Ibu, pernahkah Anda melihat benjolan kecil di area paha atau sekitar perut anak kecil? Tanda ini mungkin merupakan gejala hernia inguinalis yang perlu Ibu waspadai.
Benjolan tersebut dapat muncul secara tiba-tiba pada bayi. Banyak orang tua yang merasa khawatir saat melihatnya, meskipun kondisi ini biasanya dapat diatasi.
Terkadang, benjolan tersebut muncul ketika bayi menangis, lalu menghilang saat bayi merasa tenang. Kemunculan dan penghilangan benjolan ini dapat menjadi petunjuk bagi Ibu untuk mengidentifikasi kondisi tertentu pada bayi.
Dilansir dari laman healthychildrensekitar 3 hingga 5 persen bayi sehat yang lahir pada usia kehamilan penuh mengalami hernia inguinal. Pada bayi yang lahir lebih awal, angkanya jauh lebih tinggi, bahkan bisa mencapai 30 persen.
Jika hernia inguinal tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi berbahaya. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk mengenali gejalanya dan memahami tindakan yang mungkin diperlukan.
Kemudian, sebenarnya apa yang dimaksud dengan hernia inguinal pada bayi? Apakah kondisi ini bisa membahayakan kesehatan anak kecil?
Mengenal apa itu hernia inguinalis pada bayi?
Hernia inguinal pada bayi terjadi ketika muncul benjolan di area selangkangan. Kata “inguinalis” merujuk pada daerah antara perut dan paha bayi.
Melansir dari Cleveland ClinicHernia inguinalis terjadi ketika sebagian usus bayi menonjol melalui celah di dinding perut melalui saluran inguinal. Ibu dapat melihat bahwa saluran ini berjalan dari perut anak hingga alat kelaminnya.
Terkadang, saluran yang dikenal sebagaiprocessus vaginalisIni tidak menutup dengan sempurna, Ibu. Celah ini dapat menyebabkan usus atau bahkan ovarium bayi perempuan terjepit di saluran inguinal.
Perbedaan antara hernia inguinalis dan hernia umbilikalis pada bayi
Setelah memahami apa itu hernia inguinalis pada Si Kecil, kini saatnya Bunda mengetahui perbedaan antara hernia inguinalis dan hernia umbilikalis. Namun sebelumnya, mari lebih dulu mengenal apa itu hernia umbilikalis.
Hernia umbilikalis terjadi ketika jaringan atau organ menonjol melalui cincin umbilikalis yang sudah melemah. Umumnya, benjolan ini tampak lembut di sekitar area pusar dan biasanya tidak menyebabkan rasa sakit pada bayi.
Berikut perbedaan antara hernia inguinalis dan hernia umbilikalis, berdasarkan informasi dari berbagai sumber:
- Lokasi munculnya benjolanHernia umbilikalis terjadi di area pusar, sementara hernia inguinalis muncul di daerah paha atau skrotum.
- Tekstur dan rasa sakitGejala pada hernia umbilikalis umumnya lembut dan tidak menimbulkan nyeri, sementara hernia inguinalis cenderung lebih rentan mengalami gangguan.
- DiagnosisDiagnosis hernia umbilikalis biasanya dapat dilakukan hanya melalui pemeriksaan fisik, sedangkan hernia inguinalis terkadang memerlukan bantuan ultrasonografi untuk memastikan kondisinya.
- Kondisi saat bayi aktifHernia inguinalis lebih umum terlihat ketika bayi menangis, batuk, atau berusaha mengedan, sedangkan hernia umbilikalis cenderung lebih stabil.
- Risiko komplikasiHernia inguinalis memiliki potensi terjadinya inkarserasi atau tersangkut yang lebih besar dibandingkan hernia umbilikalis, sehingga memerlukan penanganan medis yang lebih cepat.
Penyebab hernia inguinalis
Beberapa faktor penyebab hernia inguinalis pada bayi yang perlu Bunda ketahui agar lebih waspada terhadap kondisi Si Kecil. Simak penjelasannya seperti yang dikutip dariCleveland Clinic dan Pediatric Surgery International:
1. Saluran inguinal pada bayi
Semua bayi lahir dengan saluran yang mirip terowongan yang berjalan dari perut menuju alat kelamin. Saluran ini dapat menjadi jalur bagi organ untuk menonjol jika tidak tertutup dengan sempurna.
2. Perkembangan organ testis pada bayi laki-laki
Saat janin laki-laki berkembang, testis terbentuk di dalam rongga perut kemudian turun melalui saluran inguinalis ke kantung kemaluan. Proses ini adalah hal yang wajar, namun terkadang saluran tersebut tidak menutup sepenuhnya, sehingga dapat menyebabkan risiko hernia.
3. Hernia inguinal pada bayi perempuan
Hernia inguinalis jarang dialami oleh bayi perempuan, namun tetap bisa terjadi. Anak perempuan juga memiliki saluran inguinal dan hernia dapat melibatkan bagian sistem reproduksi, seperti ovarium, sehingga Ibu perlu tetap waspada.
Tanda hernia inguinal pada bayi
Selain adanya benjolan yang tampak membesar ketika bayi menangis atau mengejan, Ibu juga dapat mengamati tanda-tanda lain, seperti yang dikutip dariCleveland Clinic:
- Bayi terlihat tidak nyaman atau menangis, meskipun keadaannya membaik saat beristirahat.
- Mengalami rasa tekanan atau beban di area panggul.
- Kantung kemaluan terlihat membengkak atau membesar.
- Daerah benjolan terasa hangat atau membara.
- Bayi menjadi lebih tidak tenang dan kesulitan dalam menyusu seperti biasanya.
