuaian antara informasi yang diperoleh dari keluarga korban sebelum kematian dengan data yang didapat di lokasi setelah kematian. Setiap rencana kemajuan identifikasi ditujukan agar tidak ada jenazah yang tertinggal di bawah puing-puing.

Evakuasi melibatkan berbagai instansi dari berbagai wilayah: Kantor SAR Surabaya, BSG, SAR Semarang, SAR Yogyakarta, serta BPBD Kabupaten Sidoarjo dan provinsi. Kelompok relawan seperti Banser, MDMC, SAR Astra, LPBI NU, dan BAZNAS juga turut serta secara besar-besaran dalam upaya pencarian korban.

Emi Freezer dari Basarnas mengatakan proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati demi menjaga keselamatan petugas. “Kami mengangkat puing satu per satu, memotong rangka baja, kemudian melakukan evakuasi jenazah,” ujar Emi di lokasi reruntuhan musala.

Ia menegaskan bahwa penggunaan alat berat bukanlah wajib, karena di beberapa area material puing memerlukan pendekatan manual agar risiko lebih kecil. Seluruh bagian utara bangunan menjadi perhatian utama dalam pencarian agar potensi korban tidak tertinggal di bawah puing-puing.

Petugas pencarian dan penyelamatan menekankan satu hal: yang terpenting adalah memastikan tidak ada korban yang tertinggal. Setiap ruang sempit, celah, atau sudut reruntuhan diperiksa demi menjaga keselamatan dan harga diri para korban.

Sambil terus melakukan penggalian dan pemotongan struktur bangunan yang rusak, Tim DVI meningkatkan kerja sama dengan keluarga korban. Keluarga diminta untuk memberikan data medis sebelum kejadian (ante-mortem) agar tim dapat mempercepat proses identifikasi jenazah.

Saat ini terdapat 40 kantong jenazah, termasuk 3 bagian tubuh, di posko, masyarakat menantikan pengungkapan nama-nama korban yang belum diketahui. Kecepatan dalam proses identifikasi menjadi harapan besar bagi masyarakat dan keluarga santri yang menjadi korban.