Ayah Menahan Air Mata Ceritakan Aqil yang Setia Salat Berjamaah, Kenang Pelukan Terakhir

by -216 Views

Liputan Jurnalis Lintaskriminal.co.id -, Luhur Pambudi

Lintaskriminal.co.id -, SURABAYA– Ainun Naim Ibsah berusaha keras menahan air mata saat menceritakan sosok putranya, Muhammad Iklil Ibrohim Al Aqil (16), yang menjadi korban runtuhnya Gedung Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (29/9/2025) lalu.

Di ruang tunggu keluarga Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya, pria tiga anak itu hanya bisa duduk di kursi yang telah disediakan oleh petugas, secara khusus.

Posisi kursi tersebut berada di sisi timur dengan arah menghadap ke kiblat.

Di seberang barisan kursi Ainun Naim, terdapat peti jenazah yang ditempatkan menghadap kiblat.

Ainun Naim Ibsah bersama sejumlah anggota keluarga korban yang jenazahnya telah teridentifikasi, sedang menantikan saat pelaksanaan salat jenazah.

Kerutan di sekitar mata Ainun Naim terlihat jelas, ia berusaha keras untuk menahan air mata yang hampir mengalir turun ke pipinya.

Aqil, panggilan yang disukai oleh anak tersebut, adalah seorang anak yang memiliki sifat pendiam, patuh, dan konsisten dalam menjalankan sholat fardhu berjamaah.

Sejauh ini, Aqil jarang menentang setiap perkataan orang tuanya. Figur yang selalu sabar dan tidak pernah mengeluh.

“Ia tidak pernah mengeluh,” katanya saat diwawancara oleh Lintaskriminal.co.id -di Rumah Sakit Bhayangkara Surabaya, pada Jumat (10/10/2025) malam.

Bahkan perihal urusan ibadah.

Menurut Ainun Naim, putranya adalah seseorang yang konsisten dalam menjalankan sholat wajib secara berjamaah.

Meskipun untuk waktu ibadah shalat subuh, Aqil selalu mampu bangun sendiri dari tidur tanpa perlu dipaksa atau dibangunkan oleh orang tuanya.

Kemudian, Aqil akan berjalan bersamanya menuju masjid Ponpes Miftahul Hidayah, yang merupakan ponpes milik keluarga besar mereka.

Ainun Naim adalah pengasuh pesantren yang berada di Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

“Jika sedang liburan di rumah, dia tetap melaksanakan salat berjamaah bersamaku. Selalu melakukannya secara berjamaah. Saat subuh, dia bangun sendiri. Tidak perlu dipaksa atau dipukul; cukup ajak untuk salat,” katanya.

Ainun Naim merasa bahwa kebiasaan Aqil dalam menjaga konsistensi ibadah selama ini, menyebabkannya meninggal dalam kondisi sedang beribadah, yaitu saat sedang menuntut ilmu di pondok dan ketika berada di tengah-tengah salat asar.

“Saya ikhlas, insyaallahSaya mengucapkan terima kasih kepada pondok yang telah memberikan ilmu kepada anak saya. Saya ikhlas dan ridha. Kepada kiai, saya mohon maaf atas kekurangan Aqil selama berada di pondok,” ujarnya.

Mengenai tanda-tanda yang mengiringi kepergian putranya, Ainun Naim mengatakan bahwa ia tidak mengetahuinya secara pasti.

Namun, ia teringat permintaan terakhir dan keluarga saat berada di rumah karena liburan pondok pada momen ‘mauludan’ dua bulan lalu.

Bahwa Aqil berharap diberikan tambahan pakaian kemeja koko berwarna putih yang akan digunakan dalam kegiatan belajar dan ibadah selama tinggal di pondok.

Intuisi, ya, ketika akan pulang dan kembali ke asrama dia berkata; baju Aqil yang putih kurang banyak. Memang kegiatan di asrama selalu menggunakan baju putih. Saat shalat pun pakai baju putih. Jadi baju baru jarang dibawa,” katanya.

Saat mengantarkan Aqil kembali ke Ponpes Al Khoziny setelah liburan maulud yang panjang, itulah momen terakhir ia memeluknya.

Ainun Naim mengantarkan putranya sendiri ke pesantren tersebut dengan menggunakan kendaraan pribadi.

Ia tidak menyangka bahwa pelukan dengan anaknya pada malam hari di pondok pesantren tersebut akan menjadi momen terakhir bersama anaknya, yang beberapa minggu kemudian menjadi salah satu korban meninggal dalam insiden runtuhnya gedung Ponpes Al Khoziny.

“Ya, kali terakhir berkomunikasi, saat akan kembali ke pondok, dia meminta diantarkan oleh saya. Jika saat kembali ke rumah, dia naik kereta sendirian. Tapi saat kembali ke pondok, dia ingin diantarkan oleh saya,” tambahnya.

