Kebiasaan Ismet yang Intimidasi Dokter Syahpri dan Paksa Buka Masker, Ngaku Saudara Bupati

by -126 Views

Lintaskriminal.co.id –– Terungkapnya kebohongan Ismet Syaputra, anggota keluarga pasien yang melakukan intimidasi dan memaksa dokter Syahpri melepas masker di RSUD Sekayu.

Sementara itu, Ismet Syaputra pernah mengakui bahwa ia berasal dari keluarga Bupati Musi Banyuasin (Muba).

Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, Trisnawarman, Ismet mengklaim dirinya sebagai bagian dari keluarga Bupati Muba, Toha Tohet.

Benar, dia pernah mengklaim bahwa dia adalah anggota keluarga Bupati (Muba), orang dari Bupati.

Setelah diverifikasi dengan Bupati, ternyata tidak, timnya juga tidak,” ujar Kepala Dinkes Sumatera Selatan, Trisnawarman, dilaporkan Lintaskriminal.co.id – dari Tribun Jakarta, Senin (18/7/2025).

Pada pertemuan di RSUD Sekayu pada 14 Agustus lalu, Bupati Muba menegaskan bahwa kasus dugaan perlakuan tidak sopan terhadap dokter Syahpri harus ditangani secara hukum.

“Ya, Bapak Bupati meminta diselesaikan hingga tuntas, meskipun sudah tercapai perdamaian. Proses hukum tetap berjalan. Sekarang hanya tinggal proses di Polres Muba,” katanya.

Anggota tim Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah langsung datang ke RSUD Sekayu guna memberikan dukungan semangat kepada dokter Syahpri.

“Bupati juga menyampaikan agar tidak takut, Forkopimda Muba berada di belakang dr. Syahpri. Penanganan kasus ini harus selesai secara tuntas,” tegas Trisnawarman.

Perselisihan antara keluarga pasien dan dokter Syahpri Putra Wangsa yang terjadi di RSUD Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, masih berlangsung.

Dokter Syahpri Dituduh Lebih Dahulu Bersikap Kasar

Di sisi lain, perwakilan keluarga pasien, Ismet Saputrawijaya, angkat bicara mengenai kejadian yang viral tersebut.

Ia justru menyalahkan dokter Syahpri yang lebih dahulu bersikap kasar terhadap mereka.

Dokter Syahpri menatap tajam dan mengucapkan kalimat “jangan tidak bersyukur” ketika ia mengeluh tentang penanganan ibunya yang sedang terbaring di tempat tidur rumah sakit.

Ismet mengakui awalnya bertanya apakah ada kemungkinan tindakan medis lain yang lebih cepat.

Karena kondisi ibu semakin melemah.

Namun, jawaban yang diberikan oleh dokter Syahpri menurutnya tidak memenuhi ekspektasi.

Kondisi semakin memburuk setelah menerima tanggapan yang tidak mengenakkan.

Pada saat itu saya bertanya mengapa harus menunggu selama lima hari, apakah tidak ada cara lain yang lebih cepat. Ia menjawab, “Kamu sabar, jangan tidak bersyukur”. Ia berkata sambil menatap tajam. Itulah sebabnya saya menjadi marah di saat itu,” kata Ismet seperti dikutip dari YouTube MCM Net Channel yang tayang pada Sabtu (16/8/2025).

Ismed menyatakan bahwa sikap dokter justru yang lebih dahulu memicu ketegangan.

Peristiwa tersebut akhirnya memicu perselisihan hingga menjadi viral di media sosial.

Dalam video pendek yang menyebar di media sosial, dokter Syahpri mengalami hinaan hingga maskernya dilepas paksa oleh keluarga pasien.

Keluarga pasien juga meminta agar rekaman kamera pengawas rumah sakit tersebut dipublikasikan kepada masyarakat guna mengungkap alur kejadian yang sebenarnya.

Menurut Ismet, video yang beredar di media sosial hanya memperlihatkan sebagian dari kejadian tersebut.

Video tersebut tidak menyajikan urutan kejadian secara lengkap.

Karena video sepotong yang menyebar luas, masyarakat menganggap penilaian tidak adil karena hanya melihat keluarga pasien yang terlihat emosional dalam rekaman tersebut.

“Sesungguhnya telah terjadi mediasi dengan pihak rumah sakit. Bahkan, kami sudah saling meminta maaf. Namun, tiba-tiba informasi ini viral, dan terkesan kami yang bersalah,” katanya sebagaimana dilaporkan oleh YouTube MCM Net Channel yang tayang di YouTube pada Minggu (16/8/2025).

Anggota keluarga pasien pernah mempertanyakan mengenai rekaman CCTV di ruangan tersebut agar dapat menunjukkan kepada masyarakat tentang alur kejadian yang sebenarnya.

Namun, mereka belum memiliki kesempatan untuk memperoleh rekaman tersebut.

Saya telah meminta CCTV kepada petugas yang bertugas, tetapi mereka mengatakan bukan kewenangannya. Bahkan Komandan Regu keamanan menyebutkan bahwa rekamannya hilang akibat petir. Jika CCTV diaktifkan, masyarakat bisa melihat bagaimana awalnya,” tambahnya.

Artikel ini sudah diterbitkan di TribunJakarta

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti pula informasi lainnya diFacebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan