Balita Meninggal di Sukabumi, Tubuh Penuh Cacing

by -133 Views

Lintaskriminal.co.id –Seorang anak berusia 3 tahun bernama Raya meninggal secara mendadak, dan sejumlah cacing berhasil dikeluarkan dari tubuhnya, bahkan disebutkan bahwa masih ada banyak telur atau larva yang menetap di dalam tubuhnya.

Raya meninggal pada 22 Juli 2025. Video pengangkatan cacing tersebut kemudian menyebar luas di media sosial.

Raya adalah putra dari pasangan Udin (32) dan Endah (38). Keluarga tersebut tinggal di Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi.

Endah diketahui mengidap ODGJ sedangkan Udin, ayahnya, menderita TBC.

Mereka tinggal di sebuah rumah kamar dengan desain panggung.

Di bagian bawah terdapat kandang ayam yang kotor.

Dikira Raya tertular cacing dari tempat itu, karena terbiasa bermain dan tinggal di bawah rumah.

Kondisi Raya ditemukan oleh tim aktivis sosial Iin atau @rumah_teduh_sahabat_iin, pada 13 Juli 2025.

Kondisi Raya saat itu sudah tidak sadar dan segera dibawa ke rumah sakit oleh Iin.

Menurut Iin, ibu Raya yang memiliki kondisi mental yang tidak stabil, menjawab bahwa tidak ada uang ketika ditanya mengapa tidak membawa Raya ke rumah sakit.

Oleh karena itu, Iin bersama timnya berkeliling mencari bantuan.

Namun menurut Iin, ia seringkali dianggap sebagai pihak yang harus mengambil alih oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kota Sukabumi, Dinsos Kabupaten Sukabumi, Dinas Kesehatan Sukabumi, bahkan oleh lembaga zakat besar di Sukabumi.

Semua kata Iin menolak untuk membantu Raya.

Karena tidak ada hasil dan tidak ada bantuan biaya, Raya meninggal pada 22 Juli 2025.

Tim Iin menanggung sendiri pengeluaran rumah sakit sebesar Rp 23 juta.

 

Meskipun demikian, Iin telah menunjukkan video cacing gelang sepanjang 15 cm yang ditarik keluar dari hidung Raya, dalam keadaan masih hidup.

Selain itu, ratusan cacing keluar dari alat kelamin dan dubur Raya, serta sebagian besar dari cacing tersebut masih hidup.

Bahkan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa otak Raya juga telah dihiasi oleh cacing.

Paling tidak, cacing-cacing yang keluar dari tubuh Raya beratnya mencapai 1 kg.

Penjelasan Kepala Desa 

Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, mengakui situasi keluarga Raya.

Ia menjelaskan bahwa kedua orang tua Raya diduga mengalami gangguan mental, sehingga hanya mampu merawat anaknya dengan sebaik mungkin.

“Orang tua keduanya mengalami keterbelakangan mental, sehingga kemampuan dalam merawat anaknya kurang, tidak tahu secara pasti kondisi anaknya,” ujar Wardi kepada awak media di RSUD Sekarwangi Cibadak, Selasa (19/8/2025).

Sebelum keadaannya memburuk, Raya sering tinggal dalam kondisi yang tidak sehat, misalnya bermain di bawah rumah bersama ayam.

Wardi mengatakan, Raya juga mengalami demam dan penyakit pernapasan, tetapi terhambat oleh administrasi karena keluarga tidak memiliki Kartu Keluarga (KK) dan BPJS.

“Baru setelah kondisinya semakin buruk, salah satu anggota keluarga yang mengenal rumah teduh (filantropi) memberikan laporan, sehingga langsung dijemput menggunakan ambulans. Pemerintah desa sudah mengetahui sampai situasi ini. Namun sebelum dibawa ke rumah teduh, Raya seringkali masuk dan keluar dari klinik serta puskesmas,” ujar Wardi.

Raya kemudian menjalani perawatan selama sembilan hari berkat bantuan dari organisasi filantropi, namun meninggal pada 22 Juli 2025.

“Ya sering kita pantau, kalau ada rezeki sedikit kita beri juga, karena orangtuanya tidak bisa bekerja. Tapi mengenai penyakitnya, kita tidak tahu pasti. Raya dan kakaknya tidak seperti orangtuanya (mengalami keterbelakangan mental),” kata Wardi.

Gubernur Jabar Meradang

Peristiwa ini mendapat perhatian dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Ia memberikan sanksi berupa penundaan penggunaan dana desa bagi Desa Cianaga.

“Saya memutuskan untuk memberikan sanksi kepada desa tersebut. Saya menunda bantuan desa karena desa itu tidak mampu mengatasi masalah warganya,” kata Dedi saat berpidato dalam Rapat Paripurna DPRD Jabar, Selasa (19/8/2025), dilansir dari 10drama.com TV.

Dedi menganggap, perangkat desa hingga RT tidak menjalankan tugasnya dengan baik dan gagal dalam mengelola masyarakatnya.

“Hari ini kita menghadapi kisah seorang anak berusia tiga tahun dari Kabupaten Sukabumi di sebuah desa terpencil, ibunya adalah ODGJ, sedangkan ayahnya menderita TBC. Anak tersebut setiap hari berada di bawah. Ia meninggal di rumah sakit dengan kondisi seluruh cacing keluar dari hidungnya,” kata Dedi.

Ia menekankan, kasus ini menggambarkan kurangnya empati dari birokrasi.

“Betapa kita kikuk dan lalai. Sistem birokrasi yang terstruktur hingga tingkat RT ternyata tidak mampu menciptakan empati,” tegasnya.(*)

 

Artikel ini telah tayang di 10drama.com dengan judul “Perkara Anak di Sukabumi Meninggal Karena Cacing, Dedi Mulyadi Diberi Sanksi

Lihat berita terkini Lintaskriminal.co.id -diGoogle News

Lihat informasi tambahan di media sosialFacebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi