Nuruddin, Korban Ponpes Al-Khoziny yang Dikenal Ceria

by -143 Views

Lintaskriminal.co.id -, SURABAYA– Nuruddin (13) salah satu dari 10 santri Pondok Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo yang berhasil diidentifikasi oleh Anggota Tim DVI RS Bhayangkara Surabaya, Minggu (5/10/2025) sore, dikenal sebagai sosok yang tenang dan ceria.

Paman Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa ia belum mendengar langsung kisah dari korban mengenai firasat yang mengiringi kepergian keponakannya.

Namun, dirinya sendiri mengaku sempat merasakan situasi aneh yang mungkin dapat diartikan sebagai firasat petanda kejadian ambruknya bangunan bertingkat tersebut. 

Ihya mengungkapkan, kemarin sore Senin (29/9/2025), perasaannya gelisah tanpa diketahui penyebabnya.

Akhirnya berita runtuhnya bangunan musala ponpes tersebut menyebar di grup alumni ponpes.

Ihya adalah lulusan pesantren tersebut pada tahun 2010. Beberapa anggota keluarga besar mereka juga demikian, yaitu pernah menempuh pendidikan di Ponpes Al-Khoziny.

“Tapi kalau saya, sore Senin lalu saya merasa bingung mengapa cuacanya seperti itu. Kejadian diperkirakan terjadi sekitar pukul 3-4 sore, saat saya berada di rumah Surabaya Kalikedinding, saya mendapat informasi ada kejadian musala roboh. Dan setelah mengecek grup WA, ternyata benar,” katanya di RS Bhayangkara Surabaya, pada Minggu (5/10/2025).

Mendengar berita tersebut, Ihya yang tinggal di Kelurahan Tanah Kalikedinding, Kenjeran, Surabaya segera berangkat ke ponpes untuk mengecek kondisi tempat kejadian.

Ternyata, bangunan musala itu merupakan struktur bertingkat yang telah roboh atau hancur hampir seluruhnya hingga sejajar dengan permukaan tanah.

Namun, setelah mendapatkan informasi dari beberapa kerabatnya, ternyata nama Nuruddin, keponakan tersebut menjadi salah satu korban yang hilang.

“Saya tetap berada di sana sejak kejadian, dan baru kembali hari ini, pakaian saya belum diganti sama sekali. Nuruddin adalah keponakan saya,” katanya.

Nuruddin memiliki tubuh yang kurus tetapi berbadan tinggi. Selama ini ia dikenal sebagai anak yang baik, tidak nakal, dan ceria.

Ihya tidak menyangka anak sekecil itu harus kehilangan nyawa dalam kecelakaan yang tidak terduga itu.

Namun, diketahui bahwa Nuruddin meninggal dunia saat melaksanakan Ibadah Salat Asar berjamaah dan tepat pada rakaat kedua.

Ihya benar-benar terkesan mendalam dengan takdir Allah SWT yang ditentukan atas nasib keponakannya.

“Orangnya tidak aneh-aneh. Tidak terlalu banyak bicara. Dia ramah. Meninggal dalam keadaan sedang shalat, Ya Allah,” kata Ihya sambil mengusap dada.

Belasan anggota keluarga Nuruddin menangis histeris ketika melihat peti mati berwarna putih yang berisi jenazah Nuruddin dibawa keluar dari Ruang Rekonsiliasi Kompartemen Dokpol RS Bhayangkara Surabaya, untuk dipindahkan ke mobil ambulan yang akan membawanya ke rumah duka, pada malam Minggu.

Sebelum dibawa ke rumah duka di Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, jenazah Nuruddin dishalatkan bersama dengan jenazah Ahmad Rijalul Haq (16) di Tenda Ruang Tunggu Keluarga Korban RS Bayangkara Surabaya.

Sementara itu, Nuruddin adalah salah satu dari dua jenazah yang berhasil dikenali oleh Tim DVI RS Bhayangkara Surabaya pada Minggu (5/10/2025) sore, berdasarkan kesesuaian identifikasi melalui gigi, data medis, dan barang bawaan.

Kabiddokkes Polda Jatim Kombes Pol dr M Khusnan Marzuki menyampaikan, hingga saat ini Posko DVI RS Bhayangkara Polda Jatim telah menerima 45 kantung jenazah.

Rincian tersebut, 41 di antaranya berisi jenazah utuh, sedangkan empat lainnya terdiri dari bagian tubuh yang ditemukan oleh Tim SAR gabungan dalam operasi pencarian.

Dari 41 jenazah tersebut, sepuluh jenazah berhasil dikenali atau identitasnya telah diketahui.

Bahkan, kedelapan jenazah tersebut telah diserahkan dan dikuburkan oleh keluarga.

Rincian, lima jenazah berhasil diidentifikasi oleh Tim DVI Polda Jatim di RSI Siti Hajar Sidoarjo dan RSUD Sidoarjo, pada Senin (29/9/2025).

Kemudian, tiga jenazah berhasil diidentifikasi pada hari Sabtu (4/10/2025). Dan, dua jenazah berhasil diidentifikasi pada hari Minggu (5/10/2025).

“Dari 45 orang tersebut, 5 di antaranya telah diidentifikasi di Sidoarjo, sedangkan 3 orang sebelumnya sudah dikirim ke keluarga. Jadi totalnya 8 orang. Tambah lagi sekarang ada 2 yang telah teridentifikasi. (Totalnya 10),” kata Kabiddokkes Polda Jatim Kombes Pol dr M Khusnan Marzuki di depan Ruang Jenazah RS Bhayangkara Surabaya.

Di sisi lain, memasuki hari ketujuh, Basarnas mengambil keputusan untuk memperpanjang operasi pencarian korban akibat runtuhnya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo, pada Minggu (5/10/2025).

Waktu pencarian ditambah dua hingga tiga hari ke depan. Salah satu pertimbangannya adalah kemungkinan masih banyak korban yang diduga terkubur di bawah puing.

Setelah keputusan diambil, tim segera kembali bekerja. Ambulans dan dapur umum tetap siaga.

Di sisi lain, masih banyak orang tua santri yang tinggal di sekitar asrama putri.

Kepala Operasi Basarnas Yudhi Bramantyo mengatakan, dalam pencarian pada hari Minggu, tim berhasil menemukan 19 korban.

Seluruh korban dalam kondisi meninggal dunia. Setelah dievakuasi, jenazah langsung dibawa ke Posko DVI RS Bhayangkara Polda Surabaya.

“Pada hari ketujuh ini kami akan terus melanjutkan. Artinya, operasi diperpanjang hingga semua korban benar-benar dapat kami temukan,” kata Yudhi.

Laporan Basarnas hingga hari Minggu (5/10/2025) sore menyebutkan jumlah korban mencapai 149 orang. Dari angka tersebut, 45 di antaranya meninggal dunia.

Sementara dua dari 45 tersebut berupa bagian organ tubuh (body part).

“Lalu yang selamat sebanyak 104 orang. Kami akan terus melanjutkan pencarian seperti hari-hari sebelumnya,” tambahnya.

Baca berita Lintaskriminal.co.id – Lainnya di Google News