Mengenal AI Psychosis: ChatGPT dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

by -125 Views

Chatbot kini menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia pada masa kini. Banyak orang memilih alat seperti ChatGT, bukan hanya untuk bantuan dalam pekerjaan, tetapi juga untuk mendapatkan saran hubungan, dukungan psikologis, serta mencari teman.

Namun, bagi sejumlah kecil pengguna, percakapan ini terlihat mengganggu, Ibu.

Semakin banyak laporan mengungkapkan bahwa penggunaan chatbot dalam jangka panjang mungkin memicu atau memperburuk gejala psikotik pada sebagian individu. Dampaknya bisa sangat merusak.

Pengguna menghubungkan gangguan mental mereka dengan kehilangan pekerjaan, hubungan yang rusak, penahanan psikiatrik yang tidak diinginkan, bahkan penangkapan dan hukuman kurungan.

Mengenal AI psychosis

Fenomena ini terkadang disebut AI psychosis atau ChatGPT psychosis. Belum ada diagnosis yang resmi, data yang tersedia terbatas, dan belum ada protokol pengobatan yang jelas.

Dilansir dari laman TIME,istilah ini muncul sebagai akronim untuk pola yang menimbulkan kekhawatiran.AI psychosisdianggap sebagai individu yang mengalami delusi atau keyakinan yang tidak biasa, yang tampaknya muncul atau semakin kuat akibat komunikasi dengan sistem kecerdasan buatan.

Psikosis mungkin sebenarnya istilah yang tidak tepat. Hal ini diungkapkan oleh seorang profesor di departemen studi psikosis di King’s College London, Dr. James MacCabe.

Kata tersebut umumnya mengacu pada sejumlah gejala, gangguan pikiran, halusinasi, dan kepercayaan yang tidak realistis, yang sering ditemukan pada kondisi seperti gangguan bipolar dan skizofrenia. Namun, dalam situasi ini, fokus utamanya adalah pada delusi, bukan seluruh spektrum psikosis.

Peristiwa ini tampaknya menggambarkan kepekaan yang sudah biasa terjadi dalam situasi yang baru, bukan gangguan yang baru, menurut para psikiater.

Hal ini sangat berkaitan dengan cara chatbot berinteraksi. Secara desain, chatbot meniru bahasa pengguna dan mengonfirmasi asumsi mereka.

Meskipun banyak orang merasa terganggu, para pakar mengingatkan bahwa hal ini berpotensi memperkuat cara berpikir yang tidak normal pada individu yang lebih rentan.

Siapa saja yang berisiko mengalami AI psychosis?

Dilansir dari laman Psychology Today,Para ahli masih belum sepenuhnya memahami penyebab seseorang rentan mengalami psikosis yang terkait dengan AI. Namun, sering berinteraksi dengan chatbot AI dan mengurangi interaksi dengan sesama manusia tampaknya menjadi faktor risiko yang signifikan.

Meskipun sebagian besar orang dapat memanfaatkan chatbot tanpa kendala, para pakar menyatakan bahwa sekelompok kecil pengguna mungkin sangat rentan terhadap ilusi setelah menggunakan dalam jangka panjang.

Beberapa berita media mengenai kecerdasan buatan Beberapa pemberitaan media tentang teknologi AI Beberapa laporan pers terkait dengan kecerdasan buatan Beberapa artikel media mengenai artificial intelligence Beberapa informasi dari media tentang AIpsychosismencatat bahwa individu tersebut tidak memiliki riwayat diagnosis gangguan kesehatan mental sebelumnya. Namun, dokter mengingatkan bahwa faktor risiko yang belum terdeteksi atau terselubung kemungkinan masih ada.

“Saya pikir penggunaan chatbot sendiri tidak mungkin menyebabkan psikosis jika tidak ada faktor risiko genetik, sosial, atau faktor lain yang berkontribusi,” kata Dr. John Torous, seorang psikiater di Beth Israel Deaconess Medical Center.

“Namun, orang-orang mungkin tidak menyadari bahwa mereka berisiko terhadap hal tersebut,” tambahnya.

Cara untuk tetap aman saat menggunakan chatbot Langkah-langkah agar tetap nyaman dalam penggunaan chatbot Tips agar bisa menggunakan chatbot dengan aman Cara menjaga keamanan saat berinteraksi dengan chatbot Panduan agar tetap aman saat menggunakan layanan chatbot

Chatbot pada dasarnya aman, Ibu. Namun, bagi beberapa orang, tetap perlu waspada.

Seorang psikolog menyarankan agar segera berhenti menggunakan chatbot saat menghadapi krisis atau tekanan emosional yang sederhana.

Mengakhiri sebuah hubungan bisa sangat menyebabkan rasa sakit, seperti mengalami patah hati atau bahkan keduanya. Namun, dengan menjauh dapat menghasilkan perubahan yang luar biasa, terutama ketika seseorang kembali berhubungan dalam dunia nyata dan mencari bantuan dari ahli profesional.

Sahabat dan anggota keluarga juga perlu memperhatikan perubahan suasana hati, kebiasaan tidur, atau perilaku sosial, termasuk tanda-tanda isolasi diri.

Pilihan Redaksi
  • Kesehatan Mental Generasi Z di Era Digital, Apakah Rentan Mengalami Depresi?
  • Kenali Tanda-Tanda Depresi Bersembunyi, Terlihat Bahagia Meski Kelelahan Emosional
  • Apakah Karyawan Generasi Z Paling Rentan Mengalami Kelelahan dan Stres Saat Bekerja?

Nah, berikut beberapa hal yang bisa Ibu ketahui mengenaiAI psyhcosis. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk joinkomunitas Lintaskriminal.co.id -Squad. Daftar dan klikdi SINI. Gratis!