Ayah Diduga Bunuh Anaknya di Bengkulu, Serahkan Diri Karena Takut Dihukum Warga

by -45 Views

Ringkasan Berita:

  1. Seorang ayah dengan inisial Ro (40) di Rejang Lebong diduga melakukan kekerasan terhadap bayi kandungnya hingga meninggal dunia.
  2. Ro menyerahkan diri ke Polres Rejang Lebong pada Senin (10/11/2025) karena takut dihakimi warga.
  3. Korban, bayi H (5 bulan), ditemukan mengalami memar dan tangan diduga patah.
  4. Ibu dari korban juga mengalami kekerasan dan telah menerima bimbingan dari UPTD PPA.
  5. Polisi masih menyelidiki penyebab pasti kematian bayi dan memeriksa saksi.

Liputan Jurnalis Lintaskriminal.co.id -, M. Rizki Wahyudi

Lintaskriminal.co.id -, REJANG LEBONG –Seorang ayah dari Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu yang diduga melakukan penganiayaan terhadap bayinya berusia 5 bulan hingga meninggal dunia, menyerahkan diri ke pihak berwajib karena takut dikeroyok oleh warga sekitar.

Pelaku berinisial Ro (40) menyerahkan diri ke Polres Rejang Lebong pada Senin (10/11/2025) petang karena takut diamuk warga setelah kematian tragis bayi berusia lima bulan di Desa Sinar Gunung, Kecamatan Sindang Dataran, Rejang Lebong, Bengkulu.

Bayi berinisial H yang sedang dalam kondisi memprihatinkan diduga menjadi korban kekerasan atau penganiayaan yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri.

Kasus ini kini tengah ditangani oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Rejang Lebong.

Informasi yang diterima Lintaskriminal.co.id menyebutkan, sebelum kejadian tragis tersebut, orang tua korban, pasangan R dan U, pernah mengalami pertengkaran hebat pada Jumat (7/11/2025).

Pada saat itu, ibu berencana pergi dari rumah dan kembali ke rumah orang tuanya sambil membawa dua anaknya, termasuk bayi H.

Pasangan tersebut diketahui memiliki tiga orang anak.

Namun selama perjalanan, ibu tersebut membatalkan rencananya dan kembali ke rumah untuk menyerahkan bayi itu kepada suaminya.

Ia pernah mengatakan kepada suaminya, “kelola anakmu.”

Tidak terduga, pada saat yang sama ibu mengakui mengalami kekerasan.

Ia menerima pukulan di area wajah yang menyebabkan luka.

Setelah kejadian itu, ibu memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah dan kembali ke tempat tinggal orang tuanya.

Esok harinya, atau lebih tepatnya pada hari Minggu (9/11/2025), bayi H dilaporkan meninggal dunia.

Jasadnya ditemukan dalam keadaan memprihatinkan, dengan tangan yang diduga patah atau hancur, serta terdapat luka memar di beberapa bagian tubuh.

Sebelumnya, bayi tersebut pernah mengalami demam yang sangat tinggi.

Dalam pernyataannya, ayah tersebut mengakui pernah memegang tangan bayi yang menangis keras hingga menyebabkan patah atau retak.

Ia akhirnya mengakui merasa cemas karena demam tinggi yang dialami anaknya, lalu membawa bayi tersebut ke tukang pijat untuk pengobatan.

Namun usaha tersebut gagal menyelamatkan nyawa anaknya.

Jenazah bayi H dikuburkan pada hari yang sama.

Kasus tersebut selanjutnya dilaporkan kepada aparat kepolisian satu hari setelahnya, yaitu pada hari Senin (10/11/2025).

Saat ini, pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut guna menemukan penyebab pasti kematian korban.

UPTD PPA Rejang Lebong juga telah memberikan bantuan kepada ibu korban yang turut menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga.

Kepala UPTD PPA Rejang Lebong, Titin Verayensi, mengakui terjadinya peristiwa tersebut.

Ia mengatakan pihaknya telah memberikan pendampingan dan bekerja sama dengan Unit PPA Satreskrim Polres Rejang Lebong.

“Ya, dugaan kasus kekerasan dalam rumah tangga, korban adalah ibu dan anak, anaknya meninggal,” ujar Titin.

Kepala Desa Sinar Gunung, Firman, juga mengakui terjadinya peristiwa tersebut.

Namun sampai saat ini, ia mengakui belum memahami dengan jelas alasan di balik kejadian tersebut.

“Ya ada, tetapi kita juga tidak tahu motifnya karena apa,” singkat Firman.

Takut Diamuk Warga

Setelah sempat menimbulkan perhatian, pihak kepolisian akhirnya melakukan penahanan terhadap ayah tersebut.

Ro ditahan setelah keluarganya menyerahkan dirinya ke Polres Rejang Lebong pada Senin (10/11/2025) sore karena khawatir Ro dihakimi oleh warga.

Bayi dengan inisial H ditemukan dalam keadaan tubuh penuh luka memar dan tangan diduga mengalami patah tulang.

Saat ini, kasus tersebut sedang ditangani oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Rejang Lebong.

Bayi miskin tersebut diduga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan oleh ayah kandungnya, Ro (40).

Peristiwa tersebut telah dilaporkan dan saat ini sedang dalam proses penyelidikan oleh Unit PPA Satreskrim Polres Rejang Lebong.

Kepala Bagian Humas Polres Rejang Lebong, AKP Sinar Simanjuntak, menyatakan bahwa laporan tersebut saat ini sedang dalam proses penanganan.

Laporan mengenai dugaan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dibuat oleh istri terlapor, Ul (34). Sampai saat ini, penyebab pasti kematian bayi tersebut belum diketahui.

Sementara itu, sang istri mengalami luka pada bagian bibir akibat dipukul.

“Benar, masih dalam proses penyelidikan oleh Unit PPA. Mengenai penyebab kematian bayinya, belum diketahui,” kata Sinar.

Sinar menambahkan, pihak kepolisian sedang mencari saksi dan mengumpulkan bukti-bukti lainnya.

Sementara itu, tersangka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) telah ditahan di Polres Rejang Lebong dan saat ini masih menjalani pemeriksaan yang mendalam.

“Terhadap tersangka atau yang dilaporkan, sudah ditahan dan diserahkan oleh pihak keluarga,” tutup Sinar.

Sosok Pelaku

Sayangnya, Ro dianggap sebagai sosok yang tenang dan ramah oleh masyarakat sekitar.

Tidak pernah sekalipun penduduk mendengar tentang adanya keributan atau masalah dalam rumah tangganya.

Oleh karena itu, berita bahwa ia diduga menyiksa anaknya sendiri hingga meninggal dunia benar-benar membuat kaget penduduk desa.

Kepala Desa Sinar Gunung, Firman, menyebutkan bahwa keluarga tersebut selama ini terkenal tertutup namun hidup harmonis dan tidak pernah menimbulkan masalah di sekitarnya.

Bahkan, tersangka pelaku adalah seseorang yang selama ini dikenal baik.

“Dia selama ini orangnya diam, ramah, dan terlihat baik. Tidak pernah ada masalah, jadi kami semua kaget ketika mendengar berita ini,” kata Firman kepada Lintaskriminal.co.id – pada Rabu (12/11/2025).

Kejadian tersebut memicu kekacauan di kalangan warga, terutama setelah beredar informasi bahwa bayi tersebut meninggal karena dugaan kekerasan dalam rumah tangga.

Firman mengira, pelaku terjebak dalam emosi sehingga tidak mampu mengendalikan tindakannya.

“Kejadian tersebut benar-benar membingungkan. Ketika mengetahui bayinya meninggal, warga langsung kaget. Terlebih setelah muncul dugaan adanya kekerasan,” tambahnya.

Seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya mengakui bahwa ia tidak pernah mendengar adanya perselisihan dari rumah keluarga tersebut.

Ia baru menyadari peristiwa itu setelah informasi menyebar melalui media sosial dan warga lainnya.

“Kami tahu setelah ramai dibicarakan di desa, Pak. Sebelumnya tidak pernah mendengar mereka berkelahi atau berselisih. Selama ini suaminya terlihat baik dan ramah,” kata sumber.

Sementara itu, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait dugaan kekerasan dalam rumah tangga yang diduga menjadi penyebab kematian bayi tersebut.

Beberapa saksi telah diwawancarai guna mengungkap urutan kejadian yang sebenarnya.

Bergabunglah dengan grup Facebook Lintaskriminal.co.id – untuk mendapatkan informasi terbaru