Pengakuan Mengejutkan Tetangga soal Brigadir Esco, Korban Jarang Bersosialisasi

by -133 Views

Lintaskriminal.co.id -, Lombok Barat– Pengakuan mengejutkan dari tetangga Brigadir Esco Faska Rely, menyebut bahwa korban jarang berkomunikasi dengan warga sekitar karena sering tidak berada di rumah.

Temuan jasad Brigadir Esco Faska Rely, anggota Polsek Sekotong, Lombok Barat menimbulkan banyak pertanyaan bagi masyarakat.

Salah satunya adalah tidak adanya bau busuk meskipun Brigadir Esco telah meninggal beberapa hari. Hal ini terlihat dari jasad korban yang mengembang dan hampir tidak dapat dikenali.

Jenazah Brigadir Esco ditemukan dalam keadaan terikat tali di lehernya di taman yang tidak jauh dari rumahnya.

Satu kecamatan yang berada di Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Daerah ini terkenal dengan potensi wisata yang sangat menjanjikan. Sekotong terletak di sisi barat daya Pulau Lombok. Wilayah ini ditandai oleh dataran tinggi, teluk, serta pantai yang menarik.

Keunggulan utama Sekotong berada di bidang pariwisata. Terdapat banyak pantai serta rangkaian pulau-pulau kecil (gili) yang masih alami dan tidak terlalu ramai dibandingkan gili di wilayah utara Lombok. Beberapa gili yang terkenal antara lain, Gili Nanggu, Gili Sudak dan Gili Kedis, serta Gili Gede.

Selain kepariwisataan, penduduk Sekotong juga melakukan berbagai kegiatan di bidang perikanan dan pertanian. Pemerintah setempat melihat Sekotong sebagai wilayah penting untuk pembangunan di masa depan Kabupaten Lombok Barat.

“Tidak ada bau busuk itu, baunya muncul saat (jasad Brigadir Esco) ditemukan, kemarin tidak ada, apalagi ini (TKP) dekat rumah,” kata Anisah, warga yang tinggal sekitar 10 meter dari lokasi penemuan jasad, Senin (25/8/2025), seperti dikutipLintaskriminal.co.id – dari TribunLombok.com.

Anisah, yang tinggal sendirian karena suaminya sedang bekerja di Sumbawa, juga tidak mendengar suara aneh sebelumnya. Padahal, tempat penemuan jenazah berada tepat di belakang rumahnya.

Tidak adanya aroma busuk maupun tanda-tanda lain memicu kecurigaan warga, bahwa kematian Brigadir Esco bukan disebabkan oleh bunuh diri seperti yang dilaporkan.

“Jika ada bau pasti kita curiga, tapi ini sama sekali tidak ada, apalagi katanya sudah membusuk,” katanya.

Menurut Anisah, taman di mana jenazah ditemukan jarang dikunjungi oleh warga karena termasuk lahan milik pribadi dari masyarakat luar desa.

Ia menegaskan, selama ini ia tidak pernah berkomunikasi langsung dengan almarhum Brigadir Esco.

“Figur almarhum ini tidak pernah saya ajak berinteraksi, karena memang saya juga jarang keluar, saya tidak mengenalnya, dia jarang ada di rumah, setiap hari hanya pergi piket saja,” tambahnya.

Kekurangnormalan juga disampaikan oleh keluarga korban, termasuk mertua Brigadir Esco, H. Saiun, yang menjadi orang pertama yang menemukan jenazah menantunya.

Saiun menjelaskan, posisi korban yang diikat tali tidak meluncur dari atas ke bawah, tetapi dari samping dengan kondisi tergantung pada pohon yang cukup kecil.

“Masyarakat di sini tidak ada yang percaya dia meninggal karena gantung diri, apalagi ketika saya pertama kali menemukannya, tali yang menggantung lehernya itu longgar, dan juga posisinya dia terlentang miring,” kata Saiun.

Saiun juga mengatakan bahwa selama ini menantunya dikenal sebagai pribadi yang baik, tidak memiliki masalah dengan masyarakat maupun keluarganya.

Brigadir Esco dilaporkan mulai tidak dapat dihubungi sejak 19 Agustus 2025. Keluarga berusaha mencarinya, bahkan sampai meminta bantuan dukun.

“Saya bersama istrinya sempat mencari keberadaannya (Brigadir Esco), hingga kami pernah menggunakan dukun, tetapi tetap tidak menemukannya,” katanya.

Ia mengakui sedih karena cucunya, putra kedua Brigadir Esco, terus-menerus bertanya tentang keberadaan ayahnya.

“Sedih rasanya ketika anak paling kecil bertanya, di mana Bapak? Saya rindu Bapak? Saat itu saya langsung mengirim pesan melalui WA, tanyakan di mana kamu, kapan pulang, semoga dia bisa terbuka kepada saya,” katanya.

Namun, pesan itu tidak pernah mendapat respons. Status pesan hanya menunjukkan tanda centang satu, yang mengindikasikan bahwa pesan belum pernah diterima oleh ponsel korban.

Berita selanjutnya Keraguan Keluarga Saturi Melihat Rumah Gelap, Ternyata Sang Kakek Telah Meninggal