Israel Langgar Gencatan Senjata 57 Kali, Tewaskan 38 Warga Gaza

by -48 Views

halopadang.id,GAZA – Kantor media Gaza melaporkan bahwa Israel telah melakukan 57 pelanggaran terhadap gencatan senjata yang dijalin dengan Hamas sejak awal Oktober. Pelanggaran-pelanggaran tersebut mengakibatkan kematian 38 warga Palestina dan cedera pada 143 orang lainnya.

“Pelanggaran ini merupakan tindakan kejahatan tembakan langsung terhadap penduduk sipil, penembakan dan pengintaian yang sengaja dilakukan, serta penangkapan sejumlah warga sipil, yang menunjukkan kebijakan agresi pendudukan yang masih berlangsung meskipun perang telah diumumkan berakhir,” demikian isi pernyataan tersebut.

Salah satu kejadian pelanggaran yang menewaskan banyak korban terjadi pada hari Jumat kemarin. Saat itu, sebuah keluarga yang terdiri dari sembilan orang sedang dalam perjalanan ditembak oleh tank Israel. Seluruh anggota keluarga tersebut gugur.

Jurnalis Muhammad Rabah melaporkan dari Gaza bahwa sembilan jenazah korban pelanggaran gencatan senjata telah dievakuasi. “Para korban pembantaian tersebut terdiri dari tujuh anak-anak, tiga perempuan, dan satu laki-laki, semuanya meninggal secara mendadak,” kata juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, pada hari Sabtu.

Setelah berkoordinasi dengan kantor Palang Merah, tim Pertahanan Sipil berhasil menemukan sembilan orang yang gugur dalam serangan pendudukan Israel yang menyerang sebuah bus yang mengangkut pengungsi di sebelah timur lingkungan Zeitoun kemarin.

Proses evakuasi sembilan jenazah korban penembakan Israel di kawasan Zeitun, Jalur Gaza, pada Sabtu (18/10/2025). – Muhammad Rabah/Dok Lintaskriminal.co.id –

Badan perlindungan sipil Gaza menyatakan bahwa keluarga tersebut berusaha sampai ke rumah mereka di kawasan Zeitoun di Kota Gaza saat bus yang mereka tumpangi diserang, karena dianggap melewati “garis kuning” yang menjadi batas wilayah kendali pasukan Israel.

Mereka telah melewati apa yang disebut ‘garis kuning’, batas imajiner yang disebutkan oleh tentara Israel,” ujar Mahmoud Basal. “Saya yakin keluarga tidak mampu membedakan antara garis kuning dan merah karena tidak ada tanda fisik di lapangan.

Rekaman yang dikeluarkan oleh lembaga pertahanan sipil Gaza menampilkan jenazah keluarga tersebut saat operasi pengambilan bersama dilakukan oleh Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB. Korban terdiri dari tujuh anak-anak dan tiga perempuan.

Pasukan pendudukan Israel (IDF) mengakui bahwa mereka menembak kendaraan yang mencurigakan dan telah teridentifikasi melewati garis kuning serta mendekati pasukan IDF yang bertugas di utara Jalur Gaza. “Pasukan melakukan tembakan untuk menghilangkan ancaman tersebut, sesuai dengan kesepakatan yang berlaku.”

Mahmoud Basal mengungkapkan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari rangkaian pelanggaran yang dilakukan Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 9 Oktober. Berdasarkan kesepakatan tersebut, kelompok perlawanan Palestina akan menyerahkan jenazah 28 tawanan Israel sebagai pertukaran atas pembebasan jenazah warga Palestina dari Gaza yang gugur dalam pembantaian.

Pihak berwenang di Gaza meminta “PBB dan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas perjanjian tersebut untuk segera melakukan tindakan guna memaksa pendudukan menghentikan serangan yang sedang berlangsung serta melindungi warga sipil yang tidak memiliki senjata”.

Di sisi lain, Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa perlintasan Rafah – yang merupakan pintu masuk kunci bagi bantuan – hanya akan dibuka kembali setelah Hamas menyerahkan jenazah semua tahanan yang masih ditahan di Gaza. “Perdana Menteri Netanyahu telah memerintahkan agar perlintasan Rafah tetap ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut,” demikian pernyataan dari kantornya pada hari Sabtu.

“Pembukaan kembali akan dipertimbangkan tergantung pada sejauh mana Hamas memenuhi kewajibannya untuk mengembalikan para tawanan dan jenazah orang yang meninggal, serta menjalankan ketentuan yang telah disepakati.” Militer Israel menyatakan pada malam Sabtu bahwa Palang Merah telah menerima dua jenazah tawanan yang ditahan di Gaza sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata.

Kondisi pencarian jenazah tahanan Israel yang dikuburkan di Khan Younis, Jalur Gaza, pada Jumat (17/10/2025). – (Muhammad Rabah/Dok Lintaskriminal.co.id -)

Israel dan Hamas terus saling menyalahkan terkait pelanggaran gencatan senjata. Israel mengklaim kelompok militer tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan tidak mengembalikan jenazah tawanan yang telah meninggal. Pada Senin, Hamas mengembalikan 20 tawanan terakhir yang masih hidup, tetapi pada malam Sabtu hanya mengembalikan 12 dari 28 tawanan yang meninggal, dengan alasan membutuhkan peralatan khusus untuk mengambil sisa-sisanya dari reruntuhan Gaza.

Pada hari Jumat, kelompok perlawanan Palestina terus melakukan aktivitas penggalian guna menemukan jenazah tawanan Israel yang hilang, yang diperkirakan berada di dalam terowongan perlawanan di Jalur Gaza. Sumber menyebutkan bahwa upaya pencarian fokus dilakukan di kawasan Menara Hamad, sebelah utara Khan Younis, untuk mencari sisa-sisa tawanan Israel yang diketahui hilang di wilayah tersebut.

Mereka juga mencatat kedatangan delegasi Palang Merah untuk mengecek perkembangan pencarian jenazah tawanan Israel. Perlawanan mulai melakukan upaya pengambilan jenazah guna diserahkan sesuai ketentuan perjanjian gencatan senjata. Namun, keterbatasan alat yang diperlukan serta penolakan Israel terhadap pengiriman tim khusus untuk bantuan telah menghambat proses pencarian tersebut.

Kondisi pencarian jenazah tahanan Israel yang terkubur di Khan Younis, Jalur Gaza, Jumat (17/10/2025). – Muhammad Rabah/Dok Lintaskriminal.co.id –

Dalam sebuah pernyataan, gerakan tersebut menyebutkan bahwa proses pemulihan jenazah membutuhkan waktu lama, karena sebagian dari mereka dikuburkan di dalam terowongan yang hancur akibat serangan pasukan Israel, sementara yang lainnya terkubur di bawah puing-puing. Hamas menekankan bahwa pengambilan jenazah tersebut memerlukan alat berat untuk penggalian, yang saat ini tidak tersedia karena larangan masuk dari pihak Israel.

Gerakan tersebut menyatakan bahwa keterlambatan dalam pengiriman jenazah disebabkan oleh pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang menghalangi pengadaan sumber daya yang dibutuhkan.