Jika hernia mengalami penjepitan atau terperangkap, kondisi ini merupakan keadaan darurat. Segera cari pertolongan jika Si Kecil menunjukkan gejala berikut ini:
- Nyeri parah atau sensasi lembut ketika disentuh di sekitar benjolan.
- Kemerahan atau lebam muncul di daerah benjolan.
- Bayi kehilangan nafsu makan.
- Demam yang muncul bersamaan dengan gejala lain.
- Mual atau muntah yang tidak biasa.
- Kotoran memiliki darah atau mengalami perubahan warna yang signifikan.
Risiko hernia inguinalis
Risiko utama hernia inguinalis pada anak adalah komplikasi berat seperti terjepit (incarceration) atau tercekik (strangulasi) Kondisi ini dapat mengganggu aliran darah ke sebagian usus yang menyebabkan rasa sakit dan menurunnya selera makan pada bayi.
Hernia yang muncul di satu sisi paha bisa meningkatkan risiko terjadinya hernia di sisi lainnya. Setelah menjalani operasi, kebanyakan anak umumnya pulih dengan baik, namun Ibu perlu tetap waspada, karena benjolan dapat kembali muncul.
Cara menghindari hernia inguinalis pada bayi
Biasanya, hernia pada anak terjadi akibat faktor keturunan atau bawaan genetik. Oleh karena itu, pencegahan sejak dini sangat penting dilakukan agar Si Kecil tidak mengalami risiko penyakit ini. Berikut cara mencegah hernia inguinalis pada bayi yang dilaporkan dari berbagai sumber:
1. Pilihlah makanan yang kaya akan gizi dan mengandung serat tinggi
Berikan anak Anda makanan harian yang bergizi, sehat, dan kaya akan serat untuk menjaga sistem pencernaannya tetap lancar. Pola makan ini juga dapat menghindari sembelit yang berpotensi menyebabkan hernia.
Buah segar seperti pisang, apel, dan jeruk, beserta sayuran dan kacang-kacangan, sangat disarankan. Ibu dapat menggabungkan bahan-bahan ini menjadi camilan yang cocok untuk Anak Kecil.
2. Pertahankan berat badan ideal anak Anda
Bayi yang tampak gemuk juga perlu diperhatikan berat badannya, Ibu. Karena dengan memastikan Anak Kecil tetap dalam berat badan yang ideal dapat mengurangi risiko terjadinya hernia.
Selain itu, hal ini juga bermanfaat untuk kesehatan jangka panjang. Ibu dapat mengawasi pola makan agar berat badan tetap seimbang dan dalam kondisi baik.
Jaga kesehatan ibu agar tidak mengalami kondisi hernia
Ibu, menjaga kesehatan diri sendiri juga penting karena faktor keturunan bisa memengaruhi Si Kecil. Jika kedua orang tua pernah mengalami hernia, bayi memiliki risiko lebih besar untuk mengalami kondisi serupa.
Hindari mengangkat barang yang terlalu berat, lakukan aktivitas olahraga ringan secara teratur, serta hindari terkena asap rokok. Dengan langkah-langkah ini, Ibu bisa mengurangi kemungkinan anak mengalami hernia.
Cara mengatasi hernia inguinalis pada bayi
Hernia inguinal pada bayi biasanya perlu ditangani melalui pembedahan, Bu. Prosedurnya singkat, berlangsung kurang dari satu jam, dan pemantauan pascaoperasi dapat dilakukan secara jalan keluar. Berikut beberapa pengobatan yang umum dilakukan seperti dikutip dariCleveland Clinic:
1. Persiapan sebelum operasi
Anak kecil akan diberikan anestesi agar tertidur dan tidak merasakan nyeri saat prosedur dilakukan. Hal ini memudahkan operasi berjalan dengan lancar tanpa menyebabkan bayi merasa cemas atau sakit.
2. Proses operasi
Melalui luka kecil di area paha, isi hernia akan dikembalikan ke dalam rongga perut dan saluran inguinalis ditutup kembali. Luka ini biasanya ditutup dengan pita medis halus yang kecil di kulit si kecil.
3. Pemulihan setelah operasi
Sebagian besar bayi dapat pulang beberapa jam setelah tindakan medis, namun bayi yang lahir lebih awal harus tinggal di rumah sakit untuk pengawasan tambahan. Perawatan setelahnya di rumah tetap diperlukan agar proses pemulihan berjalan maksimal.
4. Kontrol pasca operasi
Dokter biasanya merencanakan pemeriksaan 7-10 hari setelah tindakan bedah untuk memeriksa luka dan memastikan Si Kecil pulih sepenuhnya. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi masalah lebih dini jika terjadi komplikasi.
5. Perawatan di rumah
Rasa sakit ringan setelah operasi adalah hal yang wajar dan biasanya akan berkurang dalam waktu 1-2 minggu. Bayi dapat dibersihkan dengan menggunakan spons setelah tindakan bedah, namun ibu sebaiknya menghindari mandi di bak selama 2-3 hari.
6. Pengelolaan pita penutup luka
Pita luka akan mengelupas secara alami, jadi jangan dicabut sendiri, Bu, karena dapat mengganggu proses penyembuhan si kecil. Jika pita tidak lepas, dokter akan menanganinya saat kontrol berikutnya.
|
Pilihan Redaksi
|
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk joinkomunitas Lintaskriminal.co.id -Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

Apakah Vaksin MMR pada Anak Dikaitkan dengan Autisme? Ini Fakta yang Perlu Diketahui
Demam Berkejang pada Anak, Kenali Gejalanya
Kasus Pertama Bayi Meninggal Akibat Batuk Rejan, Penurunan Angka Vaksinasi Menjadi Perhatian