Sementara itu, dua jenazah dan satu bagian tubuh korban runtuhnya Gedung Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, berhasil dikenali atau diketahui identitasnya oleh Tim DVI Polda Jatim di Posko DVI RS Bhayangkara Surabaya, pada Jumat (10/10/2025) malam.

Maka, telah teridentifikasi 50 jenazah korban kejadian tersebut dengan nama yang diketahui dan sudah diserahkan kepada keluarganya, dari total 67 kantong jenazah yang diterima oleh Posko DVI RS Bhayangkara Surabaya.

Saat ini, masih terdapat 14 kantong jenazah yang sedang dalam proses identifikasi oleh Tim DVI RS Bhayangkara Surabaya, dan akan berlangsung hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

Berikut adalah identitas dua jenazah yang diumumkan oleh Tim DVI RS Bhayangkara Surabaya:

1) Kantong jenazah dengan nomor PM RSB B-031 telah diidentifikasi melalui gigi dan data medis, sesuai dengan nomor AM-051 yang merujuk pada Moh Alfin Mutawakkilalallah, seorang laki-laki berusia 17 tahun, tinggal di Desa Lomaer, Blega, Bangkalan, Madura.

2) Kantong jenazah dengan nomor PM RSB B-049 telah diidentifikasi melalui gigi dan pemeriksaan medis, sesuai dengan nomor AM-004, yaitu Muhammad Iklil Ibrohim Al Aqil, laki-laki berusia 15 tahun, tinggal di Dusun Tegal Gebang RT 002 RW 021, Sukorejo, Bangsalsari, Jember.

Kabiddokkes Polda Jatim, Kombes Pol dr M Khusnan Marzuki menyampaikan, satu kantong jenazah yang berisi bagian tubuh berhasil dikenali identitasnya menggunakan metode pencocokan DNA.

Satu bagian tubuh dengan nomor PM-056.1 ternyata sesuai secara DNA dan medis dengan nomor PM-030 yang telah teridentifikasi bernama Mochammad Haikal Ridwan, laki-laki berusia 14 tahun, tinggal di Dusun Barat Leke, Sendang Dajah, Labang, Bangkalan, Madura.

“Untuk Muhammad Haikal Ridwan, keluarganya telah dihubungi. Selanjutnya akan tergantung dari keluarga apa yang akan dilakukan, dan kami akan membantu sesuai dengan permintaan keluarga,” katanya dalam konferensi pers di Lobby Ruang Immunoterapi RS Bhayangkara Surabaya.

Sementara itu, kejadian runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo pada Senin (29/9/2025) mengakibatkan 171 korban.

Rincian lengkapnya, 67 orang meninggal dunia (termasuk 8 bagian tubuh), dan 104 orang cedera.

Berikut 50 nama korban yang meninggal dunia yang telah berhasil diidentifikasi atau diketahui:

1) Maulana Alfan Ibrahimavic

2) Muhammad Soleh

3) Mohammad Mashudulhaq

4) Rafi Catur Okta Mulya Pamungkas

5) Muhammed Agus Ubaidillah

6) Firman Noor

7) M Azka Ibadurrahman

8) Daul Milal

9) Nuruddin

10) Ahmad Rijalul Haq

11) Mohamad Royhan Mustofa

12) Abdul Fattah

13) Wasiur Rohib

14) Mohammad Aziz Pratama Yudistira

15) Moh Davin

16) Muhammad Ali Rahbini

17) Sulaiman Hadi.

18) Mohammad Anas Fahmi

19) Muhammad Reza Syfai Akbar

20) Afifuddin Zarkasi

21) Moh Rizki Maulana Saputra

22) Moh Ubaidillah

23) Virgiawan Narendra Sugiarto

24) Moch Ali Sirojuddin

25) Muhammad Azam Habibi

26) M Maulidy Hasany Kamil

27) Ach Fathoni Abil Falaf

28) M Azam Alby Alfa Himam

29) Khoirul Mutaqin

30) Farhan

31) Syafiuddin

32) Achmad Ghiffary Haekal Nur

33) Muhammad Ubaidillah

34)  Achmad Alby Fahri

35) Abdus Somad

36) Imam Junaidi

37) Mohammad Fajri Ali

38) Muhammad Nasi Hudin

39) Achmad Suwaifi

40) Mochammad Haikal Ridwan

41) Moch Adam Fidiansyah

42) Muhammad Raihan Jamil

43) Mohammad Abdul Rohman Nafis

44) Muhammad Ghifari Chasbi

45) Mohammad Toni Afandi

46) Achmad Ramzi Fariki

47) Abdullah As Syadid

48) Arif Afandi

49) Moh Alfin Mutawakkilalallah

50) Muhammad Iklil Ibrohim Al Aqil